Peringati 100 Tahun Pelukis Zaini, DKJ Gelar Pameran Retrospektif dan Serial Video
Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran pelukis Zaini, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menghadirkan Pameran Retrospektif Menyibak Kabut yang berlangsung pada 20 Juni-11 Juli 2026 di Galeri Cipta I & II, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki.

Pameran yang menghadirkan karya-karya Zaini dari 1948 hingga 1977 ini dibuka secara resmikan pada 20 Juni 2026 oleh Maya Sujatmiko, ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia (AGSI).
Pameran ini mendampingi program Serial Video Konten yang menghadirkan kembali sosok Zaini sebagai pelukis, pendidik, organisator seni, dan sebagai tokoh penting dalam ingatan sejarah seni rupa Indonesia.

Program Serial Video Konten Sejarah menghadirkan kritikus seni Bambang Bujono, pematung dan aktivis Dolorosa Sinaga dan anak kandung Zaini, Yuzier Zaini. Ketiga pembicara menceritakan karya dan pribadi Zaini sebagai seniman, organisator, redaktur majalah seni dan budaya, dan pengajar seni lukis. Video ini tayang di kanal YouTube Dewan Kesenian Jakarta sejak 17, 18, dan 19 Juni 2026.

Zaini yang lahir pada tahun 1926 berasal dari Pariaman, Sumatera Barat. Ia belajar melukis pada Wakidi, S. Sudjojono, Basuki Abdullah, dan Affandi. Ia melukis alam benda, pemandangan alam, hewan dan tumbuhan, hingga perahu. Karya-karyanya dikenal memiliki corak semi-abstrak yang lembut dan liris. Bersama pelukis Oesman Effendi, Nashar dan Rusli, Zaini merupakan seorang pelukis asal Sumatera yang turut mewarnai corak seni lukis Indonesia di Jakarta pada 1970-an.

Selain sebagai pelukis, Zaini memiliki pengalaman berorganisasi di bidang seni selama kurang lebih tiga dekade. Mulai dari Seniman Masyarakat dan Seniman Indonesia Muda (SIM) pada 1946, kemudian Gabungan Pelukis Indonesia (GPI) pada 1948.

Sejak 1956, ia mengajar di Balai Budaya Jakarta dan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Ia pun terlibat mendirikan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1968 dan menjadi bagian dari Komite Seni Rupa dan pengurus hariannya hingga 1977. Bersamaan dengan keterlibatannya di DKJ, Zaini mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, kini Institut Kesenian Jakarta) pada 1971–1976. Ia pula yang mendesain logo dan menjadi salah satu redaktur majalah sastra dan budaya Horison. Zaini meninggal dunia pada 25 September1977 di Jakarta.
Pameran Menyibak Kabut menghadirkan beragam medium. Mulai dari cat minyak, cat air, tinta hitam hingga pastel, kesemuanya terbagi dalam 2 ruang Galeri Cipta I dan II. Ruang pertama lebih menampilkan karya dengan cat minyak dan lebih berwarna. Sedangkan ruang kedua lebih menampilkan karya-karya berupa sketsa, spidol dan tinta hingga vinyet.
Karya-karya yang ditampilkan menegaskan ciri khas karya Zaini yang semi-abstrak, lembut, dan misterius. Banyak karyanya yang seperti dilapisi “kabut” sebagaimana yang ditulis oleh Bambang Bujono dalam esainya, “Yang Tinggal Hanyalah Kabut” (Tempo,1978).

“Pameran Menyibak Kabut meminjam esai kritiknya Bujono mengenai fenomena kabut dalam menghadirkan kembali karya-karya Zaini. Adanya tirai kabut, mengajak kita menelaah ekologi kekaryaan Zaini secara lebih mendalam dan sebagaimana adanya,” kata kurator pameran Ibrahim Soetomo.
“Ia menggeluti perbendaharaan subjek yang sama, figur manusia, perahu, pemandangan, hingga hewan, yang perwujudannya dicapai lewat penguasaan penuh terhadap medium. Kedua ruang pamer mengandung atmosfer yang cukup berbeda, namun kekhasan serta kelembutan ekspresi Zaini menjaga keduanya. Setiap galeri bertindak sebagai ruang internal bagi galeri seberangnya. Setiapnya saling melengkapi dalam situasi tata pajang pameran yang tidak diakronis,“ tambahnya.
Selain pameran juga ada program untuk publik pameran, yaitu diskusi bersama kurator Chabib Duta Hapsoro dan Gesyada Siregar pada 4 Juli 2026.
Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia
#senirupaindonesia
#pameranmenyibakkabut
#zaini
#IndonesiaBerbudaya
#perupaindonesia
#seniabstrakindonesia
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
