Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Alexandra Karyn, Seniman Instalasi yang Peduli dengan Kaum yang Dimarjinalkan

Alexandra Karyn, Seniman Instalasi yang Peduli dengan Kaum yang Dimarjinalkan

Sebuah Cerita Dari Kampung Dadap

Alexandra Karyn, seniman muda yang telah dikenal dengan karya-karya
instalasinya yang merajut berbagai medium. Mulai dari tulisan, film, foto, gambar,
suara dan lokasi. Lulusan Lasalle College of Arts Singapura dan Universitas
Northumbria Inggris ini selalu mendahulukan riset yang mendalam sebelum
membuat karya-karyanya. Saat ditemui dalam pameran bersama Kukuh
Bertumbuh di Galeri Cemara 6, Juli 2025, karyanya merupakan hasil risetnya di
dalam Kampung Dadap, Jakarta Utara yang telah lama dipenuhi persoalan tanah
dari tekanan para ‘penguasa’.
Baginya seni itu tidak selalu bermula dan berakhir di galeri, tidak berjarak dengan
penikmatnya, bahkan harus berguna dalam keseharian. Berikut wawancara Kultural
Indonesia dengan Karyn.

K: Anda lahir dan besar di mana dan sekarang berdomisili Dimana? Bisa
diceritakan apakah bakat dalam berkesenian sudah terbentuk dr masa kecil
dan bagaimana dukungan keluarga?

AK: Saya lahir dan besar di Jakarta. Sekarang saya berdomisili di Jakarta dan
Tangerang. Selain menulis berbagai puisi, nampaknya “bakat berkesenian” saya
sedari kecil muncul dalam bentuk-bentuk yang tidak selalu konvensional, misalnya
menciptakan bahasa tulis imajiner, mengumpulkan dan menyusun benda-benda
temuan, dan membuat perhiasan dari kain-kain bekas.

Keluarga mendukung saya karena mereka memaklumi bahwa seni dan kerja-kerja
komunitas adalah jalan hidup yang harus saya tempuh.

K: Mengapa kemudian melanjutkan pendidikan dalam institusi kesenian dan
di luar negeri?

AK: Sejujurnya, keputusan untuk belajar seni dalam perguruan tinggi datang dari
proses eliminasi. Saat itu saya tidak bisa membayangkan jurusan apa yang cocok
dengan minat saya yang beragam. Dari pengalaman studi lanjut, pengertian saya
terhadap “seni” pun berkembang, maka saya mendapati banyak ruang untuk
mengembangkan proses, nuansa, dan medium berkesenian yang cocok dengan
batin saya.

K: Bagaimana proses dalam pembuatan karya, dari awal inspirasi dan ide
hingga menjadi karya?

IK: Inspirasi biasanya datang dari menjalani keseharian hidup atau dari mimpi-mimpi
saat tidur. Saya selalu mencatat ide-ide ini, dan ketika waktunya datang, mereka
berkembang menjadi perasaan, konsep, bahasa, lalu menjadi karya atau proyek
berkepanjangan. Yang saya harus lakukan hanyalah memberi perhatian dan
bersabar.

K: Apakah ada ciri khas karya-karya Anda?

AK: Biasanya karya-karya saya selalu melibatkan tulisan, dan mereka berwujud
dalam obyek-obyek yang bisa dipakai, disentuh, dan dibawa pulang. Saya suka
menyaksikan benda-benda seni berubah menjadi benda-benda keseharian, bahwa
seni tidak harus diperlakukan sebagai aset, benda mahal, atau obyek yang rentan,
dan seni tidak harus berjarak dengan orang-orang yang mengalaminya, bahwa seni
itu keseharian, maka mengalami seni tidak dimulai maupun diakhiri di galeri.
Beberapa contoh karya seni saya yang sudah lampau adalah menulis dan mencetak
koran, membuat meja bersama-sama, menempatkan kursi untuk diduduki di galeri,
menonton matahari terbit dan tenggelam di empat titik pesisir Jakarta, dll.

