Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Galeri Nasional Hadirkan Pameran ‘Pascamasa’, Wajah Seni Rupa Indonesia Masa Kini dari 12 Perupa

Galeri Nasional Hadirkan Pameran ‘Pascamasa’, Wajah Seni Rupa Indonesia Masa Kini dari 12 Perupa

Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, menggelar Pameran Seni Rupa Indonesia Kini: Pascamasa. Pameran ini menampilkan ekspresi seni rupa masa kini, yaitu seni di era pascamasa ketika berbagai hal datang dari masa-masa penciptaan seni yang beraneka, seluruhnya bercampur dan menjadi ekspresi yang bersifat jamak dan kompleks.

Pameran seni rupa ini menampilkan karya-karya termutakhir dari 12 peserta pameran yaitu: Arafura, Arkiv Vilmansa, Azizi Al Majid, Condro Priyoaji, Franziska Fennert, Irfan Hendrian, Iwan Yusuf, Meliantha Muliawan, Nesar Eesar, Nona Yoanisarah, Tomy Herseta, dan Sikukeluang.

Kurator pameran, Rizki A. Zaelani, A. Rikrik Kusmara, Sudjud Dartanto, dan Bayu Genia Krishbie memilih tema ‘pascamasa’ untuk merespons perkembangan terkini dari wacana kebudayaan yang bertaut pada isu tentang ‘pasca’ yang menjelaskan masalah-masalah era kesudahan, seperti pascaindustrial, pascamodernisme, pascakebenaran, dan lainnya.

Dalam tulisan pengantar pameran dari para kurator dijelaskan bahwa dalam pameran ini, tiap seniman mempunyai jarak, ruang atau wilayah sendiri untuk mengenali relasi keberadaan dirinya dalam masa-masa hidup yang dijalaninya. Setiap praktek seni jadi unik dan terbedakan karena tindakan, menjadikan persepsi tentang ‘seni’ terus terbarukan sehingga seni tak lain adalah proses kemenjadian, atau ‘becoming art’.

“Setiap praktek seni selalu berada dalam masa-masa penciptaan yang khas dan khusus bagi masing-masing seniman. Bagi seniman durasi waktu atau masa tak pernah berakhir apalagi hilang, karena setiap seniman bergelut dalam proses dan tindakan bagi dirinya. Perjalanan waktu bahkan bisa bersifat jamak dan mampu hidup serentak tanpa harus saling menolak. Seorang seniman justru berjuang untuk menegakkan monumen masa yang akan terus dikenang manusia. Seni pada prinsipnya bersifat mengawetkan masa yang bahkan bisa bermakna serentak menyatakan pengalaman mengenai berbagi tempat, kejadian dan keadaan”.

Pemilihan ke-12 perupa baik secara pribadi ataupun berkelompok, berdasarkan keragaman praktik dan latar belakang disiplin pada perupa yang menunjukkan berbagai gejala lintas disiplin/transdisipliner/interdisipliner sebagai wajah dari perkembangan seni rupa Indonesia terkini.

Sebagai contoh, Tomy Herseta dengan latar belakang akademis desain interior, ia berfokus pada suara dan cahaya dalam karya yang dibawanya di pameran kali ini. Kemudian Arafura yang digawangi anak-anak muda berlatar Desain Komunikasi Visual, justru mengeksplorasi motion graphic dan proyeksi cahaya. Serta Arkiv Vilmansa yang menempuh pendidikan arsitektur, kemudian menekuni penciptaan karya seni rupa yang identik dengan produk mainan atau toys art. Irisan antara seni dan teknologi juga dapat dilihat pada karya Nona Yoanishara yang mengembangkan hubungan antara kesadaran manusia dan memori melalui Brain Computer Interfaces (BCI).

Irfan Hendrian memamerkan karya dari material kertas yang disusun menjadi trimatra layaknya patung. Sementara itu, Iwan Yusuf, perupa asal Gorontalo ini mengangkat isu mengenai alam dan narasi pesisir dengan karya berukuran gigantik dari material jaring. Ungkapan artistik dari seniman peserta juga muncul dalam tema-tema lainnya seperti identitas, keseharian, domestik, serta isu lingkungan.

Melengkapi ‘Pascamasa’, Galeri Nasional Indonesia juga menghadirkan Ruang Aktivitas Anak dan Keluarga (RAK) yang berlokasi di Gedung D Galeri Nasional Indonesia. RAK kali ini mengangkat tema lingkungan dengan menghadirkan tiga ruangan yang memiliki tema dan aktivitas yang berbeda. Salah satu ruangan di RAK terwujud dengan dukungan dari Dentsu Creative dengan tema ‘The Dirty Letter’.

Ruang ini akan menyimulasikan bahaya polutan di udara yang dipadukan dengan kegiatan bersifat partisipatoris dari para pengunjung. Di ruang lain, terdapat instalasi Parabhouse Installation dari Arafura Media Design, yakni sebuah instalasi dan proyek video mapping dengan prinsip reuse, reduce, dan recycle yang juga sejalan dengan prinsip Hedongka yang dianut oleh masyarakat di Pulau Tomia, Wakatobi.

Pameran Seni Rupa Indonesia Kini: Pascamasa dapat dikunjungi publik mulai 21 Desember 2023 hingga 20 Januari 2024, setiap hari pukul 09.00-19.00 WIB. Pengunjung wajib melakukan registrasi secara daring (online) terlebih dulu melalui https://gni.kemdikbud.go.id/kunjungi-kami. Untuk menjaga keamanan karya dan kenyamanan dalam ruang pamer, diberlakukan pembagian kuota pengunjung yakni 150 orang per sesi, dan dalam satu hari dibagi ke dalam 10 sesi kunjungan.

Sedangkan untuk mengunjungi RAK juga diperlukan registrasi secara terpisah dari Pameran “Pascamasa”. Dengan alamat link registrasi yang sama, RAK dibatasi kuota 50 pengunjung per sesi.

Dalam pameran ini Galeri Nasional Indonesia juga menyiapkan serangkaian program publik selama ‘Pascamasa’ berlangsung. Mulai dari diskusi publik, workshop videografi, dan tur galeri yang diharapkan dapat menunjang edukasi publik pada karya-karya yang ditampilkan di pameran ini. Informasi mengenai program publik dapat dilihat di laman media sosial Galeri Nasional.

Sumber Foto: Ferry Irawan

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.