Faisal Darmawan, Perupa Asal Selayar, Dari Tangannya Kardus Menjadi Karya Seni
Faisal Darmawan, perupa yang berasal dari kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan membawa angin segar dengan karyanya yang berbeda di dunia seni rupa Indonesia. Media kardus yang selama ini dipandang sebelah mata, ditangannya berubah menjadi karya seni kontemporer yang tidak hanya kaya makna tetapi juga kekinian.
Bahkan dari kardus terciptalah IP Bernama Carthea, sosok karakter yang menjadi pusat karya dari kertas kardus dari seniman lulusan Institut Kesenian Surakarta ini olah. Untuk lebih mengenal sosok muda yang telah membawa karyanya ke berbagai pameran, baik dalam maupun luar negeri ini, Kultural Indonesia melakukan wawancara singkat.
KI: Bisa ceritakan kehidupan masa kecil Anda di Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan dan apakah sudah terlihat bakat seni rupa Anda?
FD: Sejak saya kecil memang sudah suka menggambar, seperti anak kecil pada umumnya, menggambar di tembok kamar, di halaman terakhir buku tulis atau di meja belajar di sekolah. Sering mewakili sekolah untuk ikut lomba menggambar dan melukis. Sampai SMA saya jg masih sering melukis.
Saya melukis karna SD sampai SMA itu banyak problem di keluarga saya. Saya tidak punya teman untuk saya ajak cerita atau mungkin karna saya tidak bisa mengucapkan apa yang saya rasakan lewat kata-kata. Makanya saya melukis.
Bagi saya melukis adalah ruang atau wadah yang tepat untuk saya meluapkan isi hati tanpa harus menjelaskan
KI: Mengapa bisa memilih untuk melanjutkan kuliah di IKS?
FD: Awalnya saya tidak terpikir untuk mengambil jurusan seni karena lebih tertarik pada bidang kesehatan. Namun, karena biaya pendidikan di jurusan kesehatan cukup tinggi, saya memutuskan untuk mengembangkan hobi melukis yang sudah saya tekuni. Selain itu, salah satu guru saya juga merekomendasikan agar saya mendaftar ke Institut Seni Indonesia Surakarta.
KI: Bagaimana Anda memulai karir sebagai perupa?
FD: Setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Kota ini dikenal memiliki perkembangan yang sangat pesat di bidang seni rupa, sehingga saya melihat banyak peluang untuk mengembangkan diri. Di sana, saya mulai memperluas pergaulan dengan sesama seniman dan aktif mengikuti berbagai pameran bersama teman-teman.
KI: Pameran terakhir di Jakarta menggunakan medium kardus, bisa diceritakan awalnya ide menggunakan kardus sebagai medium karya seni Anda?
FD: Sebagai perantau saya melihat kardus banyak menemani perjalanan seseorang. Kardus menjadi wadah untuk menyimpan dan melindungi barang berharga orang orang.
Bagi banyak orang, kardus mungkin hanya dianggap benda biasa. Murah, rapuh, mudah rusak, bahkan sering dibuang setelah digunakan. Tapi setiap kali pindah rumah, ‘kardus’ yang selalu diandalkan. Setiap kali kirim sesuatu yang berharga, ‘kardus’ yang melindunginya di perjalanan.

Ia selalu ada di momen-momen penting. Tapi tidak pernah benar-benar dilihat.
Dari situ, Saya merasa ada kedekatan emosional dengan kardus. Saya melihat bagaimana sesuatu yang terlihat sederhana ternyata mampu menahan banyak beban dan perjalanan.
Saya mulai berpikir, manusia juga sering seperti kardus. Kita terlihat biasa saja dari luar. Kadang rapuh. Kadang penuh luka. Tetapi di dalamnya, kita menyimpan mimpi, kenangan, dan harapan yang besar.
Bagi saya, kardus itu metafora manusia, sederhana, sering diabaikan, tapi kuat dan bisa melindungi hal yang berharga. Lalu dari itu terciptalah sosok Carthea, dari pengalaman merantau, merasa tidak terlihat, tapi tetap bertahan dan punya harapan.

Carthea adalah karakter orisinal yang saya ciptakan berbasis motif kardus. Namanya gabungan dari “car” cardboard dan “thea” cahaya/harapan. Ia selalu memakai topeng, wajahnya tidak pernah terlihat, supaya siapa pun yang melihatnya bisa merasakan, “ini aku.”
KI: Bagaimana proses berkarya Anda, mulai dari ide hingga menjadi karya?
FD: Biasanya dimulai dari perasaan atau situasi yang sedang saya alami atau amati. Setelah itu saya tulis dulu, bisa catatan pendek, bisa panjang. Kemudian mulai eksplorasi bentuk dan materialnya. Saya tidak langsung eksekusi, biasanya ada fase mikir cukup lama sebelum benar-benar mulai bikin. Dan di tengah proses pun masih sering berubah arah.
KI: Adakah hoby Anda selain seni rupa yang biasa dilakukan di keseharian Anda?
FD: saya suka nonton dan main game.
KI: Apakah anda juga membaca buku atau menonton film? Adakah buku favorit atau film favorit Anda? Dan kenapa?
FD: Saya cenderung lebih suka nonton film. Saya lebih suka belajar dengan mendengarkan dan menonton film-film.
Film Favorit baru2 ini adalah karya dari Joko Anwar yaitu Ghost in the Cell karena metafora yang digunakan untuk menyampaikan makna film sangat menarik ditambah filmnya di buatkan pameran karya seni berupa instalasi.
KI: Adakah seniman panutan Anda, dalam dan atau luar negeri? Dan kenapa?
FD: Ada. Yang saya kagumi bukan selalu yang paling terkenal, tapi yang konsisten dengan dunianya sendiri dan tidak mudah tergoda ikut-ikutan tren. Seniman yang punya identitas kuat itu yang menurut saya paling menginspirasi. Namanya: Iwan Swastika, Fandi Angga Saputra dan Anjastama HP.
KI: Apakah ada hal pencapaian yang ingin dan belum Anda capai sebagai karir di kesenian?
FD: Masih banyak. Salah satunya adalah melihat Carthea berkembang jadi IP yang benar-benar lengkap, pameran yang lebih besar, yang bisa dinikmati lebih banyak orang, dan cerita yang benar-benar sampai ke audiens yang lebih luas, termasuk di luar Indonesia. Itu yang sedang saya kejar sekarang.
KI: Apakah ada pesan bagi para seniman muda yang ingin berkarir dalam bidang seni?
FD: Fokus dulu pada kejujuran dalam berkarya, bukan pada pengakuan. Temukan apa yang benar-benar ingin kamu ekspresikan, dan kerjakan itu dengan serius. Proses yang panjang itu wajar, hampir semua seniman melewatinya. Yang penting jangan berhenti di tengah jalan hanya karena belum kelihatan hasilnya.
Foto: Dok. Faisal Darmawan
#mudaberbudaya
#perupaindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#senikontemporerindonesia
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
