Mengenang 100 Tahun Asrul Sani Pembaharu Sastra Modern dan Maestro Perfilman Indonesia
Tak banyak sastrawan yang menguasai banyak bidang sekaligus dan bertahan dalam beberapa generasi. Asrul Sani, sastrawan kelahiran 10 Juni 1926 di Pasaman, Sumatra Barat, lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB). Namun minatnya yang luas pada kemanusiaan dan susastra menjadikan ia memilih kedua bidang itu sebagai pijakan hidup dan karirnya. Asrul Sani juga menjadi idola sineas film-film realis karena piawai mengolah naskah panjang menjadi alur cerita yang fokus.
‘Tiga Menguak Takdir’, Awal Sebuah Manifesto Penting
Saya masih duduk di bangku SMP ketika pertama kali mengenal pembabakan sastra Indonesia, mulai dari Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ‘45, Angkatan ‘66, Angkatan ‘70, ‘80, dan seterusnya. Guru Bahasa Indonesia mengenalkan kami dengan Buku ‘Tiga Menguak Takdir’, karya sastra legendaris yang terbit pada 1950 atau setahun sebelum Chairil Anwar wafat.

Buku ini memuat karya tiga tokoh pelopor Sastra Angkatan ’45, yaitu Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Puisi-puisi mereka menjadi simbol pemberontakan terhadap estetika sastra generasi sebelumnya, Pujangga Baru, sekaligus perwujudan sikap kebudayaan yang bebas, seperti tertuang dalam ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’.
Pembaca dapat menyelami kegelisahan, pemikiran, serta perasaan batin para penyairnya yang bersatu untuk mencapai sebuah cita-cita atau “tujuan takdir”, dengan cara mereka sendiri. Antologi berisi total 28 puisi itu memuat 10 karya Chairil Anwar, sementara Asrul Sani dan Rivai Apin masing-masing menyumbang 9 puisi. Puisi-puisi Chairil berjudul yang termuat antara lain Catatan Tahun 1946, Cerita Buat Dien Tamaela, Sorga, dan Sia-sia.
Karya Asrul Sani antara lain Anak Laut, Surat dari Ibu, dan Pengakuan. Rivai Apin menulis antara lain Anak Malam, Sadjak Buat Adik, Peristiwa, dan Melalui Siang Menembus Malam.
“Mereka muncul di tahun-tahun revolusi kemerdekaan oleh karena itu dinamika kekaryaan dan pemikiran mereka itu secara langsung maupun tidak mencerminkan revolusi kemerdekaan Indonesia. Kalau Indonesia merdeka secara hukum dan politik lalu pertanyaannya secara budaya bagaimana? Nah soal-soal itu dijawab dengan karya dan pemikiran,” ungkap Nirwan Dewanto, penyair, aktor, dan kritikus seni yang kini bermukim di Yogyakarta.
Revolusi Bahasa dan Diksi Sastra
Ketiga penyair sedang mencari bentuk-bentuk puisi baru. Baik Asrul, Chairil, dan Rivai membawa gaya bahasa yang ekonomis, tajam, lugas, dan apa adanya. Struktur puisi tidak lagi harus berpola rapi seperti pantun atau soneta, melainkan membebaskan baris dan bait sesuai dinamika jiwa penyairnya.

“Pada masa angkatan Pujangga Baru, puisi itu menjadi alat untuk menyampaikan nasionalisme. Tapi di zaman Chairil itu kesadarannya adalah puisi sebagai alat dalam dirinya sendiri, alat untuk memperbarui bahasa Indonesia, dan untuk mencari ungkapan baru, untuk menyatakan filosofi atau sikap hidup yang baru di dalam bahasa Indonesia,” ujar Nirwan Dewanto.
Sebelum buku ‘Tiga Menguak Takdir’ terbit, sastra Indonesia banyak didominasi tema tuntutan adat, moralitas kelompok, atau nasionalisme yang seragam. Buku ini membuktikan bahwa sastrawan Indonesia tidak perlu inferior terhadap Barat, namun juga tidak perlu terjebak nostalgia masa lalu. Generasi sastrawan setelahnya melihat kebudayaan secara lebih luas, yaitu karya sastra lokal Indonesia memiliki derajat yang sama dan merupakan bagian sah dari kebudayaan dunia.
