Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Alam Mitis Bergulat dengan Alam Kosmopolit

Alam Mitis Bergulat dengan Alam Kosmopolit

Tuhan Padi, Kumpulan Puisi
Kiki Sulistyo.
Penerbit: Halaman Indonesia & Akar Pohon,
Cetakan Pertama, Oktober 2021.
56 halaman 

Sekilas, ini masalah modernisasi yang mungkin dirasa telah basi: pergulatan alam desa, daerah yang masih punya alam yang “murni”, dengan urbanisasi yang menggusur tradisi, mitos-mitos lokal yang memberi keajegan hidup bermasyarakat bergaya paguyuban, alam romantik yang dirindu para penyair Rimbaudian. Tapi, Kiki Sulistyo membuat pergulatan itu tetap relevan, bahkan menjadi sumber kreatif dan sumber puitik yang masih terasa kaya. 

Setidaknya, itu yang terbaca dalam buku kumpulan puisi ini. Kumpulan puisi yang memenangi penghargaan buku sastra terbaik 2021 kategori puisi dari Tempo, Januari lalu. Saya selalu menikmati kumpulan puisi Kiki. Saya selalu bisa percaya, kumpulan-kumpulan puisinya disusun bukan sekadar demi banalitas “aku terbit, maka aku ada”. Ada ketelatenan dan perhatian yang mengandung pathos, semacam cinta yang keras kepala terhadap segala aspek sastra dan penerbitan sastra, dalam cara Kiki mengumpulkan puisi-puisinya menjadi buku. 

Perhatikan saja tahun terbit puisi-puisinya di buku ini. Sebagai latar, Kiki telah menerbitkan buku-buku puisi berjudul Hikayat Lintah (2014), Rencana Berciuman (2015), Penangkar Bekisar (2015), Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? (2017), Rawi Tanah Bakarti (2018), dan Dinding Diwani (2020). Dalam buku ini, ada puisi-puisinya dari 2011 (paling tua), 2013, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, dan 2020. 

Pada delapan puisi pertama, tercantum tahun-tahun selesai pembuatan puisi-puisi itu. Ada Lagu Kebangsaan Penyelam (2014) di bagian awal, dan ada Tungro (2011) di bagian akhir. Tampaklah, Kiki tidak menyusun kumpulan ini secara kronologis. Kiki menyimpan sebagian puisinya, tak ia masukkan ke dalam kumpulan-kumpulan yang terbit terdahulu, dan baru memuatnya sekarang. Hal serupa juga terjadi pada kumpulan-kumpulan terdahulunya. Ia membuat keputusan estetik yang tak sekadar mengumpul-ngumpulkan puisi agar memenuhi jadi buku. 

Artinya, ada upaya untuk membuat alur yang mengalir dalam buku ini. Ada alur. Dan ada alir. Tentu, praktik ini adalah hal yang cukup lazim dilakukan oleh para penyair. Sejak zaman Angkatan Pujangga Lama, Pujangga Baru, atau Angkatan Chairil Anwar pun hal ini dilakukan –menyusun kumpulan puisi dengan memperhitungkan alur dan alir, bukan sekadar umplek jadi buku. Justru itu yang saya sukai dari kumpulan-kumpulan puisi Kiki sejauh yang saya baca: ia mewarisi pendekatan “old school” dalam menyusun kumpulan puisi. 

Senada dengan pendekatannya dalam menulis puisi: ia tampak tak terlalu risau tentang “pembaharuan” atau “ke-keren-an artikulasi” seperti banyak terjadi di kalangan penyair Angkatan 2010-an. Kiki sang penyair lebih tampak berasyik dengan lakon “mengorek kata hingga ke akar” dan mencari bentuk-bentuk yang paling tepat dari khazanah puisi modern bagi gagasan-gagasan yang hendak ia sampaikan. 

Kembali pada soal alur dan alir susunan puisi di Tuhan Padi. Buku ini dibuka dengan sebuah puisi yang menyelami alam hidup dan rasa para penyelam, Lagu Kebangsaan Penyelam (hal. 9). Tak ada petunjuk pasti, lokasi hidup para penyelam ini. Jika tahu bahwa Kiki seorang penyair yang tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, mungkin akan terduga bahwa alam para penyelam itu di pulau tersebut dan sekitarnya. Tapi, tanpa keterangan terang lokasi, puisi ini menjadi semacam himne, juga mistifikasi, alam para penyelam di seluruh Nusantara. 

dada kami cadas bisu beribu tahun lalu
di hadapan air, pisau pemahat yang mahir
kami menuju kedalaman dengan menahankan
seluruh beban; kegembiraan dan kesedihan
kenangan dan pendar-pendar masa depan

