Dian Suci, Perupa Yogyakarta Peraih Max Mara Art Prize for Women 2026-2027
Dian Suci, Perupa asal Yogyakarta, telah memenangkan Max Mara Art Prize for Women edisi ke-10 (periode 2025 -2027). Pengumuman pemenang dilangsungkan bertepatan dengan pembukaan Venice Biennale ke-61 di Italia, pada Rabu, 7 Mei 2026.
Dian Suci merupakan pemenang dari 5 kandidat Indonesia yang dipilih oleh dewan juri, yang terdiri dari kurator Cecilia Alemani, bersama Direktur Museum MACAN Venus Lau, kurator Amanda Ariawan, galeris Megan Arlin, kolektor Evelyn Halim, dan perupa Melati Suryodarmo. Ia menjadi perupa Indonesia pertama yang meraih penghargaan bergengsi ini sejak didirikan pada 2005.
Dengan penghargaan tersebut, Dian Suci akan menjalani residensi selama enam bulan berkeliling Italia: dari Assisi, Roma, Lecce, hingga Firenze, yang diselenggarakan oleh Collezione Maramotti. Hasil dari residensi tersebut, Dian Suci akan menggelar pameran tunggal di Museum MACAN, Jakarta, pada musim panas 2027, dan kemudian akan dipresentasikan kembali di Collezione Maramotti, Reggio Emilia, Italia.

KI: Anda baru saja menerima penghargaan bergengsi dari Max Mara, bisa ceritakan proses dari awal diundang untuk ikut ajang perhargaan inikah, kapan, dan kenapa mau ikut serta dalam seleksi?
DS: Pada sekitar pertengahan tahun 2025 (saya lupa persisnya), juri-juri dari Indonesia mengumpulkan CV dan portfolio seniman-seniman perempuan Indonesia, dan saya salah satunya. Dari situ kemudian mereka memilih lima seniman yang kemudian diminta untuk membuat proposal dan mempresentasikannya secara langsung di depan para juri. Presentasi dilakukan di Jakarta pada akhir Oktober 2025, di area gedung yang sama dengan MACAN. Saya bersyukur menjadi salah satu dari lima finalis meskipun saya tidak pernah berpikir akan menjadi pemenang. Saya berusaha meneruskan langkah dengan mengajukan proposal dan mempresentasikannya karena saya rasa ini adalah kesempatan yang sangat istimewa.
KI: Lalu apa saja persyaratan dan apakah ada proposal atau ada contoh karya yang diminta untuk diperlihatkan?
DS: CV sekaligus portfolio, lalu disusul dengan presentasi proposal. Kami tidak diminta secara langsung menunjukkan karya, semua ada di portfolio dan kami hanya mempresentasikan proposal yang kami ajukan.
KI: Apa arti penghargaan ini untuk Anda pribadi? Dan rencananya dalam 6 bulan residensi di kota2 di Italia, apakah sudah terbayang karya apa yang akan dibuat nanti?

