Ayala Kala, Pameran Patung Adi Gunawan Dalam Semangat Baru Ruang Berpameran
Pameran seni rupa seperti pameran patung, tidak melulu harus ditempatkan di ruang bidang berdinding putih dengan meja atau kotak menempatkan patung-patung karya seniman terpajang. Seperti pada pameran yang digelar oleh Sankhara Art bersama pematung Adi Gunawan bertajuk Ayala Kala. Pameran ini digelar di Ashta Distric 8, lantai GF, Jakarta, mulai dari 3 – 26 Juli 2026. Pameran ini dipadukan dengan latar desain interior rumahan.
Setingan pameran ini menyebabkan pengunjung tidak merasa memasuki galeri, tetapi merasa memasuki rumah biasa dengan berbagai ruangan, mulai dari teras, ruang tamu, ruang makan hingga ruang belakang.
Pameran Alaya Kala merupakan sebuah pameran kolaboratif yang mempertemukan karya pematung Adi Gunawan bersama Sankhara Art dengan Quatro Design Studio, Theory of Living, dan Pola Studio.
Sankhara Art bagian dari ANDIs Gallery yang membawa Adi Gunawan ke berbagai ajang pameran hingga sekarang ini. Sebagai platform manajemen seni kontemporer, menjembatani antara seniman, karya dan ruang, Sankhara Art mengajak Quatro Design Interior, sebagai konsultan interior merancang seluruh ruang pamer dengan rumah Joglo sebagai sumber inspirasinya.
Kemudian untuk melengkapi ruang pameran, Theory of Living membawa koleksi furniturnya, sehingga fungsi tiap ruang makin terlihat. Tak cuma itu, Pola Studio menyempurnakan ruang dengan elemen botani yang membawa nuansa alami sekaligus kehangatan.
Judul Alaya Kala berasal dari Bahasa Sansekerta. Kata ‘Alaya’ berarti tempat bernaung dan kata ‘Kala’ yang berarti waktu, sehingga secara keseluruhan, ‘Alaya Kala’ mempresentasikan sebuah ruang yang merampung perjalanan, jejak dan ingatan.
Berangkat dari sosok Adi Gunawan yang lekat dengan akar budaya Yogyakarta dalam perjalanan kekaryaannya, pameran ini kemudian diimplementasikan dalam elemen ruang dan arsitektur di dalam rumah Khas Jawa, Joglo.
Karya Adi Gunawan sendiri merupakan karakter bernama Palupi, dari karya pertama patung jenis ini di pameran tunggalnya tahun 2007 berjudul “Apa yang kau cari Palupi”?
Palupi merupakan sosok wanita yang melawan standar umum wanita cantik dalam masyarakat, yang biasanya putih, tinggi dan langsing, serta berambut lurus panjang. Oleh Adi, standar wanita cantik ia lawan dengan ciri wanita gendut, pendek, berkulit gelap dan berambut kribo. Karya Palupi diciptakan 19 tahun lalu yang kemudian menjadi ciri khas karya Adi hingga sekarang.
Ada 15 karya dengan berbagai ukuran, yang ditempatkan mulai dari luar, atau teras “rumah” pameran, di dalam hingga belakang. Tema-tema cinta pasangan, keluarga hingga gerakan Yoga, membuat patung-patung Palupi terlihat menarik dan jenaka namun mengandung arti yang mendalam.
Dalam pameran ini seniman lulusan ISI Jogja 2004 ini hanya diminta untuk menyiapkan karyanya saja tanpa dilibatkan soal bentuk pamerannya, “ Saya kaget dan tidak menyangka penyajian pameran patung saya akan semenarik ini, “ ujar Seniman yang karyanya pernah masuk dalam pameran bertema olah raga dalam olimpiade Beijing 2008.
Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia
#senirupaindonesia
#pameranalayakala
#senipatungindonesia
#adigunawan
#shangkaraart
#IndonesiaBerbudaya
#perupaindonesia
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