Mistifikasi terjadi pada kalimat “cadas bisu beribu tahun lalu”. Apa yang mengalir dalam dada (udara, atau rasa –dengan kata lain, hidup) terlindungi dalam dada yang “cadas bisu”, secara turun temurun sejak entah kapan, “beribu tahun lalu”. Tapi, kenapa cadas itu bisu? Air diumpamakan sebagai “pemahat yang mahir”. Dan dalam waktu, apalagi ribuan tahun, air memang adalah pemahat alam yang mampu membentuk cadas. Entah itu air berbentuk ombak, embun, tetes hujan, tetes kecil: batu akan menyerah pada pahat air. Tapi, kenapa cadas itu bisu?

Apakah “bisu”? Ketiadaan bunyi, ketiadaan kata –bahkan, ketiadaan bahasa? Penyelam memasuki laut, dan di dalam laut, kita tak bercakap. Laut juga memiliki tekanan, semakin dalam semakin menekan. 

 

di tengah tekanan, tubuh kami jadi ringan

bagai balon mainan kami melayang

Dalam baris pertama itu, gejala alam menyelam diolah menjadi sebuah metafora kekuatan manusia (bahwa tekanan membuat tubuh ringan), yang bahkan bisa dipotong dan disajikan sebagai kata mutiara. Ini memang risiko sebuah abstraksi puitik akan keping-keping “kebenaran” yang memikat, seperti dialami oleh puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, atau Rendra. Di baris kedua, ada kata “balon” yang tentu saja sebuah benda modern. Kata ini bisa jadi membuat puisi ini rumpang, mistifikasinya terganggu oleh sebuah kata benda modern itu. Bisa juga ini sebuah ketaksengajaan (ataukah kesengajaan?) yang tak mengapa, semacam penanda bahwa alam mitis dan mistis itu masih terjadi juga di dunia modern kita.

Dalam bait terakhir, Kiki menyimpulkan sebuah sifat, sebuah mitos, akan watak para penyelam. 

segala rahasia ini memasuki darah kami
kami hidup, kami tak memiliki rasa takut
kami mencair bersama air, jadi bagian kecil
dari alir yang bergerak dari hulu ke hilir

Jika laut adalah hidup, maka rahasia hidup itu mendarah dan mendaging sehingga “kami tak memiliki rasa takut”. Dalam kekukuhan itu, para penyelam dalam puisi ini, “kami”, lantas “mencair bersama air”. 

Puisi ini adalah juga gambaran gaya Kiki secara keseluruhan: puisi bebas, dengan perhatian pada alur kata dan alir bunyi yang tidak liris dalam pengertian menaati atau mengolah serta menggali-gali kemungkinan bunyi dalam kerangka pakem-pakem puisi klasik seperti sonata, stanza, atau pantun. Alih-alih memanfaatkan bentuk bait empat baris untuk mengindahkan bunyi dengan aturan bunyi di akhir baris macam a-a-b-b atau a-b-a-b atau a-a-b-a, Kiki memilih sebuah rangkaian persamaan bunyi di dalam kalimat: kami mencair bersama air, jadi bagian kecil/dari alir yang bergerak dari hulu ke hilir. Pola rangkaian bunyi ini lebih mirip alur dan aliran persamaan bunyi dalam lagu dolanan tradisional. 

Puisi kedua, Bayan (hal. 10) bernada sama dari segi tematik, walau kali ini di judul telah ditetapkan sebuah lokasi spesifik alam puisi yang digambarkan. “Bayan” adalah nama daerah di Lombok Utara. Hal sama juga terjadi dalam puisi ketiga, Sembalun (hal. 11). “Sembalun” adalah nama daerah di Lombok Timur, di lereng gunung Renjani. Puisi keempat dan kelima kembali tak menyebutkan lokasi alam puisi dengan jelas. 

Yang menarik dari puisi keempat, Ladang Tembakau (di Lombok banyak ladang tembakau, jadi kita bisa menafsir ini masih mengungkap alam puisi berlokasi di pulau itu), Kiki menulis “kerani” sebagai sebuah unsur pertentangan. Demikian:

rakyat jelata. menukar dukacita
dengan wiracarita. maka menyala lampu minyak
meski terang masih telanjang

jadi kembalilah
pada bilah-bilah api. biarkan para kerani
menata kawasan ini. dengan lisan mereka.
dengan bahasa lama yang sudah dicabut
dari lidah kita.

