Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

‘Berkelana dan Terdampar’ dalam Sinema Asrul Sani

‘Berkelana dan Terdampar’ dalam Sinema Asrul Sani

Sebagian tokoh dikenang melalui karya, sebagian lagi melalui lintasan gagasan. Asrul Sani adalah keduanya. Istimewanya lagi, ia mampu menuangkan ide-ide serius ke dalam naskah film panjang yang dapat dinikmati semua kalangan. Dewan Kesenian Jakarta menampilkan jejak karya dan pemutaran sejumlah filmnya di Taman Ismail Marzuki.

Karya-karya film Asrul Sani terbentang sejak masa setelah kemerdekaan Indonesia hingga era pembangunan nasional yang gencar di bawah rezim Orde Baru. Maka kita akan dapat melihat beragam tema; mulai dari mantan pejuang yang gamang setelah Indonesia merdeka di Lewat Djam Malam hingga pencopet yang cinta tanah air seperti Nagabonar. Atau sindiran-sindiran terhadap pemerintah seperti Omong Besar juga komedi romantik seperti Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

“Hari ini jejaknya diabadikan di ruang-ruang yang ia tinggalkan sebagai jejak kekayaan untuk publik. Ini tentang hubungan seorang maestro dengan lembaga yang pernah menjadi rumahnya. Luasnya cara ia bekerja terbentang mulai dari pendidikan, kesenian, dan kebudayaan. Pameran ini bukan hanya visual semata. Kami ingin karya-karya Asrul kembali ditonton, dibaca, dan dibicarakan,” ujar Dewi Umaya, Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta, saat membuka pameran Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini, Jumat (21/8).
Istri Asrul, Mutiara Sani, mengatakan seni adalah tanggung jawab moral, terutama moral kebangsaan dan kemanusiaan yang masih relevan hingga saat ini. Pernyataan ini kerap disampaikan suaminya.

“Karya-karya Asrul Sani merefleksikan cermin kejujuran. Ada semangat berpikir kritis, keberanian dalam berkarya, dan komitmen teguh terhadap kemanusiaan. Merawat warisannya itu adalah tanggung jawab seniman, akademisi, institusi, dan masyarakat,” kata Mutiara.

Titian Serambut Dibelah Tujuh Diproduksi Dua Kali

Ida Leman (71) aktris senior yang pernah bekerja sama dengan Asrul Sani, tertegun di depan foto-foto catatan perjalanan film sang maestro. Di sana tertera Titian Serambut Dibelah Tudjuh dengan tahun produksi 1959. Sementara film yang berjudul sama ikut ia perankan (sebagai istri Arsad) pada 1982.

“Saya baru tahu kalau film itu pernah dibuat sebelumnya pada 1959, ya baru hari ini tahunya. Kalau tidak ke sini saya akan mengira bahwa (versi) tahun 1982 itu yang pertama,” ungkapnya kepada Kultural Indonesia usai pembukaan pameran.

Mutiara Sani, istri Asrul, yang berdiri di samping Ida lekas mengatakan bahwa versi 1982 adalah re-make atau film yang sama tapi diproduksi ulang.

“’Titian Serambut Dibelah Tujuh’ dibuat ulang pada 1982 dan disutradarai oleh Chairul Umam,” kata Mutiara. Film ini berhasil memenangkan penghargaan skenario terbaik untuk Asrul Sani pada Festival Film Indonesia (FFI) 1983 di Medan.

“Saat pengambilan gambar saya sedang hamil 7 bulan, anak pertama. Pengambilan gambarnya di Danau Maninjau. Saking bersemangatnya naik speed boat ketika sampai di pinggir danau saya lompat, itu bayi saya sampai sungsang dan saya harus diurut bidan,” kisah Ida Leman sambil tergelak mengenang peristiwa itu. Untung kandungannya selamat dan lahirlah Mario Irwinsyah, putra pertamanya yang juga seorang aktor.

Baik Hati dan Tekun Mengamati Perubahan Sosial Masyarakat

Berbagai kalangan mengenang Asrul sebagai seorang cendekia yang baik hati. Ia banyak membaca dan memiliki kedalaman minat yang luas pada kemanusiaan dan hak asasi manusia. Selain itu, Asrul memiliki kemampuan menulis naskah panjang namun tetap fokus mempertahankan esensi cerita bagi penonton, bahkan ketika naskah itu disutradarai oleh orang lain. Di sana kita bisa melihat kepiawaian seorang Asrul Sani.

Meskipun ia belajar sinematografi di Amerika Serikat dan Eropa, namun tema-tema yang diangkat dalam karyanya kebanyakan berasal dari pengamatan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Masa-masa setelah kemerdekaan Indonesia pada 1950an hingga pembangunan Indonesia pada 1970an dan 1980an turut ia cermati dan refleksikan dalam sinema khas Indonesia.

Salah satu karya terpentingnya adalah Lewat Djam Malam (1954), yang belakangan kembali diputar pada 18 Juni 2012 setelah melalui proses restorasi di Laboratorium L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia, oleh Lisabona Rahman dan Lintang Gitomartoyo bekerjasama dengan National Museum of Singapore (NMS) dan World Cinema Foundation. Film ini kemudian diputar pada pembukaan sub-festival Cannes Classic dalam ajang Festival de Cannes 2012 di Cannes, Prancis.

Pameran Maestro Film Indonesia 2026, Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini berlangsung pada 21-30 Agustus 2026 di Teater Asrul Sani, Gedung Trisno Sumarjo, Taman Ismail Marzuki. Pemutaran film akan disertai diskusi dan pembacaan cukilan naskah film. Gratis dan terbuka untuk umum.

Foto: Dok.Kineform
Wella Madjid | Kultural Indonesia

#pameranmaestrofilmindonesia2026
#asrulsani
#filmindonesia
#kineforum
#tamanismailmarzuki
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.