Di sisi lain, kemampuan dari ketiga pujangga ini satu sama lain tak dapat dilepaskan dari kemampuan membangun diksi. Nirwan menilai Chairil lebih kuat dalam menggapai kata-kata untuk menciptakan frasa.
“Asrul tidak terlalu mahir di dalam menggunakan satuan terkecil dari puisi, yaitu frasa. Menurut saya, Chairil yang paling berhasil (menciptakan frasa puisi modern) sehingga banyak ditiru oleh penyair-penyair generasi berikutnya,” ungkap Nirwan.
Ia berpendapat bahwa penggunaan nada dalam puisi-puisi Asrul tidak mencapai puncak pengucapan seperti Chairil. Di sini letak perbedaan antara keduanya.
“Frasa adalah kalimat yang tidak selesai oleh karena itu dia mampat menjadi puisi. Puisi pendek itu harus dikalkulasi komposisi dan suasananya. Ekspresinyapun harus tepat. Nah puisi-puisi Pak Asrul masih menggunakan kalimat, masih sentimental, dan masih ada suasana romantik seperti era Pujangga Baru,” kata Nirwan.
Meski demikian, keunggulan Asrul dalam mengolah prosa turut menjadi catatan penting dalam perkembangan sastra pasca-era Pujangga Baru. Nirwan mengakui keistimewaan Asrul dalam menuliskan cerpen-cerpen pada 1950an. Ada sense Eropa, tapi latar, karakter, dan konfliknya digambarkan terjadi di Indonesia.
“Asrul sangat kuat di cerita pendek yang baru muncul kalau nggak salah di tahun 1950an. Ada kumpulan cerita pendek (yang ditulis Asrul Sani) berjudul ‘Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat’ (1972). Itu memperlihatkan sastra Eropa meskipun bahannya dari nusantara. Dia sangat segar di situ, sangat absurd meskipun membawa kehidupan orang-orang di Indonesia, sangat noir. Isinya bukan pesimisme tapi menurut saya kalau (diibaratkan) politik kan membawa optimisme, tapi seringkali optimisme yang semu atau palsu. Asrul justru sebaliknya. Dia menampilkan sisi kritis dari masyarakat yang berubah,” jelas Nirwan.
Nirwan tak menampik kekuatan Asrul dalam hal pemikiran yang jelas terlihat dalam ‘Surat Kepercayaan terhadap Gelanggang’, sebuah manifesto budaya yang dirumuskan oleh Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin dan diterbitkan pada 22 Oktober 1950 di majalah Siasat.
“Asrul itu lebih kuat di pemikiran. Setelah Chairil Anwar meninggal dunia ia menulis ‘Surat Kepercayaan terhadap Gelanggang’. Mereka mengatakan, ‘Kami adalah ahli waris sah dari kebudayaan dunia’, jadi Indonesia itu menerima warisan dari seluruh dunia bukan hanya dari masa lampau tradisi-tradisi di nusantara. Mereka disebut modernis dalam pengertian bahwa untuk menjadi modern maka setiap bahasa itu mengupayakan bentuk pengucapan yang terbaik. Salah satu ideologi yang dilahirkan pada masa itu ditulis oleh Asrul Sani,” ujar Nirwan.
Tamat Sekolah Kedokteran Hewan, Berakhir Menjadi Pujangga
Anya Sani-Robertson, putri ke-dua Asrul Sani, tertawa saat disinggung ihwal ayahnya yang seorang dokter hewan tapi berbelok arah menjadi sastrawan, jurnalis, dan sutradara film sekaligus penulis skenario. Asrul juga mahir bermain biola dan klarinet. Anya bercerita bagaimana sang ayah ternyata pemikirannya sangat realistis. Suatu hari ada kerabat datang membawa kambing yang kakinya sakit. Alih-alih diobati, Asrul mengusulkan agar kambing itu dipotong saja.
Bagaimana rasanya menjadi anak dari seorang pujangga termasyur, yang namanya tercetak dalam buku-buku teks sastra para pelajar Indonesia?
“Mungkin saya merasa beruntung memiliki Ayah yang baik dan punya kebijaksanaan serta pengetahuan. Saya banyak belajar dari beliau, terutama dengan cara berpikirnya. Ayah tak pernah cerita mengapa ia lebih menekuni dunia sastra dan film daripada kedokteran hewan. Tapi jiwanya memang menjurus ke persoalan-persoalan yang menyangkut kemanusiaan. Beliau menyukai musik, cerita, filsafat, ide atau pemikiran-pemikiran, termasuk mengenai HAM dan hak-hak perempuan,” kata Anya.
