Purwacarita Borobudur, Menikmati Sejarah melalui AI
Akal Imitasi (AI) akan semakin digdaya di masa depan. Meski masih diliputi prasangka oleh pencipta karya seni, namun di ranah sejarah kehadirannya justru diprediksi bakal semakin bersinar karena dapat menjembatani edukasi dan konservasi sekaligus.
Sebagai salah satu mahakarya dunia yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun, Candi Borobudur menyimpan beragam kisah tentang asal mula pembangunannya, tokoh-tokoh di baliknya, serta pesan yang tertuang dalam ribuan panel relief. Namun tak banyak yang benar-benar mengetahui persis kisah di balik asal mula penciptaan candi Buddha terbesar di dunia ini, terkecuali para sejarawan dan arkeolog.
Pekan ini, Galeri Indonesia Kaya (GIK) mengajak masyarakat menelusuri kembali kisah di balik asal mula penciptaan Candi Borobudur melalui delapan pengalaman imersif berbasis Ethical AI.
“Mula-mula, Lia Marliana dari Bening Digital Indonesia menghubungi saya sekitar Januari 2025. Saya sudah lama kenal Lia karena dia latarbelakangnya media. Saat itu Lia langsung kirim teaser kepada saya dalam bentuk video. Jadi saya kira banyak orang-orang di Indonesia yang kuat seninya, tapi ruang dan kesempatannya saja yang kurang. Kebetulan kami sebelumnya sudah pernah mengadakan proyek imersif untuk Basuki Abdoellah, jadi saya segera hubungi Lia untuk bertemu,” ungkap Renitasari Adrian, Program Director GIK, di Jakarta, Selasa (1/9).
Karya seni itu dinamakan ‘Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa’. Dalam proses pengembangannya, Bening Digital Indonesia berperan sebagai business consultant yang berkolaborasi dengan Curaweda untuk mengembangkan karya imersif berbasis AI yang tetap berpijak pada riset dan akurasi sejarah.
“Dengan proses kreatif yang teliti, konsep yang matang, riset lapangan, serta validasi dari para ahli dan kurator, teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan sejarah dan budaya Indonesia dalam bentuk yang lebih relevan bagi generasi masa kini,” kata Lia Marliana, President Director Bening Digital Indonesia.
Pelibatan Penting AI Dalam Konservasi Cagar Budaya
Banyak kalangan sejak lama mencemaskan masa depan Candi Borodur akibat usianya yang sudah ribuan tahun. Belum lagi dampak bencana alam atau ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi, misalnya, yang terletak sekitar 45 kilometer arah timur laut, dapat menyebabkan pelapukan kimia pada batu andesit Candi Borobudur karena sifatnya yang asam dan tajam.
Salah satu antisipasinya adalah dengan menutup stupa-stupa Borobudur dengan kain terpal agar tidak rusak oleh abu letusan Merapi. Namun jika hal ini terjadi berulangkali selama puluhan tahun ke depan, maka kerusakan fisik secara masif tetap akan menimpa cagar budaya yang dilindungi UNESCO ini.
Dr. Sri Margana, M.Phil., kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa proyek seni imersif dan dokumenter berbasis AI ini akan sangat bermanfaat untuk edukasi sekaligus konservasi.
“Borobudur itu (usianya) sudah ribuan tahun, sudah tidak bisa lagi dipakai untuk shooting (pengambilan gambar) dan kini dibatasi waktunya untuk bisa naik hingga ke stupa puncak. Ini kadang-kadang tidak bisa dipahami pengunjung, oleh karena itu proyek seni ini hadir untuk menjembatani kondisi tersebut. Masyarakat dapat melihat bagaimana awal mula Candi Borobudur dibuat secara riil dan fisiknya seperti apa. Tapi untuk menceritakan utuh pembuatan candi yang memiliki 245 panel tentu sulit dalam film berdurasi 10 menit, semoga nanti cerita-cerita lain dapat menyusul,” jelas Margarana.
Dalam pengembangannya, seluruh data sejarah dan narasi dialog yang bersumber dari prasasti, termasuk Prasasti Karangtengah (824M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M). Sedangkan penggambaran busana dan artefak telah melalui proses kurasi dan penyuntingan.
Setiap naskah, visual, detail busana, dan arsitektur yang ditampilkan juga melewati validasi akademik oleh Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada serta validasi profesional oleh Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif turut melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai rujukan visual.
“Kami mengambil sumber-sumber data primer yang prosesnya berjalan setahun. Total terdapat 8 segmen yang kami produksi sejak 2025. Proses pembuatannya memang cepat tapi menjaga tingkat akurasinya itu yang paling susah. Kami terkendala literasi yang terbatas sehingga harus berkonsultasi dengan para ahli,” ungkap Azhar Muhammad Fuad, Founder dan CEO Curaweda.
Hasilnya memang mengagumkan. Gambaran sejarah pembangunan Candi Borobudur tidak menonjolkan kemegahan, namun justru pesan-pesan moral akan janji kebajikan jika manusia berbuat baik serta karma jika manusia berkelakuan buruk.
“Untuk dokumenter kami harus merevisi 9 kali dengan melibatkan 14 ahli. Kami tidak ingin membuat imersif yang berangkat dari sejarah yang dipalsukan seperti di Tiktok, misalnya. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli,” tambah Azhar.
Curaweda Palagan Innotech adalah perusahaan teknologi informasi dan konsultan asal Bandung yang berfokus pada pembuatan perangkat lunak, sistem kecerdasan buatan (AI), serta teknologi imersif untuk merekonstruksi budaya dan sejarah.
‘Purwacarita Borobudur’ dapat dinikmati pengunjung GIK sejak 1 September hingga Desember 2026. Renitasari mengatakan jika reaksi pengunjung bagus, maka program imersif ini akan dilanjutkan hingga tahun depan.
Foto: Dok. GIK
#budayaindonesia
#purwacaritaborobudurjelajahsejarahdalamruangdanrasa
#galeriindonesiakaya
#IndonesiaBerbudaya
#candiborobudur
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

