Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Atheis

Atheis

Novel roman Atheis karya Achdiat Karta Mihardja pertama kali terbit pada 1949. Karya ini dinilai oleh para keritikus sebagai salah satu karya sastra terpenting di Indonesia. Ia merupakan sebuah karya gerakan baru dalam dunia sastra Indonesia pada zamannya. Sastrawan Ajip Rosidi berpendapat bahwa karakteristik dan isi novel ini orisinal serta membawa warna baru dalam sastra Indonesia.

Atheis menceritakan perkembangan masyarakat Indonesia sejak permulaan abad ke-20, yakni pergeseran gaya hidup tradisional ke gaya hidup modern. Pergeseran itu membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham-paham lama dan baru.

Cerita Atheis diawali sang penulis dengan tokoh ‘saya’ yang kemudian menjadi narator atas kisah hidup Hasan yang merupakan tokoh utama dalam novel. Hasan adalah seorang pemuda desa yang polos. Ayahnya, seorang pensiunan mantri guru penganut Islam tarekat yang kuat.

Tokoh Hasan dibesarkan di tengah keluarga yang menganut tarekat. Sejak kecil Hasan belajar ilmu agama dengan tekun di bawah bimbingan ayahnya. Saat beranjak dewasa, ia mengikuti tarekat seperti yang diamalkan oleh kedua orang tuanya. Meski sesungguhnya keterlibatannya dalam tarekat itu sebagai kompensasri dari kekecewaannya karena tidak dapat menikahi gadis pujaannya, Rukmini, karena perbedaan kasta. Saking tekunnya belajar, Hasan terkena TBC karena dengan taat melakukan berbagai ritual seperti mandi di kali Cikapundung sampai 40 kali dalam semalam, dari sembahyang isa hingga subuh. Ia berpuasa tujuh hari tujuh malam, mengunci diri tiga hari tiga malam dan tidak makan. Dengan menjalankan semua itu, Hasan merasa seolah-olah sudah menjadi seorang yang sempurna dalam berbakti kepada Tuhan.

Hasan tumbuh menjadi pemuda yang sangat kuat imannya. Ia meyakini Islam sebagai kebenaran mutlak. Saat dewasa, Hasan, kemudian merantau ke Bandung. Di sana oleh kawan-kawanya ia sering disebut sebagai kiyai karena kedalaman ilmu agamanya. Namun Bandung tidak hanya memberikan pekerjaan, tetapi juga pergumulan iman.

Suatu hari, Hasan bertemu dengan teman masa kecilnya, Rusli dan teman perempuannya Kartini. Pertemuan reuni itu ternyata menjadi awal mula kisah Hasan mengalami pergumulan iman. Rusli, tumbuh meyakini ajaran marxisme. Tetapi di tengah perbedaan itu mereka tetap berkawan, bahkan semakin erat. Mereka berdua sering terlibat diskusi tentang perbedaan perspektif antara penganut Islam dan marxisme. Dalam pikiran Hasan Rusli dan Kartini adalah dua orang murtad yang perlu diselamatkan. Hasan kemudian berniat akan mengislamkan kembali kedua temannya itu. Diam-diam Hasan jatuh cinta pada Kartini. Tokoh perempuan ini adalah sosok perempuan modern. Seorang janda yang menginginkan kebebasan dan memiliki paham marxisme seperti Rusli. Rasa cinta Hasan terhadap Kartini kian membuatnya semakin ingin mengembalikan iman Islam perempuan tersebut. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kartini mengubah Hasan dari yang bersikap alim menjadi laki-laki modern yang bebas. Ditambah penjelasan Rusli tentang sains dan marxisme justru membuat Hasan mempertanyakan keimanannya sendiri.

Hasan kemudian menjadi seorang peragu, ia tidak lagi percaya agama dan mengedepankan logika serta sains sebagai dasar kebenaran. Pemikiran dan keyakinannya barunya kini bertentangan dengan budaya dan keyakinan orang-orang di sekelilingnya. Ia berkonflik dengan ayahnya serta berseteru dengan ibunya yang prihatin pada perubahan yang terjadi pada anaknya itu.

Hasan kemudian menikah dengan Kartini tanpa sepengatahuan orang tuanya. Pada dua tahun pertama hidup mereka bahagia, tapi memasuki tahun ketiga dan keempat hari-hari mereka selalu diwarnai dengan percekcokan. Hingga akhirnya mereka bercerai. Hari-hari Hasan diwarnai penyakit TBC yang menggerogoti tubuhnya. Kebebasan yang ia pilih mengantarkannya pada kehancuran saat pendudukan Jepang. Hasan mati tertembak ketika penderitaan atas pergumulan imannya sedang memuncak.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.