Menikah Dua Kali
Istri pertama Asrul Sani adalah seorang jurnalis dan penyair bernama Siti Nuraini. Dia pernah menjadi redaktur majalah kebudayaan Zenith. Asrul dan Nenny –nama panggilan Siti Nuraini– bertemu di Bogor saat Asrul tengah menempuh studi di Sekolah Kedokteran Hewan. Rumah kos yang ditumpangi Asrul adalah milik ibunda Nenny. Dari pernikahan ini lahir tiga orang putri, yaitu Fedja Annur Sani, Safira Annur Sani-Robertson, dan Aini Sani-Hutasoit.
Setelah bercerai dengan Asrul, Nenny menikah lagi dengan jurnalis asal Australia danmenetap di Amerika Serikat. Nenny wafat pada 2017 di Melbourne dalam usia 87 tahun.
Setelah bercerai dengan Siti Nuraini, Asrul menikah dengan aktris Mutiara Sarumpaet pada 29 Desember 1972. Setelah menikah, Mutiara menanggalkan nama marganya dan memilih menggunakan nama ‘Mutiara Sani’. Usia Asrul dan Mutiara terpaut jauh, 22 tahun namun langgeng hingga maut memisahkan. Dari pernikahan mereka lahir tiga putra, yaitu Syauki, Zaki, dan Gibran. Mutiara banyak bermain dalam film-film yang disutradarai suaminya, antara lain ‘Jembatan Merah’ (1973) dan ‘Para Perintis Kemerdekaan’ (1976).
Tatiek Maliyati dan Kenangan tentang Guru yang Hebat
Orang tua saya senang menonton film dan mereka pernah bercerita tentang ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’ (1982). Film ini mendapatkan 10 nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1983, termasuk film dan penyutradaraan terbaik untuk Chairul Umam. Namun satu-satunya piala yang berhasil diraih adalah untuk penulisan naskah terbaik oleh Asrul Sani.
Mengutip Data Tempo, film ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’ dibuat dua kali karena Asrul Sani selaku penulis skenario merasa perlu melakukan adaptasi ulang pada karyanya. Versi pertamanya dirilis pada tahun 1959, sedangkan versi klasiknya yang lebih populer dan sukses secara kritis dirilis pada tahun 1982 oleh sutradara Chaerul Umam.
Pada versi 1959, ceritanya menggunakan gaya western dengan plot yang sangat linear. Sementara dalam versi 1982, Asrul Sani mengubah skenarionya agar lebih menonjolkan kritik sosial terhadap masyarakat yang mengaku beragama namun moralnya rusak. Ia mengkritik lebih tajam tentang kemunafikan, fitnah, dan masalah sosial yang terjadi di sebuah desa.
Film ini fokus pada sosok guru muda taat bernama Ibrahim yang melawan penyimpangan moral masyarakat. ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’ juga telah direstorasi untuk ditayangkan di bioskop pada tahun 2022.
Versi awal yang dibuat pada 1959 adalah debut pertama Asrul Sani sebagai sutradara. Salah satu pemerannya adalah Tatiek Maliyati, sineas yang kini berusia 91 tahun. Di Indonesia namanya terkenal sebagai penulis skenario sinetron “Losmen” dan “Dokter Sartika” yang ditayangkan di TVRI pada 1980an.

Selepas SMA, Tatiek melanjutkan ke Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1956-1960. Di sana ia menjadi salah satu murid pertama Asrul Sani. Tak lama kemudian ia mendapatkan beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk memperdalam seni teater pada Department of Drama-Fine Arts, Carnegie-Tech, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 1960-1961.
Ditemani Danton Sihombing, putranya, saya berbincang dengan Ibu Tatiek mengenai peranan Asrul Sani dalam teater dan perfilman nasional.
Ingatannya satu persatu mulai menurun, namun ia berulangkali mengatakan Asrul Sani itu pintar.
“Daya ingat saya sudah turun tapi buat saya Pak Asrul itu paling hebat. Dia dosen utama di ATNI. Pak Asrul mengajar apa, saya lupa. Tapi bukan menulis naskah. Pak Asrul mengajar (materi) yang hebat-hebat,” kata Tatiek sambil berusaha mengingat-ingat.
