Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Galeri Nasional Gelar Pameran Impian Nasirun, Tampilkan Bersama Karya Nasirun dan Guru-Gurunya

Galeri Nasional Gelar Pameran Impian Nasirun, Tampilkan Bersama Karya Nasirun dan Guru-Gurunya

Nasirun, perupa asal Cilacap, telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2026. Untuk mengenang dan menghormati kekaryaannya, Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional, menggelar pameran bertajuk Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru. Pameran yang berlangsung dari 12 September hingga 11 Oktober 2026 ini merupakan upaya mewujudkan Impian Nasirun yang ingin berpameran yang para “gurunya”, orang- orang yang dianggap sebagai guru perjalanan karirnya sebagai seniman.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin menjelaskan, “Pameran ini bukan semata-mata untuk mengenang Nasirun sebagai seniman penting dan berpengaruh, tetapi juga untuk menjaga agar gagasan, perjalanan, dan warisannya terus hadir dalam percakapan seni rupa Indonesia hari ini.”

Pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” dikurasi oleh para Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia yaitu Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra.

Judul ‘Bersimpuh di Kaki Para Guru’ punya makna yang lebih dalam daripada sekadar menghormati seorang pengajar. ‘Bersimpuh’ di sini bukan berarti patuh tanpa berpikir. Namun lebih memperlihatkan kemauan untuk belajar dan menerima bahwa pengetahuan tidak hanya berasal dari satu tempat. Bahwa seorang seniman tidak muncul secara begitu saja dari dan karena dirinya sendiri.

“Posisi ‘guru’ dan ‘murid’ tidak pernah benar-benar tetap. Seseorang yang hari ini belajar, suatu saat akan menjadi tempat bagi orang lain untuk belajar. Di sinilah makna paling dalam dari ‘bersimpuh’, yaitu kesediaan untuk terus mengingat dari mana pengetahuan itu berasal. Pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa suatu hari pengetahuan itu harus diteruskan. Maka, pameran ini menggarisbawahi sesuatu yang mungkin sama pentingnya dengan karya-karya seni, yaitu etika hubungan antarseniman, antarmanusia,” jelas Aminudin TH Siregar, Ketua Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia.

Nama-nama ‘para guru’ Nasirun, yang beberapa di antaranya turut dihadirkan karyanya dalam pameran ini adalah Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Nasirun, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.

Nasirun (1965–2026) dikenal sebagai perupa yang menghayati aspek tradisi dan spiritualitas ke dalam karya seni kontemporer yang khas, reflektif, dan relevan dengan masa kini melalui cerita wayang dan dongeng mistik warisan ibunya, serta nilai-nilai tasawuf Islam yang dilakoni ayahnya. Nasirun aktif berkarya dan telah banyak berpameran di Indonesia maupun mancanegara, baik tunggal maupun bersama, beberapa di antaranya di Galeri Nasional Indonesia. Salah satu karya Nasirun, Persembahan untuk Bathara Guru (1999), dihibahkan kepada Galeri Nasional Indonesia (2013) dan menjadi koleksi negara.

“Nasirun merupakan seniman yang penghayatannya mendalam terhadap aspek budaya lokal, di Cilacap, yang perjuangan pendidikannya luar biasa, dia bersekolah di SMK seni rupa jurusan kriya batik kemudian melanjutkan ke ISI yogya, tidak heran karya beliau kuat dengan pendekaan ornamentik, sebagai bahasa visual , termasuk wayang juga kuat dalam karya-karya nasirun menggambarkan sifat dan situasi masyarakat masa kini”, ujar salah satu kurator, Agung Hujatnikajennong.

 

Dalam pameran ini ditampilkan 99 karya, baik karya Nasirun maupun karya para seniman yang dianggap guru oleh Nasirun, antara lain karya lukisan, patung, kopiah dan lainnya. Para guru yang dimaksud adalah guru yang mengajarkan Nasirun secara langsung, atau sosok yang danggap guru oleh Nasirun lewat pemikiran, inspirasi dan percakapan keseharian yang ikut memperngaruhi karya-karyanya. Dalam pameran ini juga ditampilkan memorabilia barang-barang peninggalan Nasirun, seperti alat Lukis, sarung, baju, syal dan foto-foto.

Foto: Dok. GNI

#senirupaindonesia
#pamerannasirun1965–2026bersimpuhdikakiparaguru
#galerinasionalindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#perupaindonesia
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.