Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Djakarta International Theater Platform 2026, “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map”

Djakarta International Theater Platform 2026, “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map”

Dunia tengah mengalami pergeseran radikal yang ditandai oleh gesekan geopolitik, krisis lingkungan, serta konflik global yang semakin kompleks. Lantas bagaimana manusia mempertahankan kewarasan berpikir, apa dan bagaimana sumbangsih terpenting para seniman?

Dalam cengkeraman otoritarianisme dan logika algoritma yang menyeragamkan cara pandang, kesenian saat ini barangkali tidak sekadar dituntut untuk bertahan. Ia justru menjadi ruang yang memungkinkan imajinasi kemanusiaan tetap bergerak. Seni bertransformasi menjadi sebuah jembatan lunak untuk membuka kemungkinan lain bagi identitas, wilayah, dan pengetahuan.

Tahun ini, Djakarta International Theater Platform (DITP) mengusung tema “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map” melalui pendekatan “Antara sebagai Metode”.

Yudi Ahmad Tajudin, salah satu pendiri dan sutradara Teater Garasi, mengawali perhelatan DITP 2026 dalam ‘Horizon’ bersama Sasapin Siriwanij, pendiri Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM). Keduanya berdialog panjang mengenai (Men) Citra Niskala, bagaimana teater diciptakan sebagai peristiwa panggung dan teater sebagai ruang huni bersama, atau yang disebutnya ‘ekosistem’.

“Pergulatan akan selalu ada untuk seniman teater, misalnya ketika kita mendefinisikan ‘Teater Indonesia’ yang seolah-olah (terpusat) di Jawa. Padahal pasca-98 banyak pelaku teater di tempat lain berekspresi dan tidak selamanya yang di daerah itu pasti teater tradisi,” ungkap Yudi kepada Kultural Indonesia. Ia menilai forum-forum semacam DITP harus digelar secara rutin karena sangat berharga.

“Forum ini mempertemukan seniman teater Asia Tenggara. Sementara kita punya banyak kesejarahan yang mirip. Sasapin tadi bilang ada kolonialisme dalam bentuk lain yang berlangsung di Thailand, bahkan istilah ‘Thailand’ sendiri sebetulnya bagian dari respons atas kolonialisme itu,” tambah Yudi.

Faktor kesejarahan yang sama menjadikan seniman teater ASEAN menemukan pola yang sama dalam perilaku pemerintahnya terhadap kesenian, khususnya teater.

“Selama sepuluh tahun Thailand dipimpin rezim militer. Kini pemerintah memang sipil tapi kekuatannya masih dipegang oleh militer. Saya kira keadaan kita di Asia Tenggara memang sedang tidak baik-baik saja, dalam hal ini kita semua satu frekuensi, ” kata Sasapin.

Ia menambahkan di Thailand seni tradisional masih menjadi primadona pemerintah dalam memaknai kesenian. Nyaris tak ada ruang bagi kesenian alternatif atau katakanlah teater modern yang mengkritisi pemerintah. Menurut Sasapin implikasi dari kondisi tersebut adalah ketiadaan ruang untuk menyalurkan gagasan kritis, apalagi Bangkok tidak memiliki pusat kesenian sebesar Taman Ismail Marzuki.

Sebagai praktisi teater, ini bukan pertemuan pertamanya dengan Yudi Ahmad Tajudin. Bahkan para seniman di level ASEAN terbiasa saling berkabar seputar kondisi di negara masing-masing.

“Dalam kondisi geopolitik yang berubah secara dramatis seperti sekarang kami justru saling menguatkan, saling bertemu, dan saling mendukung. Jangan melihat dari sisi pandangan yang berbeda tapi lebih melihat persamaan yang kita miliki,” tambah Sasapin.

Runsmitter Club Angkat Isu Polusi Sungai Batanghari

Selain tema dekolonisasi –yang diangkat dalam dialog ‘Horizon’, isu lingkungan tetap menjadi perhatian seniman. Penampilan memukau dari Runsmitter Club asal Jambi menunjukkan betapa kuatnya pengaruh problem nyata di masyarakat terhadap karya mereka.

Pementasan “Naga dari Selatan” dibuka dengan monolog Salira Ayatusyifa, yang juga bertindak sebagai sutradara. Mereka mengangkat isu pencemaran sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera yang membelah kota Jambi sekaligus membentuk identitas penduduknya. Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari menyumbangkan ekonomi yang besar untuk warga dan menjadikannya urat nadi kehidupan, budaya, transportasi, dan sumber air bersih utama bagi masyarakat setempat.

Sambil bermonolog, latar musik dan video menciptakan bebunyian air sungai beserta habitat di dalamnya. Salira berganti kostum, ia ‘berenang’ di sungai yang jernih bersama makhluk-makhluk air. Cerita lalu bergulir dengan kehadiran industri sehingga berdampak pada polusi berat sungai. Mulai dari mangan, besi, hingga emas ditemukan di sungai Batanghari. Limbah industri ini menjadi racun yang menghancurkan seisi sungai beserta lingkungan sekitar.

Dua aktor memainkan peran sebagai Tiktaalik, makhluk air yang menghadapi ancaman ekologis akibat industri sekaligus perubahan iklim. Mereka kesulitan bernafas dan berenang. Sementara dua aktor lain mewakili pihak perusahaan, lengkap dengan helm dan rompi proyek, memantau sungai dari atas menara tanpa mengetahui kondisi di dasar sungai. Sungguh dua kondisi yang kontras.
Di akhir cerita, semua makhluk menjadi korban keganasan industri. Ikan-ikan bergelepar sekarat dan penyakit gatal menyebar ke manusia-manusia yang selama ini bergantung hidup di sungai. Dialog terangkai antara bunyi, visual, dan penceritaan, diperkaya dengan gerak tubuh yang menggambarkan bencana ekologis.

DITP sebagai Platform Gagasan dan Keberanian

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Yustiansyah Lesmana mengungkapkan DITP adalah rumah yang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan dan harapan.

“Para seniman datang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan harapan dari tempat yang berbeda. Setiap orang datang dengan pengalaman dan pertanyaannya masing-masing,” ujar Yustiansyah.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi mengatakan DITP tidak sekadar platform pertunjukan, lebih dari itu sebagai ruang pertemuan dan percakapan tentang masa depan melalui kacamata teater.

“Melalui teater, kita diajak bukan sekadar mencari jawaban, melainkan memelihara keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru tentang masa depan bersama” ungkapnya.

DITP 2026 berlangsung pada 5-8 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, menyuguhkan empat pertunjukan dalam program Staging, yaitu dracom (Jepang), Jean-Baptise Phou (Kamboja), rokateater (Indonesia), dan Runsmitter Club (Indonesia). Sementara tiga international Co-Production Presentation dipersembahkan dalam program Proposisi, yaitu Her Lab Space (Taiwan), Thread (Ukraina), dan Kelola (Indonesia). Sisanya berupa empat presentasi dalam program Eksposisi bersama Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM), Sino Japanese, Precog, dan Kelola.

Foto: Andi Maulana | DKJ
Wella Madjid | Kultural Indonesia
#senipertunjukkanindonesia
#djakartainternationaltheaterplatform2026
#dewankesenianjakarta
#seniteaterindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.