Harimau! Harimau! Mochtar Lubis
Mochtar Lubis menggunakan kalimat tanpa banyak pernik dan seluk beluk permainan kiasan, terang sekaligus jelas menguraikan suasana serta pokok pikiran dalam Harimau! Harimau!. Kemiripan pola akan kita temukan dalam novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) dan antologi cerpen Perempuan (1956).
Membaca kalimat-kalimat Mochtar Lubis dalam prosa panjang ini bagai melihat sekaligus memahami laporan juru warta. Profesinya memang wartawan. Rincian deskripsinya lengkap serta meyakinkan. Setelah itu, ia segera menuntun pembaca ke dalam keadaan suatu peristiwa atau inti gagasan yang dituju.
Harimau! Harimau! berkisah tentang sekelompok pemburu damar yang dikejar dan terancam menjadi mangsa harimau kelaparan. Para pengumpul damar tersebut di antaranya, Wak Katok, Buyung, Pak Haji, Pak Balam, Sutan, Sanip, dan Talib.
Wak Katok, berusia lima puluh tahunan, dianggap sebagai dukun ahli pencak yang pernah mengalahkan beruang, penembak ulung juga dipercaya memiliki ilmu gaib. Ia menjadi pemimpin informal para pencari damar.
Pak Haji Rachmad (Pak Haji), berusia enam puluh tahun. Ia masih sanggup membawa beban damar atau rotan, mendaki lalu menuruni gunung. Kondisi fisiknya masih bugar. Ia pernah berkelana ke Tiongkok, India dan Afrika, menunaikan ibadah haji sebelum pulang kampung.
Pak Balam dihormati orang karena ia taat beragama dan pernah melawan Belanda karena rakyat sudah muak dengan berbagai macam pajak. Buyung, berusia termuda 19 tahun, Sutan 27 tahun, Talib, 27 tahun, Sanip, 25 tahun adalah murid-murid Wak Katok.
Buyung pernah dipuji kemampuan menembaknya oleh Wak Katok. Ia juga menyukai Siti Zainab. Sikap ramah sekaligus ambigu Zainab membuat Buyung ingin segera mendapat ilmu pemikat perempuan sekaligus ilmu menghilang dari Wak Katok. Namun Wak Katok masih menganggap Buyung terlalu muda.
Dalam perjalanan pulang mencari damar, mereka menginap di huma Wak Hitam. Wak Hitam, berusia hampir 70 tahun. Ia dipercaya sakti, memelihara harimau siluman sebagai kendaraannya dan memiliki empat istri.
Pada malam hari ketika Sanip memainkan dangung-dangung lalu berdendang, Buyung mendengar suara perempuan menangis. Dialah Siti Rubiyah, istri termuda Wak Hitam yang berparas menawan hati.
Para pencari damar, baik tua maupun muda tertarik padanya. Di sinilah Buyung dihadapkan pada konflik batin. Ia mencintai Siti Zainab. Namun hatinya bergetar ketika melihat kecantikan Siti Rubiyah yang bercampur dengan empati.
Terutama sejak pertemuan di pinggir sungai. Ketika Buyung tanpa sengaja tercekat pada kecantikan Siti Rubiyah kala bermain air. Di situlah hati Buyung bergejolak. Apalagi setelah menyimak kisah Siti Rubiyah yang sebenarnya enggan dijodohkan dengan Wak Hitam.
Di satu sisi, Siti Rubiyah terikat tali perkawinan dengan Wak Hitam. Di sisi lain, Buyung tergoda menjadi pembela Siti Rubiyah yang gagah berani demi menyelamatkannya dari korban kawin paksa. Walaupun demikian, esok hari Buyung harus pulang bersama rombongannya, meninggalkan Siti Rubiyah.
Dalam perjalanan pulang setelah meninggalkan rumah Wak Hitam, konflik dengan harimau pun terjadi. Mereka memburu rusa. Ternyata rusa tersebut juga binatang yang dikejar harimau tua yang sudah kelaparan selama beberapa hari untuk disantap.
Satu per satu anggota rombongan menjadi korban harimau. Pak Balam yang pertama. Dalam keadaan sekarat, Pak Balam bercermin diri lalu mengungkap dosa-dosa masa lalunya. Ia menasihati teman-temannya agar melakukan hal serupa.
Pak Balam merasa harimau dikirim Tuhan guna menghukum dosa-dosa mereka. Setelah suasana makin mencekam akibat jatuhnya korban satu per satu dari pemburu tersebut, problem moral masing-masing karakter terungkap.
Bidikan senapan Buyung akhirnya mampu menembak mati harimau tersebut. Sekaligus, ia berhasil membunuh harimau dalam hatinya. Beberapa anggota pemburu seperti Wak Katok dan Buyung selamat.
Namun setelah itu semua tak sama. Teror harimau membongkar hipokrisi, di antaranya, kegagahan yang ternyata hanya topeng menutupi kepengecutan. Ada pula dilema menutupi aib teman atau menjadi bagian persekongkolan kejahatan, kesetiaan atau perselingkuhan dan lain-lain.
Ilustrasi para karakter perempuan dalam Harimau! Harimau! dapat diletakkan dalam konteks masa lalu. Perwujudan mereka yang fokus pada konsepsi klise sifat-sifat perempuan, penampilan fisik dan pemikat hasrat seksual bagi laki-laki sangat kentara.
Sekalipun dalam kasus Siti Rubiyah, pilihan Mochtar Lubis untuk membeberkannya sebagai korban kawin paksa layak diapresiasi. Membenturkan sekaligus meletakkan sikap baik dan buruk dalam dilema kehidupan nyata menjadi salah satu ciri khas penulis novel.
Setidaknya kita juga bisa melacak perhatian Mochtar Lubis tersebut di dalam antologi cerpen Perempuan dan novel Jalan Tak Ada Ujung. Maka, pilihannya mengungkapkan kekerasan terhadap perempuan dalam kasus kawin paksa menjadi bagian adegan novel ini dapat mengindikasikan kepekaan berikut kesadarannya pada masalah yang dialami perempuan.
Akan tetapi, para perempuan belum digambarkan berdaya mengatasi masalah mereka dan menentukan jalan hidup sendiri. Karakter perempuan masih digambarkan memerlukan laki-laki sebagai ksatria penyelamat guna menyelesaikan masalah mereka. Perempuan dideskrispikan serupa trofi yang dimenangkan setelah protagonis pria membuktikan kekuatan dan nyalinya.
Pesan moral seperti hipokrisi, percaya pada takhayul, enggan bertanggungjawab, jiwa feodal, contohnya, masih ditemukan pada sebagian manusia Indonesia hingga kini. Sampai batas tertentu, dapat disebut Harimau! Harimau! adalah bentuk fiksi dari pidato kebudayaan Mochtar Lubis, Manusia Indonesia.
Mochtar Lubis, seorang jurnalis dan penulis legendaris Indonesia. Novel Harimau! Harimau! memperoleh hadiah sebagai buku terbaik pada tahun 1975 dari Yayasan Buku Utama. Novel Jalan Tak Ada Ujung diganjar penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional tahun 1953. Antologi cerpen Perempuan menerima Hadiah Sastra BMKN 1955-1956. Ramon Magsasay Award menganugerahi Mochtar Lubis penghargaan atas karya-karya jurnalistik dan sastranya pada tahun 1958.