“Menurut saya Pak Asrul paling pintar. Dia intelek. Cara mengajarnya biasa saja sih seperti rata-rata dosen lain. Dosen saya ada Pak Asrul, Pak Usmar (Ismail), dan Djajakusuma. Pengajar utama ATNI tiga orang ini. Muridnya saya, Steve Liem (Teguh Karya), Wahyu Sihombing. Ini kami seangkatan. Saya bertemu Wahyu Sihombing (almarhum suami) ya di sini,” kata Ibu Tatiek.

Ia tidak pernah bergabung dengan grup teater manapun, termasuk Teater Populer meski ia bersahabat dengan Teguh Karya. ATNI belakangan dilebur menjadi salah satu jurusan di Institut Kesenian Jakarta. Menurut Ibu Tatiek, kampus ATNI berlokasi di depan Taman Surapati. Saya menduga gedung yang dimaksud kini sudah menjadi kantor Bappenas.
“Pak Asrul dulu galak nggak kalau sedang mengajar?” tanya Danton.
“Enggak dia orangnya pendiam tapi nggak galak. Pak Usmar Ismail dan Pak Djajakusuma juga nggak banyak omong,” kata Ibu Tatiek.
Danton teringat ibunya dulu kerap melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga diselingi menulis di mesin tik.
“Jadi Ibu itu dulu sebentar masak, terus nanti mengetik naskah, terus masak lagi atau mengerjakan yang lain.”
Pada tahun 1963 pasangan Wahyu Sihombing dan Tatiek Maliyati berkolaborasi dengan Asrul Sani dalam ‘Balada Kota Besar’. Sutradaranya Wahyu Sihombing, produser Tatiek Maliyati, dan naskahnya ditulis oleh Asrul Sani. Pemeran utamanya Pietrajaya Burnama, Tatiek Maliyati, dan Rima Melati.
Film terakhir Wahyu Sihombing, ‘Istana Kecantikan’ (1988) yang dibintangi Mathias Muchus. Naskahnya juga ditulis oleh Asrul Sani. Setahun setelahnya Wahyu Sihombing berpulang. Ia menjadi nominator sutradara terbaik untuk film ini pada FFI 1988.
Hubungan Tatiek dengan Asrul Sani beserta keluarga cukup erat. Tatiek beberapa kali berkunjung ke rumah Asrul di kawasan Menteng, Jakarta Pusat dan bertemu dengan anak-anak Asrul.
Kekuatan Sinematik ‘Sang Maestro’ dan Warisan Nasional untuk Indonesia
Generasi tahun 1980an dan 1990an yang belajar di Institut Kesenian Jakarta beruntung betul karena masih sempat berguru dengan Asrul Sani. Ia sineas yang menuliskan skenario untuk aneka genre film; mulai dari drama seperti ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’ (1959 dan 1982), ‘Lewat Djam Malam’ (1954), ‘Apa yang Kau Cari, Palupi?’ (1969), dan musikal anak-anak seperti ‘Chicha’ (1976), hingga komedi romantik seperti ‘Kejarlah Daku… Kau Kutangkap’ (1985), ‘Keluarga Markum’ (1986), dan ‘Bintang Kejora’ (1986), serta drama komedi satir seperti ‘Omong Besar’ (1988).
Melihat kiprahnya yang begitu produktif, tak keliru jika sineas Riri Riza meyakini bahwa karya-karya Asrul Sani telah menjadi bagian dari banyak catatan lapangan film Indonesia, baik dalam seni maupun sejarah sosial politiknya.
“Saya mengenal Asrul Sani ketika masih menjadi mahasiswa di IKJ pada awal 1990an. Saat itu saya mencoba mewawancarai pak Asrul untuk sebuah mata kuliah studi sosial film. Saya tentu belum terlalu mengenal beliau saat itu jadi asal datang saja dan dia malah menginterogasi saya tentang tujuan wawancara,” kisah Riri.
Namun pertemuan itu berakhir hangat. Belakangan Riri mengenal film-film yang sangat khusus digarap Asrul Sani sekaligus film-film yang skenarionya ditulis oleh sang maestro, seperti ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ (1985) dan ‘Naga Bonar’ (1986).
“Ketika mulai lebih aktif dalam dunia film, barulah saya melihat konteks yang lebih luas dari Asrul Sani. Karya-karyanya melintasi berbagai lapangan seni di masanya. Beberapa kawan juga membicarakan kumpulan puisi ‘Tiga Menguak Takdir’,” ungkap Riri.
