Lebih Senyap Dari Bisikan
Lebih Senyap dari Bisikan menceritakan tentang perjalanan hidup pasangan muda
Amara dan Baron. Mereka telah menjalin hubungan sejak duduk di bangku kuliah.
Meskipun ibu Amara sempat menolak hubungan mereka, pada akhirnya Amara dan
Baron bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kehidupan mereka setelah menikah
awalnya berjalan seperti biasa. Namun lama-kelamaan mereka merasa seperti ada
celah kosong dalam pernikahan mereka. Setelah melalui berbagai diskusi, interaksi,
serta pergolakan batin masing-masing, Amara dan Baron sepakat bahwa salah satu
celah itu akibat mereka belum memiliki anak. Setelah menjalankan program
kehamilan di tahun kelima pernikahan mereka dikaruniai Yuki, anak pertama yang
sudah mereka nanti-nantikan.
Kehidupan Amara dan Baron dapat dikatakan berubah cukup drastis setelah kelahiran
Yuki. Novel ini memberikan gambaran bahwa perjalanan menjadi seorang ibu adalah
sebuah kensunyian. Apa yang dirasakan dan dialami oleh Amara terasa begitu
senyap, sebab tak ada yang benar-benar memahami seperti apa rasanya
menjalankan sebuah peran yang dikelilingi oleh berbagai stigma. Adinda Dwifatma
sebagai penulis memberikan perspektif perempuan dalam narasi ini. Amara sebagai
ibu menjalankan tanggung jawab yang begitu besar. Hari-harinya diisi dengan
lelahnya begadang, masalah menyusui, serta membagi waktu antara mengurus
pekerjaan dan mengasuh Yuki. Beberapa bulan berjalan, rumah tangga Amara dan
Baron diterpa masalah keuangan. Baron mengalami kerugian lebih dari satu miliar
dari bisnis yang ia jalankan sehingga berdampak pada ekonomi keluarga. Tak lama
aset berupa mobil dan rumah harus rela dilepaskan oleh Amara dan Baron. Mereka
pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil. Di situ lah kehidupan mereka benar-benar
diuji.
Amara sebagai perempuan ditempatkan dalam posisi yang begitu sulit. Di satu sisi ia
harus mengasuh Yuki, di sisi lainnya ia harus mencari pekerjaan supaya kebutuhan
keluarga mereka tetap tercukupi. Sedangkan Baron bisa pergi begitu saja. Dalam
novel dikisahkan bawa Baron pergi untuk beberapa waktu meninggalkan Amara dan
Yuki karena ia sangat merasa bersalah. Namun, apa yang dilakukan Baron justru
menambah masalah. Amara menjalani beban dari peran ganda yang begitu berat.
Suami yang seharusnya ada bersama-sama dengannya menghadapi ujian dalam
berumah tangga dan mengasuh anak semata wayang mereka justru meninggalkan
Amara untuk berjuang sendiri. Amara pada akhirnya harus menghadapi pengalaman
yang lebih sulit lagi di mana kondisi Yuki yang sering sakit. Sampai suatu saat Yuki
harus masuk rumah sakit karena digigit tikus. Saat itu lah emosi Amara begitu tidak
stabil. Namun, beruntungnya ia masih memiliki Macan, seorang tetangga yang baik,
serta ibunya.
Melalui kisah Amara dan Baron kita dihadapkan pada realitas yang berbeda tentang
peran ibu. Mungkin dalam keseharian kita masih sering terpapar berbagai konten di
media maupun pernyataan-pernyataan yang kerap meromantisasi peran ibu sehingga
melupakan bahwa berperan sebagai ibu adalah sebuah perjuangan yang penuh
dengan suka dan duka. Rasa gembira, cinta, marah, kesal, bersalah semuanya
merupakan emosi yang valid bagi seorang ibu. Melalui tokoh Amara kita dapat melihat
berbagai emosi itu terjadi. Namun, emosi-emosi itu kadang tak bisa diceritakan ke
dunia luar. Sebab, kerap kali ada keluhan dari seorang ibu yang datang bukanlah
dukungan melainkan cibiran. Hal itu menjadikan kehidupan ibu dan pergolakan
emosinya adalah sesuatu yang tersembunyi, lebih senyap dari bisikan. Kisah dalam
novel ini seakan mengingatkan kembali bahwa di kehidupan nyata mungkih masih
ada Amara lain yang harus berjuang sendiri dalam mempertahankan kehidupannya
dan anaknya.
Meskipun novel ini tidak tebal, novel ini memuat kompleksitas dalam relasi gender
serta kritik terhadap konstruksi sosial dalam memandang perempuan. Dalam bagian
awal novel, tokoh Amara menyatakan: Di akhirat nanti, kalau aku bertemu Tuhan, aku
akan tanyakan kenapa Dia bikin tubuh perempuan seperti makanan kaleng.
Kubayangkan di bawah pusar atau pantatku ada tulisan Best Before: Mei 2026.
Pernyataan itu merupakan cerminan dari realitas tentang bagaimana pandangan
dominan masyarakat tentang perempuan. Perempuan harus menikah di usia tertentu.
Kalau tidak akan sulit dapat jodoh, sulit hamil, dan berbagai kesulitan lainnya. Pada
akhirnya beberapa perempuan yang otonominya terbatas terpaksa menikah dan
memiliki keturunan padahal ia belum benar-benar siap. Begitu juga dengan konstruksi
sosial terhadap laki-laki di mana maskulinitas sama dengan kekuatan. Ia tak boleh
terlihat lemah. Tokoh Baron sebagai laki-laki dan suami adalah perwujudan dari
konstruksi maskulinitas itu. Masalah keuangan keluarga yang bermula dari dirinya
membuatnya merasa bersalah. Ego maskulinitas yang selalu dilekatkan pada laki-laki
membuat mereka sering kali tak bisa menerima kegagalan dan sulit meminta maaf.
Saat masalah menghantam keluarganya Baron lebih memilih pergi daripada bertahan
dan mencari solusi.
Kompleksitas dalam kehidupan rumah tangga yang dikisahkan dalam novel ini
memberikan pesan bahwa suami dan istri adalah dua nahkoda yang bersama-sama
mengemudikan kapal. Segala permasalahan dalam rumah tangga adalah tanggung
jawab berdua. Oleh karena itu keduanya harus mau bertahan dan sama-sama
mencari solusinya. Jika mereka memiliki anak maka anak mereka juga menjadi
tanggung jawab bersama. Peran mengasuh masih sering dibebankan hanya pada
perempuan padahal laki-laki sebagai suami juga punya beban tanggung jawab yang
sama untuk mengasuh anak. Novel ini kaya akan pesan moral dan mengajak
pembaca untuk merefleksikan kembali tentang bagaimana mereka menjalankan
kehidupan rumah tangga masing-masing.
Andina Dwifatma adalah seorang penulis Indonesia yang memulai debut novelnya
pada tahun 2012. Novel pertamanya yang juga meraih penghargaan sebagai
pemenang utama dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012
berjudul Semusim, dan Semusim Lagi. Novel itu juga membawanya masuk dalam
Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2015. Pada tahun 2023, novel
berjudul Menua dengan Gembira yang merupakan novel ketiganya terbit. Andina
Dwifatma juga menulis esai, cerpen, dan kolom di media massa. Selain sebagai
penulis, Andina Dwifatma juga berprofesi sebagai dosen Ilmu Komunikasi salah satu
universitas swasta di Jakarta






