Museum Teman Baik
Museum Teman Baik berisi 10 cerita pendek yang seluruhnya mengangkat kisah hubungan pertemanan. Masing-masing kisah menunjukan bahwa pertemanan bukanlah sebuah hubungan yang statis. Seperti halnya hubungan antar keluarga dan hubungan romantis, pertemanan merupakan pengalaman kompleks. Apalagi pertemanan antar orang dewasa. Pertemanan bisa menjadi ‘obat’ saat seorang dewasa mulai memasuki fase hidup yang baru. Beberapa kali terdengar bahwa sebagian orang dewasa justru bisa menjadi diri sendiri saat ia berada di hadapan teman dibandingkan saat ia bersama keluarga. Ada juga yang bisa mencurahkan segala isi hati dan pikiran kepada seorang teman dari pada bercerita pada kakak, adik, maupun orang tua. Namun ada kalanya pertemanan antar orang dewasa tak selalu berbuah keceriaan dan canda tawa. Pertemanan bisa mengubah suasana santai menjadi canggung, bahagia menjadi sedih, kebahagiaan menjadi kesepian, kepercayaan menjadi kekecewaan. Bahkan bisa berakhir begitu saja tanpa ucapan perpisahan.
Kesepuluh penulis memberikan narasi yang mungkin bisa mengubah cara pandang kita tentang pertemanan itu sendiri. Seperti judulnya, antologi ini menjadi sebuah museum yang menyimpan memori tentang apa dan siapa itu teman. Ia tak hanya sebagai kenangan tapi juga refleksi atas diri. Buku ini dibuka dengan kisah Semalam Lagi di Bianglala karya Nurhaeni Intan. Kisah itu merupakan kisah antara dua orang perempuan bernama Rachel dan Gandaria yang hubungan pertemanannya berhenti begitu saja. Tidak ada kata perpisahan yang jelas diungkapkan keduanya. Mereka hanya ‘sudah tak lagi berteman’. Berakhirnya sebuah pertemanan juga dikisahkan melalui cerpen berjudul Ulang Tahun karya Cynthia Hariadi dan Layar Terkenang karya Rassi Narika.

Pertemanan antar orang dewasa memang terkadang rumit. Saat seseorang tumbuh, ia tidak hanya tumbuh secara fisik tapi juga secara emosional. Hubungan antar teman bisa terpengaruh karena perubahan itu. Ada cara pandang yang tak lagi sama dalam melihat suatu realita. Hal itu yang dialami oleh sekelompok teman dalam cerpen S 33 karya Sri Izzati. Pertemanan yang dari luarnya terlihat awet ternyata di dalamnya menyimpan luka-luka kecil. Sifat-sifat dari seseorang yang dulunya mungkin bisa kita anggap biasa saja ternyata berubah menjadi hal yang tidak menyenangkan saat kita beranjak dewasa. Lalu dari situlah kita akan bertanya, “Apakah ia masih layak kita anggap teman?”
Cerita-cerita lain dalam buku ini memiliki emosi yang berbeda-beda. Ada rasa haru dalam cerpen Suatu Senin karya Reda Gaudiamo. Serta ada rasa haru bercampur bahagia dalam cerpen Kau Beruntung Menikahi Sahabatku oleh Bageru Al Ikhsan di mana pertemanan dewasa seringkali terkesan ‘berakhir’ jika salah satunya menikah. Pernikahan bisa menjadi jarak pemisah dalam hubungan pertemanan. Namun, cerpen ini seolah mengingatkan kembali bahwa pernikahan bukanlah akhir dari pertemanan. Justru pernikahan adalah sebuah fase di mana seseorang yang bisa membuat kita bahagia juga akan menebarkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya di kehidupannya yang baru. Di saat bersamaan kita akan bahagia melihat dirinya bahagia.
Museum Teman Baik membuka hati untuk lebih lapang menerima pengalaman dalam hubungan pertemanan. Baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Sebab hubungan pertemanan memiliki maknanya sendiri yang kita sadari atau tidak, sedikit atau banyak, turut membentuk diri kita.
Penerbit: Post Press
Penulis: Ruhaeni Intan, Kennial Laia, Bageur Al Ikhsan, Utiuts, Rassi Narika, Sri Izzati, Awi Chin, Reda Gaudiamo, Teguh Affandi, Cyntha Hariadi
Tahun terbit: 2024