Ada dua kata ganti pelaku dalam puisi ini. Di satu sisi, ada “rakyat jelata”. Di sisi lain, ada “kerani”. Dua sisi yang oleh Kiki dipertentangkan dalam puisi ini, walau tidak dalam bentuk konflik konfrontasi langsung. Lebih pada pembedaan, walau terasa belaka ada satu pihak mendominasi: “biarkan para kerani/menata kawasan ini.” Juga terasa pembedaan yang berhadapan itu ketika lantas Kiki menggunakan kata ganti “mereka” untuk “kerani”, dan “kita” untuk “rakyat jelata”. 

“Kerani” adalah kata lama, padanan untuk pegawai klerikal, biasanya juga mengacu pada pengawai negeri atau aparat birokrasi negara/pemerintahan. Puisi ini menyatakan sebuah pertentangan antara rakyat dengan Negara, walau terasa bahwa pertentangan tersebut bersifat api dalam sekam, mendekam diam-diam dalam sebuah relasi kuasa yang timpang. Dalam puisi Sembalun (hal. 11), kata “kerani” telah muncul. 

utusan itu akan datang lagi, mengenakan seragam kerani,
meletakkan batu pertama sembari membagi brosur pariwisata,
nanti, lembah ini, tak lebih dari surga biasa tempat hamba tak lagi
menyembah siapa-siapa 

Dalam baris-baris ini, kritik Kiki lebih spesifik. “(B)rosur pariwisata” membawa saya pada konteks program pariwisata yang sedang digencarkan pemerintahan NTB pada saat saya agak sering ke Lombok antara 2016-2017 dan sebisa mungkin mengunjungi komunitas Akar Pohon yang antara lain diasuh dengan tekun oleh Kiki. Program pariwisata di Lombok saat itu malah lebih khusus lagi: wisata halal, dengan target wisatawan dari Timur Tengah. 

Kritik yang dipadu dengan upaya puitik menangkap yang mistis dan mitis, atau malah mencipta-ulang yang mistis dan mitis, di alam puitik yang mengakar pada dunia Lombok yang ditatap dan dialami sang penyair mengalir pada tiga puisi tentang alam padi pada halaman 14-16. Ketiga puisi itu adalah Ranjang Padi, Tuhan Padi, dan Tungro. Dalam Tuhan Padi, puisi yang jadi judul kumpulan ini, Kiki memulai kritik-puitiknya secara lugas.  

tuhan padi sudah mati, di sini, di bakarti. semenjak para kerani
membujuk petani untuk tidur pagi. dalam mimpi mereka, bibit gabah
berdiri, berlari-lari, memutari sawah seperti tukang ukur tanah

anak bajang pulang sekolah, langsung berkemas ke kantor imigrasi
pohon sawit tumbuh tinggi seperti permohonan bunuh diri, bukan
untuk mati melainkan untuk hidup sebagai api di bawah kuali

Tampak, Kiki bukan sekadar menyoal urbanisasi, tapi sesuatu yang lebih mendasar, yang kini seringkali dianggap sebagai persoalan abad ke-19 dan abad ke-20 belaka: modernisasi. Ada para kerani yang “membujuk petani untuk tidur pagi”, yang berarti sebuah rayuan untuk melepaskan diri dari ritme waktu tradisional di alam padi. Kerani adalah sebuah kehadiran birokrasi, sebuah pranata modern, yang berhadapan dengan para petani dan dunia padi mereka. Lalu muncul pula kata-kata seperti “sekolah” dan “kantor imigrasi”, lagi-lagi pranata-pranata modern. 

Dalam baris-baris selanjutnya puisi ini, muncul juga kata-kata benda “televisi”, “bangunan di tengah areal tanam”, dan “pesawat”. Ketiganya diposisikan sebagai kehadiran yang telah mengganggu alam padi yang ada sejak lama. Ketiganya seakan bagian dari dunia baru, ketika “tuhan padi sudah mati”. Areal tanam, yakni sawah-sawah dan tanah-tanah ladang, tak lagi memiliki spiritualitas siklus relasi manusia dan hasil bumi. Semua kini mengalami risiko jadi lahan bagi bangunan. 

bakarti tak lagi ada dalam peta, meskipun satelit mengintai bagai
kilau mata harimau. ibu terus bernyanyi. suaranya merembes ke baris-baris ini.
kau dengar garis-garisnya yang sunyi, ingin sampai ke jantungmu yang sedang berupaya mati-matian mendegup-hidupkan bunyi puisi.

