Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Pameran Di Mata Dekat, Melihat Karya Seni Rupa Berupaya Menaklukan Ruang-Ruang di Dialogue Art Space

Pameran Di Mata Dekat, Melihat Karya Seni Rupa Berupaya Menaklukan Ruang-Ruang di Dialogue Art Space

Diantara keriuhan dunia seni rupa dengan berbagai aliran, baik itu moderen, kontemporer ataupun tradisi, sebuah pameran mencoba mengisi ruang diantaranya. Maka lahirlah ide pameran seni rupa Di Mata Dekat. Bertempat di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang Jakarta Selatan. Pameran yang digagas oleh Joko Koentono ini berlangsung mulai 30 Mei–10 Juni 2026 dan terbuka untuk umum.


Di era post truth, disurpsi hingga kegemaran akan non formalisnya, Joko Koentono mencoba menyajikan pameran seni rupa yang berbeda. Tidak terkukung oleh ruang kotak dan dengan jajaran kanvas-kanvas, malah ruang galeri di Dia.Lo.Gue Art Space dikosongkan dan karya-karya disebar untuk merespon ruang–ruang yang ada.


“Pameran ini jauh dari konsep berat, kuratorial dengan bahasa njelimet, semua lebih dekat dan cair. Tidak hanya ditempatkan dekat dengan pengunjung, karya-karya yang ditampilkan juga mudah dicerna, hingga dekat dengan keseharian kita, mudah dinikmati, lalu turun ke hati, “ ujar Joko Koentono, inisiator pameran ini menjelaskan.

Setelah berkeliling ke teman-teman seniman. Terpilih lah 3 perupa yang sesuai dengan kriteria yang diajukan. Mereka adalah Radetyo Itok, Hagung Sihag dan Bre Nomame.


“Konsep pameran bersama ini adalah contrapunk, suatu keharmonisan ditengah perbedaan gaya berkarya yang kemudian disatukan dalam satu pameran”, kata Joko.

Radetyo Itok, menyajikan karyanya bergaya drawing dengan berbagai media, semuanya dengan warna hitam putih. “ saya menampilkan karya drawing saya dengan tema spiritual dan idealisme saya. Bagi saya hitam putih adalah kejujuran dan ketegasan. Tidak ada diantaranya. Gelap terang, baik jahat, hitam dan putih. Semua saya sajikan dengan gaya pop surealis.” Kata Itok menjelaskan.

“Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi yang berbeda, tetapi juga pengalaman yang menarik untuk saya, bagaimana menaklukan ruang-ruang ada di tempat ini,“ ujar seniman asal Yogyakarta ini.

Ada Hagung Sihag, seorang akademisi salah satu kampus swasta di Jakarta, menyajikan karyanya yang lekat dengan tokoh tradisi pewayangan, Petruk. Pria asal kediri ini sudah dekat dengan kebudayaan tradisi, wayang dan ketoprak sejak kecil. Berbagai tokoh cerita tradisi menjadi obyek karyanya yang kemudian diangkat dalam tema atau cerita baru di keseharian kita.


“Di waktu saya yang terbatas sebagai pendidik, saya membuat karya saya secara digital, yang kemudian ditempatkan ke dalam berbagai media dan material, baik itu kain, kanvas, hingga besi dan kertas, “ ujar pak dosen.

Lalu yang terakhir ada Bre Nomame, yang tak lain dan tak bukan adalah Joko Koentono sendiri. Hal ini dikarenakan, seniman ketiga pilihannya mundur sekitar sebulan sebelum pameran dilaksanakan. Joko tidak mau mencantumkan namanya secara langsung, namun memilih untuk menampilkan nama lain sebagai respon etik.


Bre Noname menyajikan karya ekspresionis, bermain dengan garis dan goresan warna. Baik di media kertas atau kanvas.
Jika masyarakat ingin mengunjungi pameran seni rupa dengan suasana berbeda, yang tidak ditata dalam dinding galeri, namun menyatu dalam ruang-ruang obrolan dan makan. Menikmati sajian seni sambil diskusi soal kerjaan dan menyeruput kopi, menjadi suatu pengalaman apresiasi seni yang menarik dan asyik.

Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia

#senirupaindonesia
#pamerandimatadekat
#perupaindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.