Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Problematika Penerjemahan Karya Sastra Kontemporer

Problematika Penerjemahan Karya Sastra Kontemporer

Karya-karya penulis kontemporer Indonesia di jagat sastra global memang tak banyak. Diantara nama-nama penting seperti Arundhati Roy, Haruki Murakami, Jhumpa Lahiri, Han Kang, dan lainnya, belakangan mulai terselip nama Eka Kurniawan. Konon isunya bukan lantaran sulit mencari penerjemah bahasa Indonesia, melainkan promosi yang teramat minim.

Beberapa waktu lalu, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyelenggarakan resepsi untuk menyambut keikutsertaan Indonesia dalam Academie Goncourt, sebuah ajang penghargaan sastra bagi penulis Prancis. Kultural Indonesia turut hadir dalam acara tersebut, bersama para mahasiswa dan pengajar Sastra Prancis, penerjemah, penulis, dan pegiat program sastra dan budaya.

Ada empat buku karya penulis-penulis Prancis yang akan dikaji isinya oleh para mahasiswa terpilih. Kelak buku yang paling banyak mendapatkan pujian dari ‘para kritikus’ muda ini akan mendapatkan penghargaan dari Academie Goncourt. Program ini adalah bentuk soft diplomacy pemerintah Presiden Macron dalam mengenalkan karya-karya sastra kontemporer Prancis.

Penone mengatakan bahwa pasar buku sastra Asia cukup menjanjikan di Prancis, namun tanpa promosi yang gencar keinginan untuk mengglobalkan sastra Indonesia akan sulit terwujud.

“Sebetulnya bukan kendala bahasa, tapi lebih ke membangun jaringannya dulu. Kami harus memperkuat kerja sama. Kita memiliki nilai-nilai kehidupan yang dekat tapi masih banyak orang Prancis yang tak kenal Indonesia. Saya kira yang sekarang perlu dilakukan adalah membangun jembatan kerja sama, membangun platform-nya dan itu yang sedang kami lakukan dengan meluncurkan program residensi bagi penulis dan penerjemah, yang juga kami undang untuk berpartisipasi dalam Festival Kesusastraan baik di Prancis maupun di Indonesia,” ungkap Penone kepada Kultural Indonesia.

Terkait penerjemahan, Laksmi Pamuntjak memiliki pengalamannya sendiri. Penulis novel Amba ini mengisahkan lika liku penerjemahan untuk pasar luar negeri yang pada umumnya terpisah dengan urusan penerbitan. Ia mengaku sebetulnya telah meniatkan Amba –novel pertamanya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Sayangnya, niat ini terkendala sistem peredaran buku di Prancis yang berbeda dengan Indonesia.

“Saya punya agen yang saat itu memiliki berbagai pertimbangan, sementara saya menilai penerjemahan adalah aspek yang paling penting. Itu hanya bagi penerbit yang betul-betul berminat. Penerjemah buku di Prancis itu tidak satu lembaga dengan penerbit. Saat itu karena (penerjemahan dan penerbitan) tidak satu paket maka minat untuk menerjemahkan Amba ke dalam bahasa Prancis pun kandas,” kisah Laksmi.

Setelah Amba, Laksmi menulis novel berbahasa Inggris, Fall Baby pada 2018 yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Dua tahun setelahnya buku itu diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Kekasih Musim Gugur (2020). Novelnya yang lain, Aruna dan Lidahnya (2014) sudah diangkat ke dalam film. Sedangkan kumpulan cerpen Kitab Kawin (2021) memenangkan penghargaan Humanities in Translation pada 2025 dari Amerika Serikat.

Saat ini Laksmi baru saja merampungkan Selaput Biru, sebuah memoar yang diselesaikan dalam masa residensi kepenulisan di Prancis pada 2024.


“Saya mendapatkan grant (pembiayaan) dari pemerintah Prancis berupa residensi di Paris dan selama 6 bulan saya menulis Selaput Biru. Ini semacam memoar tapi bukan tipe memoar yang kronologis melainkan petikan dari momen-momen kecil. Saya selesai menulisnya pada 2024 dan sudah terbit dalam bahasa Indonesia, sedangkan versi bahasa Inggrisnya baru saja rampung,” ungkap Laksmi.

Meski pemasaran buku-buku sastra Indonesia kurang lancar dan tak sebanding dengan promosi karya-karya penulis Asia lainnya, pemerintah Prancis memiliki pertimbangan tersendiri.

“Sebetulnya pemerintah Prancis telah mengeluarkan grant untuk penerjemahan karya-karya sastra kontemporer Indonesia ke dalam bahasa Prancis. Kami tentu memulainya dengan menemui para penerbit karena kami harus melihat juga jenis karya sastranya. Kemudian upaya promosi juga dilakukan di Prancis untuk memastikan ada pasar pembacanya juga kelak,” jelas Penone.

Penone mencontohkan kehadiran Presiden Academie Goucourt, Philippe Claudel dan Karina Hocine dari penerbit Editions Gallimard, dalam Makassar International Writers Festival 2026 pada 14-17 Mei lalu. Tujuan mereka tak lain untuk menjaring bakat-bakat baru dan menerbitkan karya-karya kontemporer terbaik.

“Dengan adanya undangan ke Makassar International Writers Festival kami berharap dapat bertemu dengan para penerbit dan penulis yang bisa mendapatkan kesempatan menerbitkan buku-buku mereka dalam bahasa Prancis,” kata Penone.

Sejauh ini, karya-karya Eka Kurniawan mendapatkan sambutan hangat dari khalayak Prancis, termasuk Philippe Claudel.

“Dua bulan lalu saya sempat membaca novel penulis Indonesia di Prancis, namanya Eka Kurniawan dan judulnya Sato l’impie (terjemahan dari novel Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong). Karya-karya Eka Kurniawan diterbitkan dalam bahasa Prancis oleh penerbit Sabine Wespieser Éditeur,” kata Claudel yang juga seorang penulis dan sutradara film.


Novel Eka Kurniawan yang telah terbit dalam bahasa Prancis adalah Cantik itu Luka(Les Belles de Halimunda), Lelaki Harimau (L’Homme-Tigre), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (La Rage et l’Envie), serta Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (Sato l’impie). Novel ini juga telah diakuisisi hak terjemahannya ke dalam bahasa Prancis oleh penerbit yang sama.

Foto: Wella Madjid | Kultural Indonesia

#sastraindonesia
#penerjemahansastrakontemporer
#penulisindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#BudayaBaca
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.