Baris-baris terakhir Tuhan Padi ini menampakkan kekariban Kiki dengan posmodernisme dalam sastra dan kemahirannya menerapkan rujukan itu sebagai siasat pengucapan puitiknya. Kalimat “suaranya merembes ke baris-baris ini” adalah sebuah pendekatan meta-puisi: puisi ini menyadari dirinya adalah sebuah puisi, sehingga bisa memanggil sebuah unsur yang dituliskan seakan berada di luar puisi ini (yakni “suaranya”) agar “merembes ke baris-baris ini”. 

Dan sesudah memanggil unsur yang (seakan) di luar puisi masuk ke dalam puisi, Kiki menerapkan teknik lain yang cukup karib di khasanah karya bergaya/berteknik postmodern, yakni pendobrakan dinding keempat (istilah dan gagasan yang dipopularkan oleh Bertold Brecht). Dalam baris keempat, Kiki menyapa pembaca, kita, dan membetot “kita” ke dalam puisinya: kau dengar garis-garisnya yang sunyi, ingin sampai ke jantungmu… Dan kedua teknik meta ini adalah sebuah dorongan bagi kita untuk tiba pada kesimpulan penyair: berupaya mati-matian mendegup-hidupkan bunyi puisi

Rupanya, dalam puisi ini, yang tersisa dari dunia padi yang lama adalah suara ibu yang terus menyanyi. Nyanyi ibu itulah yang hendak menumbuhkan puisi di dalam diri kita, ketika puisi alam padi telah mati. Modernisasi telah mematikan spiritualitas lama, hanya menyisakan puisi, itu pun rupanya megap-megap hendak meraih hidup. 

Setelah tiga puisi tentang padi, kumpulan ini mengalir pada puisi-puisi tentang dunia dusun-dusun dengan ternak, bunga-bunga, para penjahat, pasar tradisional, dan ke alam mitis yang berpijak pada sejarah dan legenda lokal. Kesadaran sejarah tampak semakin mengental di alur selanjutnya buku ini, sekaligus mistifikasi semakin diupayakan dari keping-keping dunia yang sedang hilang dalam gerak modernisasi itu. 

Alur yang paling saya suka adalah ketika kumpulan ini tiba pada serangkaian puisi tentang Jaelani, sosok mitis separuh rekaan separuh abstraksi Kiki terhadap sosok Lombok yang selalu berubah. Abstraksi yang merupakan racikan mitos, legenda, juga sejarah lokal, yang dipadu dengan sebuah lalu lintas pengaruh kultural dari berbagai penjuru dunia. Artinya, sebuah silang budaya antara yang lokal di Lombok dengan yang global. 

Rangkaian puisi Jaelani dimulai dengan Hantu Lidah Biru (hal. 31), salah satu puisi yang paling saya suka dalam kumpulan ini. 

beginilah Jaelani berkisah:

bapakku hantu lidah biru yang lihai menyaru
dikenakannya jubah orang dulu. dirasukinya mulut
para penipu. hidupnya sepenuhnya tidak nyata.
ia ada antara dongeng dan kabar burung

lantaran itu kujadikan diriku ahli syair
agar dapat kusambung syiar darinya untuk kalian.
aku semata bulan yang memantulkan. …

 Jaelani adalah sebuah teks yang cair, karena ia (mendaku) lahir dari seorang bapak yang adalah juga sebuah teks yang cair. Bukankah sang bapak, si hantu lidah biru, “hidupnya sepenuhnya tidak nyata. / ia ada antara dongeng dan kabar burung”. 

Rangkaian puisi tentang Jaelani selanjutnya adalah Mata Mita (hal. 32), Kuda Jepun Putih Madu (hal. 33-34), Hijrah Jaelani (hal. 35), Jaelani Menemui Padri Kobani (hal. 36), Jaelani Takut Mati (hal. 37). Usai alur puisi-puisi Jaelani, muncul puisi Circus Exile (hal. 38), yang menampakkan lebih gamblang pergulatan penyair dengan aspek lanjut dari modernisme: kosmopolitanisme kontemporer. 

Kosmopolitanisme tentu bukan hal baru dalam sejarah filsafat, maupun dalam sejaran puisi modern Indonesia. Menurut Stanford Encyclopedia, misalnya, kata “kosmopolitan” berakar pada kata Yunani Kuno, “kosmopolitês” yang kurang lebih berarti “warga dunia” (“citizen of the world”). Gagasan dasarnya adalah bahwa seluruh manusia adalah warga atau anggota komunitas bersama yang tunggal. 