K: Anda berpengalaman berkesenian di luar negeri, bagaimana dengan dunia
kesenian, seni rupa di Indonesia apakah setara atau lebih baik dari negara lain

AK: Tentunya karya-karya seni rupa di Indonesia mempunyai ciri, dinamika, dan
warna-warnanya sendiri, dan mereka tidak lebih baik maupun lebih buruk dari
negara lain. Yang menarik perhatian saya adalah kesehatan ekosistemnya, namun
sebenarnya saya juga jarang berpameran dan tidak begitu terlibat di dalam skema
seni Jakarta, jadi saya juga kurang tahu menahu mengenai kondisi ekosistem seni di
Indonesia. Mungkin itu sesuatu yang saya bisa selidiki di masa yang mendatang.

K: Apakah ada kegiatan atau hobi lain diluar berkesenian dalam keseharian?

AK: Memasak dan nyari makanan enak. Berteman. Tidur panjang.

K: Apakah anda juga menggemari buku. Adakah buku yang berkesan untuk
anda? Dan kenapa?

AK: Saya sangat menggemari buku. Bacaan favorit saya berkaitan dengan
antropologi, ekologi, mistisisme, spiritualisme, dan psikologi. Ada satu buku
karangan Clarice Lispector yang berjudul Água Viva, yang sudah saya baca selama
sembilan kali. Buku ini berkesan untuk saya karena gaya penulisan dan topik-topik di
dalamnya yang menyerupai mantra. Tentu saya juga sangat suka membaca Kredo
Puisi karangan Sutardji Calzoum Bachri. Belakangan ini, saya lagi gemar membaca
teori-teori depth psychology karya Jung sembari mempelajari astrologi Weda.

K: Adakah perupa yang menjadi panutan anda, siapa dan kenapa?

AK: Dwinanda Agung Kristianto, yang memaknai setiap kesehariannya sebagai
karya seni.

K: Adakah pencapaian dalam berkarya yang ingin dicapai tapi belum atau akan
dikerjakan ke depan?

AK: Saya ingin merancang sekolah komunitas dan menerbitkan buku anak.

K: Bisa diceritakan proses pengkaryaan dalam pameran Kukuh Bertumbuh,
mengapa memilih kampung Dadap, pengalaman apa paling berkesan di
sebagai bagian dari pengerjaan project di Kampung Dadap?

AK: Tahun 2021 adalah kali pertama kunjungan saya ke Kampung Dadap, padahal
selama saya lahir dan besar di Jakarta, lokasi Kampung Dadap tidak terlalu jauh dari
rumah saya. Sejak itu saya tidak bisa melupakan Kampung Dadap dan orang-orang
yang saya jumpai di sana. Jadi, selama 4 tahun terakhir, saya mencoba
menanyakan kabar secara berkala, berkunjung, dan berproyek bersama-sama
warga Kampung Dadap. Namun, hubungan kami baru betul-betul mulai mendalam di
3 bulan terakhir, bertepatan dengan riset untuk skripsi studi lanjut dan pameran ini.

Menurut saya, berbagai bentuk perjuangan Kampung Dadap dalam melawan
penindasan dan kekerasan aparat dan oligarki selama 50 tahun terakhir ini sangat
patut untuk diceritakan dan diingat secara kolektif, terutama bagi warga ibukota yang
mungkin belum mengenal cerita-cerita mereka.

Sebab memori, narasi, dan keberadaan mereka terus menerus dihapus bersamaan
dengan ruang hidup mereka yang terus digerus. Maka karya dan pameran ini saya
cita-citakan sebagai salah satu wahana bagi warga-warga ibukota untuk mendengar,
melihat, mengalami, dan memahami narasi-narasi Kampung Dadap. Semoga
kedepannya tercipta ruang solidaritas untuk mereka

Semua pengalaman yang saya jalankan bersama warga Kampung Dadap berkesan
dan bermakna karena mereka menyambut dan menjaga saya dengan sangat
hangat. Ada rasa kekerabatan, empati, haru, semangat, dan kekuatan yang
mendalam. Ini semua sangat berharga dan tidak akan saya lupakan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.