Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Gongka, Cerita-Cerita dari Pecinan Jakarta

Gongka, Cerita-Cerita dari Pecinan Jakarta

Dua puluh tiga tahun lalu, dua hari menjelang Hari Onde, Papa meninggal. Tak ada lagi onde manis berisi kacang yang menempel di gigi sejak kepergian Papa, tetapi kehangatannya terus lekat di hatiku.

Sebuah penggalan paragraf dari novel Gongka tersebut menyiratkan bahwa makanan tak hanya sebuah benda yang bisa membuat manusia merasa kenyang dan tercukupi nutrisinya. Lebih dari itu makanan adalah bentuk keterampilan, kasih sayang, juga kenangan. Membaca novel Gongka bagaikan membaca sebuah diari seseorang yang sedang mengenang masa-masa kecilnya. Seru, sederhana, dan manis. Novel ini cukup berbeda dengan novel-novel pada umumnya yang memiliki alur yang perlu dicermati. Kisah Gongka dalam novel ini bagai fragmen-fragmen memori yang dikumpulkan menjadi beberapa judul cerita pendek yang tak perlu dibaca berurutan.

Tokoh Aku yang diberi nama panggilan Gongka tak lain adalah penulis sendiri. Frisca Saputra memiliki nama lahir Yap Mu Yung, tetapi papanya sering memanggilnya Gongka. Dalam bahasa Hokkian, Gongka kurang lebih berarti “bocah tolol”. Namun sang Papa sama sekali tak bermaksud menggunakan nama tersebut untuk memaki anak perempuannya. Nama itu justru diberikan sebagai salah satu bentuk rasa cinta yang besar dari seorang Papa yang bisa menemukan sisi unik dalam diri anaknya.

Kembali lagi ke soal makanan dalam novel ini. Penulis menempatkan makanan sebagai pintu masuk pembaca untuk mengenal lebih dalam soal kehidupannya dan keluarganya di sebuah rumah tinggal mereka di Pecinan Jakarta. Rumah yang berada di dalam sebuah gang itu menyimpan beragam cerita gembira dan menyentuh. Kedua orang tua Gongka bekerja sebagai penjual kue tradisional. Dalam buku tergambar bahwa Mama dan Papa adalah dua orang pekerja keras dan bertanggung jawab.

Hari-hari Gongka bagai tak lepas dari makanan-makanan lezat. Makanan rumah hampir selalu menjadi hal yang dirindukan bagi siapapun yang sedang pergi jauh dari rumah. Makanan adalah memori sekaligus manifestasi dari hal-hal baik dalam kehidupan. Meskipun dalam beberapa pengalaman lain, makanan bisa menjadi bagian dari trauma atau hal-hal yang yak diinginkan. Namun, dalam kisah Gongka segala makanan yang dimasak oleh Papa selalu berkesan bagi Gongka dan anggota keluarganya. Lewat masakan, seperti bihun bebek, onde, bubur ubi, maupun dadar tiram Papa menuangkan rasa cintanya pada keluarga. Bahkan Gongka tak ragu menyebut Papanya sebagai juru masak terhebat. Menariknya penulis memberikan resep beberapa makan tersebut di dalam buku ini!

Selain melalui makanan, konsep kekeluargaan dalam novel ini digambarkan melalui rutinitas sehari-hari. Rasa hangat, aman, dan kegembiraan dalam sebuah keluarga muncul dari kegiatan-kegiatan yang sederhana, seperti membersihkan rumah, merayakan hari raya, jalan-jalan, membeli jajanan, bertegur sapa dan bermain bersama tetangga, dan sebagainya. Penulis juga begitu rinci mendeskripsikan tentang rumah masa kecil Gongka. Tak ada kemewahan dan hal-hal yang menakjubkan, tetapi melalui narasi ini pembaca dapat menangkap suasana yang sederhana, terasa nyata serta hangat. Hampir setiap halaman dalam buku ini disertai ilustrasi yang menarik dan membuat narasi tentang Gongka dan kesehariannya menjadi lebih hidup. Pembaca juga dapat merasakan bagaimana keluarga Gongka hidup dengan identitas mereka sebagai warga keturunan Tionghoa. Ada tradisi-tradisi yang begitu menarik untuk dipahami dan juga menyentuh hati.

Gongka adalah cerita yang ringan dan sederhana, tetapi membawa makna yang dalam terutama tentang apa itu keluarga. Ia tak terkesan bertele-tele dan meromantisasi suatu keadaan. Cerita Gongka tertulis apa adanya. Novel ini merupakan karya pertama dari Frisca Saputra. Lewat karya pertamanya ini pembaca akan mendapatkan pesan bahwa setiap keluarga memiliki perjuangan tersendiri. Bahagia atau tidaknya sebuah keluarga bergantung pada bagaimana tiap-tiap anggota keluarganya memaknai perjuangan itu. Kekompakan bisa diusahakan, tetapi rasa syukur harus selalu ada.


Penulis: Frisca Saputra
Penerbit: baNANA Publishing
Tahun terbit: 2026 (Cetakan ke-4)
Jumlah halaman: 138 halaman

#kulturalulasbuku
#sastraindonesia
#gongkacerita-ceritadaripecinanjakarta
#penulisindoneisia
#BudayaBaca
#maribaca
#novelindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.