DS: Selain sebagai dukungan yang memperpanjang napas dalam terus belajar dan membuat karya, penghargaan ini juga merupakan pengakuan, bahwa karya saya diterima. Ini juga membantu saya untuk lebih menghargai upaya saya sendiri selama ini. Saya belum dapat membayangkan karya apa yang akan saya buat nanti secara visual, meski temanya sudah pasti mengikuti proposal yang saya buat.
KI: Bisa diceritakan soal masa kecil Anda, apakah sudah terlihat bakat dalam senirupa, bagaimana dengan dukungan keluarga?
DS: Saya mengakui sewaktu kecil saya gemar melakukan kegiatan kreatif seperti menggambar dan membuat kerajinan tangan. Hasilnya cukup bagus dalam ingatan saya. Namun menjadi seniman barangkali tidak terpikir oleh saya, sebab profesi ini kurang dipahami oleh orang tua saya, jadi tidak pernah ada perbincangan di rumah mengenai profesi ini. Sehingga ketika saya yang awalnya kuliah di jurusan Arsitektur, kemudian justru lebih sering membuat karya dan ikut berpameran, orang tua cukup kecewa pada saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, mereka dapat melihat bahwa saya sangat menyukai bidang ini dan percaya saya dapat bertahan di sini. Dukungan terbesar justru muncul dari anak-anak saya, karena sedari kecil mereka sudah terpapar dengan proses kreatif saya, sehingga mereka selalu tertarik dan menantikan apa yang saya kerjakan.
KI: Karya pertama Anda apa dan bagaimana membuatnya? Ide dan prosesnya.
DS: Jujur saya cukup bingung yang mana karya pertama saya sebenarnya. Sebelum menjadi seniman kontemporer, saya banyak membuat karya kerajinan tangan dan menjualnya. Jadi jika saya ingin menyebut hasil kerajinan tangan sebagai sebuah karya, maka karya pertama saya mungkin berupa sulaman dan hasil sablon di atas kain, yang kemudian saya olah jadi produk yang bisa dipakai. Namun untuk pameran pertama, saya pernah membuat karya-karya dengan judul keseluruhan Katanya, Oh, Katanya. Pamerannya diadakan di LIR, sekitar tahun 2016. Saya membuat karya bermedium air dry clay yang dilukis menggunakan acrylic. Idenya mengenai informasi yang terus bergulir dengan adanya perkembangan teknologi, yang seringkali sulit kita sangka bagaimana akhirnya, atau bahkan awalnya. Sebab dalam proses penyebarannya terdapat kemungkinan penambahan atau bahkan pengurangan konten informasi itu sendiri. Saya menggunakan medium air dry clay yang semula saya bentuk seperti bola, lalu memipihkannya dengan kayu silinder dan membiarkan bagaimana medium tersebut melebar dan membentuk dirinya sendiri. Sesuai kondisi bagaimana informasi menyebar. Waktu itu saya masih belajar tentang seni.
KI: Bagaimana akhirnya Anda memutuskan untuk menjadi seniman sebagai profesi Anda? apa pertimbangan Anda?

DS: Saya punya banyak pertanyaan dan perasaan yang ingin saya keluarkan, namun saya ingin mengungkapkannya dengan bahasa metafora. Saya merasa seni adalah medium yang paling nyaman untuk membicarakan sesuatu yang kemudian dapat membuka dialog karena dapat ditangkap secara prismatis. Saya senang membuat karya, ketika itu jadi profesi, saya anggap sebagai ketidaksengajaan yang mewah.
KI: Bagaimana proses Anda dalam berkarya, dari ide, inspirasi dari mana lalu ke konsep hingga menjadi karya utuh? Bedakah prosesnya antara ide sendiri dan pesanan dari pihak lain?
DS: Setiap karya bisa punya proses yang berbeda dengan karya lainnya. Saya kurang bisa menjelaskannya secara mentah. Ide biasanya berawal dari isu yang dekat dengan kehidupan saya. Saya banyak membicarakan mengenai isu-isu perempuan, tubuh yang bekerja, memori, dan domestik, karena itu semua ada dalam diri saya atau dekat dengan hidup saya. Kemudian dari isu-isu yang intim tersebut saya pertanyakan kaitannya dengan struktur sosial dan sistem politik yang lebih luas. Sampai saat ini komisi yang saya terima biasanya memiliki relevansi dengan isu-isu yang biasa saya bicarakan, jadi proses pendalamannya tidak jauh berbeda.

KI: Apakah Anda juga membaca buku? dan atau film, apa buku bacaan favorit atau film favorit, dan kenapa?
DS: Saya sangat menyukai buku The Book of Disquiet oleh Fernando Pessoa, Bon Suwung oleh Gunawan Maryanto, juga Kuil Kencana oleh Yukio Mishima yang kebetulan diterjemahkan oleh Asrul Sani dan saya menggemari terjemahan beliau. Selain itu masih banyak buku lainnya yang saya suka, terutama sastra. Saya sulit menyebutkan film yang saya suka karena terlalu banyak. The Taste of the Tea, Nobody Knows, Taste of Cherry, dan masih banyak lagi. Selain itu saya juga penggemar anime.
KI: Apakah ada pesan untuk seniman-seniman muda yang baru mau meniti karir sebagai seniman/perupa?
Pikiran kita cenderung terikat dengan masa lalu dan banyak mencemaskan masa depan, sehingga hampir selalu melewatkan saat ini. Momen saat ini sebenarnya krusial, barangkali bisa coba diterapkan dalam membuat karya, dan rasakan bedanya. Syukur-syukur bisa diterapkan dalam keseharian juga.
Foto: Dok. DS
#MudaBerbudaya
#senirupaindonesia
#perupaindonesia
#senikontemporerindonesia
#maxmaraartprize
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