Pada Juni 2012 terjadi sebuah momentum penting, yaitu restorasi film ‘Lewat Djam Malam’. Saat itu, kata Riri, tidak banyak yang membicarakan Asrul Sani sebagai penulis skenarionya karena dunia film Indonesia sangat berorientasi sutradara.
“’Lewat Djam Malam’ adalah film Indonesia pertama yang menjalani sebuah proses restorasi dalam kerja sama lintas negara Singapura-Italia-Amerika Serikat dan Indonesia. Film tersebut kemudian menjadi bagian dari klasik film World Cinema Foundation milik sutradara Martin Scorsese,” lanjut Riri.
Keontetikan Asrul Sani selaku penulis skenario terlihat jelas di sini. ‘Lewat Djam Malam’ menyajikan gambaran realita zaman melalui penggambaran tokoh yang gagap atas perubahan sosial. Menurut Riri, film ini memiliki struktur naratif melalui perkembangan plot yang tertata baik, namun juga menggambarkan dilema karakter yang dalam.
“Menonton ‘Lewat Djam Malam’ membuat saya bersyukur kita pernah memiliki seorang penulis skenario film yang bisa menjadi contoh,” kata Riri.
Dari sekian genre komedi satir yang ditulis Asrul Sani, Riri merasa ‘Naga Bonar’ (1985) sebagai karya kontekstual yang bahkan tak lekang oleh zaman. Disutradarai MT Risyaf karya yang memotret masa revolusi ini tokohnya adalah seorang copet yang romantis. Setting cerita juga berada di ruang yang jarang dipotret dalam khazanah film nasional.

“’Naga Bonar’ dapatlah dikatakan sebuah film yang bisa dilihat sebagai trilogi dari dari dua film lain yang ditulis Asrul Sani yaitu Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chaerul Umam, 1985) dan Bintang Kejora (Chaerul Umam, 1986). Ketiga film ini bicara tentang laki-laki terpapar oleh tantangan perkembangan zaman stabilitas ekonomi Orde Baru, dan berhadapan dengan situasi sulit secara internal maupun dalam lingkungan sosialnya. Film-film yang ‘kaya’ karena bisa membawa kita mentertawakan diri sendiri,” ungkap Riri.
Ia sangat berharap agar film-film yang ditulis maupun disutradarai oleh Asrul Sani dapat direstorasi dan diakses dalam sebuah kompilasi yang memadai sebagai bahan kajian film Indonesia.
“Kekuatan skenario Asrul Sani ada di dalam pemahaman yang kuat tentang teori struktur film. Penonton selalu bisa dengan cepat mengidentifikasi tokoh utama dengan motivasi yang jelas. Saya berharap ada yang lebih intensif melakukan kajian struktur dan karakter dalam film Asrul Sani,” lanjut Riri.
Berbeda dengan diksi puisi yang dikatakan Nirwan Dewanto ‘tak mencapai puncak frasa terbaik sebagaimana frasa-frasa puisi Chairil Anwar’, maka dalam menulis naskah dan menentukan judul film Asrul Sani adalah yang terbaik.
Kritikus film, Marselli, mengatakan Asrul selalu berhasil menemukan esensi dari ratusan halaman skenario dan merumuskannya dalam diksi bagus sehingga bisa menjadi judul film yang menarik perhatian penonton Indonesia.
“Asrul Sani adalah seniman, sastrawan, dan sutradara film yang berkarya di masa-masa paling menarik dari Indonesia. Ia datang dari “generasi cakap” karena lahir dari lingkungan sosial yang memungkinkan seorang seniman menjelajahi beberapa lapangan seni sekaligus, dan menjadikan seni sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Dia pantas sekali untuk ditengok kembali karyanya dan merupakan sebuah peluang dalam pelestarian film kita hari ini,” kata Riri menutup perbincangan.
Gambar: Widiyatno Kumisan (mix media)
Foto: Witjak Widhi Cahya Dok. TEMPO Kol. Tatiek Malyati Dok. Milesfilms
#sastraindonesia #asrulsani #pujanggabaruangkatan45
#sineasindonesia #atni #teaterindonesia #IndonesiaBerbudaya #kulturalindonesia #kulturalindonesiaID

