Perempuan Punya Cerita, Dua Cerita Perempuan Dalam Satu Pentas
Eki Dance Company baru saja mementaskan pertunjukkan musikalnya Perempuan
Punya Cerita, bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Berlangsung selama 4 hari, Perempuan Punya Cerita menyajikan dua cerita, yaitu
Cerita Anya dan Cerita Jami.
Pertunjukkan yang digelar dari 4-7 September 2025 itu sebetulnya tidak
menghadirkan cerita baru. Cerita Anya diambil dari pentas berjudul Bangku Kosong
yang ditampilkan pada Festival Musikal Indonesia 2023 dan Cerita Jami diambil dari
pentas Perempuan Punya Cerita pada Festival Musikal Indonesia 2024.
Namun terdapat beberapa pengembangan cerita, apalagi didukung tata artistik ala
Eki Dance Company yang selalu ciamik dan lagu serta musik yang berkualitas
garapan dari komposer Oni Krisnerwinto, menjadikan pertunjukkan dari EKI Dance
Company selalu membuat orang tertarik untuk menontonnya.
Diawali Cerita Anya, tema perundungan di sekolah menjadi inti ceritanya, dari
perundungan, muncul dendam dan masalah lainya. Tokoh Bobby seorang kutu buku
yang sering diintimidasi oleh teman-temannya kemudian dendam oleh Anya yang
telah menghinanya dan membunuhnya setelah mengetahui perbuatan bejatnya
Bobby.
Runtutan konfliknya cepat sehingga ada kesan dipaksakan, namun semua terobati
dengan sajian gerak dan lagu yang dipadu dengan artistik panggung, membuat
pertunjukkan pertama ini tidak membosankan, mengingat ceritanya yang pernah
dipentaskan sebelumnya.
Pertunjukkan kedua yang berjudul Cerita Jami lebih menarik, karena cerita lebih
kompleks, dari latar kampung pinggiran kota, hingga cerita permasalahan ibu dan
anak. Jami yang punya anak dari hubungan perselingkuhan beda ras, hingga
terjebak dalam dunia trafficking.
Lagi dan selalu EKI Dance menggiring drama dan kemeriahan di atas panggung.
Aksi penari dan lagu-lagu serta tata panggung yang didukung layar video
menguatkan cerita.
Seharusnya cerita bisa dikembangkan menjadi pentas dua babak, bakal lebih
mengesankan, karena banyak yang bisa dikulik dari segi cerita. Mulai dari cerita
awal hubungan gelap Jami dengan tokoh beristri, hingga kehidupan Minah, anak
Jami yang dibawa ke Jakarta oleh karakter bernama Mansur, bukan berhenti di
kepasrahan Jami akan situasi dalam hidupnya.
Namun pementasan ini tetap patut dipuji, mengingat pergantian karakter dari para
pemainnya dari dua cerita yang berbeda, dan menjaga semangatnya untuk tetap
masuk dalam karaternya selama 4 hari tentu perlu kekuatan mental dan fisik yang
prima, baik untuk para pemain dan crew.
Seperti konsistensi Eki Dance Company untuk tetap mementaskan pertunjukkan
musikal berkualitas dengan tetap mengedepankan keIndonesiaan, walaupun telah
ditinggalkan oleh pendirinya, Rusdi Rukmarata “Memang sejak berpulangnya Papa
kami harus menyesuaikan diri. Kami mengambil perannya, saya pun belajar
menjadi sutradara dan Nala ( Nala Amrytha) menjadi produser, “ ujar Ara Ajisiwi,
sang sutradara sekaligus pemain di malam gladi resik pementasan.