Banyak varian dari gagasan ini. Salah satunya adalah gagasan, dan praktik, saling silang budaya, kelenturan menggunakan khasanah “budaya dunia” oleh siapa pun dan di mana pun. Demikianlah maka Chairil Anwar fasih membaur bahasa Indonesia, Melayu, Inggris, dan Belanda dalam pidato dan puisinya. Juga betapa ia, Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Rendra, dan banyak penyair kita bisa bicara leluasa mitologi dari berbagai belahan dunia dalam puisi-puisi mereka. Atau, betapa “anak Jaksel” begitu lentur, kadang secara sedikit menjengkelkan, menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menjadi kode linguistik yang khas dalam pergaulan keseharian mereka.   

Pada Kiki, kosmopolitanisme itu hadir dalam kelenturan menggunakan unsur-unsur legenda dan mitos dari berbagai belahan bumi. Tentu saja, rasa kosmopolitanisme itu segera muncul saat membaca judul Circus Exile: Kiki begitu saja memakai bahasa Inggris sebagai unsur puitiknya. Secara tematik, metafora kehidupan nomaden kelompok pemain sirkus pun adalah sebuah pinjaman kultural dari Eropa Barat dan Amerika yang berhasil diolah menjadi sebuah dunia-puitik milik Kiki sendiri. 

tempat paling patut bagi seorang badut
adalah kemah kumuh ini
bahkan jika ia nanti mati dengan pupur masih
melekat di mukanya yang bulat

Kehidupan sirkus jadi sebuah metafora kesepian masyarakat manusia, di sebuah dunia pascanasional, berjalan menuju entah hingga entah kapan. 

rombongan tanpa tanah air, menuju kota kesekian
dengan kesepian yang keriput memutih di rambut

Kosmopolitanisme ini juga hadir kuat dalam sebuah puisi yang mengolah kisah-kisah mitis abad ke-20, yakni cerita-cerita UFO. Puisi ini salah satu yang paling saya suka juga, Laporan Surat Kabar Tentang Penampakan Piring Terbang di Atas Gang Pelacuran (hal. 43). 

mereka terbang miring seperti kehilangan orbit
kebetulan langit bersih dan kamera kami menangkap
serpih-serpih cahaya pipih yang mirip benih
sebagian kami mengira itu teluh yang tengah menempuh
perjalanan jauh untuk masuk ke dalam ruh

Tampak lagi pergulatan itu: mitos khas dunia modern dan benda modern, yakni piring terbang dan kamera, berjumpa dengan gagasan tentang teluh dan ruh. Di samping gagasan dan mitos UFO, pilihan lokasi “Gang Pelacuran” dalam judul, yang kurang digali pada puisinya sendiri, adalah sebuah arketipe imaji dalam puisi Indonesia modern pada 1950-an hingga 1980-an. Muncul lagi, antara lain, dalam lagu Si Pelanggan dari grup indie Surabaya, Silampukau, pada 2015. Lokasi imajiner yang biasanya dipakai sebagai arketipe lokasi kaum terbuang dalam modernisasi Indonesia yang keras. 

Dari bahan-bahan itu, sekali lagi Kiki menyusun sebuah metafora tentang kaum liyan dalam kehidupan modern kita (yang tak lagi sebatas Lombok).

seperti para penghuni gang ini
sekumpulan alien, makhluk lain yang kerap dikutuk
tapi diam-diam diidam-idamkan

Buku ini mengalir lancar hingga puisi terakhir, Kudabatu, Kudawaktu (hal. 43). Mengalir dalam alur untaian gagasan ke gagasan dalam pola untaian seperti dalam lagu dolanan juga. Pergulatan Kiki dalam buku ini, pergulatan antara alam mitis lokal dan modernisasi yang mungkin telah di tahap lanjut, dikelola oleh upaya mistifikasi secara puitik. Dunia yang hilang jadi mitos baru, pencarian makna jadi upaya mencari tuah dan berkah baru. Memang ada sebuah kemurungan modernis dalam pergulatan itu. 

Di puisi terakhir itu, baris-baris terakhir, Kiki melukiskan sebuah kesimpulan sementara.

betapa sia-sia semuanya, saat mereka teringat hari itu akhir tahun
tahun yang baru datang mengendara kuda; kudawaktu, kuda yang bisu

Walau ada kata “sia-sia” di situ, tapi penyair mencatat bahwa tahun tetap berganti, waktu melaju, betapa pun. Pergulatan masih lanjut. Walau waktu seakan bisu, tapi selalu ada yang berlalu, lalu berlalu lagi. Artinya, sesuatu tetap melaju. Setidaknya, bergerak selalu.***

*PS: buku ini diterbitkan secara independen. Bisa dipesan di Kedai Klandestin. Kontak: Bulan Nurguna, WA – 087938534107

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.