Adaik Suluah Nagari, Angkat Keragaman Budaya Minangkabau di Museum Nasional
Minangkabau memang memiliki kebudayaan yang unik. Sebagai suku bangsa yang menganut paham matrilineal, peran perempuan sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Minang. Untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau ke masyarakat luas, Museum dan Cagar Budaya mempersembahkan pameran Adaik Suluah Nagari (Adat Sebagai Pelita Nilai, Penjaga Marwah Nagari). Ekshibisi yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, mengangkat keragaman artefak budaya Minangkabau sebagai bagian dari program pemajuan kebudayaan Nusantara.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir untuk meresmikan pameran tersebut pada 22 Januari 2026. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan mengungkapkan bahwa pameran Adaik Suluah Nagari bukanlah sekadar seremonial semata, namun ruang untuk merayakan kekayaan suku bangsa Indonesia yang sangat beragam.
Menteri Fadli Zon menjelaskan bahwa koleksi yang ditampilkan dalam pameran Adaik Suluah Nagari merupakan cerminan dari ekspresi budaya Nusantara sekaligus wujud dari kearifan lokal Minangkabau. Menurut Menbud, artefak-artefak adat tersebut sarat akan nilai budaya yang menjadi fondasi penting dalam menjaga jati diri bangsa.
“Koleksi yang ada di pameran Adaik Suluah Nagari ini merupakan ekspresi budaya yang terwujud dalam artefak, miniatur bangunan, dokumentasi, busana, perhiasan, dan juga karya-karya yang menunjukkan nilai-nilai luhur budaya serta tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memang mempunyai budaya yang kental, terutama hampir di setiap nagari yang biasanya dipimpin oleh seorang datuk,” ujar Menbud.
Adaik Suluah Nagari (Adat Sebagai Pelita Nilai, Penjaga Marwah Nagari) merupakan pameran yang mengusung konsep tematik, ekshibisi ini mencoba menampilkan kekayaan budaya Minangkabau melalui khazanah artefak berupa miniatur bangunan, baju dan perhiasan adat, naskah-naskah kuno hingga lukisan seni.
Adat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan Matrilineal menempatkan perempuan dan laki-laki dalam peran yang berbeda, namun saling melengkapi dalam menjaga adat dan tatanan nagari. Perempuan menjadi penyambung kehidupan dan penjaga pusaka, sementara laki-laki menjadi pelindung dan penganyom kaum.
Perempuan menjaga marwah, nilai adab dan kesejahteraan keluarga. Laki-laki menegakkan musyawarah, menjadi penghulu dan pengambil keputusan adat.
Secara adat kepemimpinan oleh kaum perempuan disebut Bundo Kanduang dan para pemimpin laki-laki disebut Niniak Mamak. Kepemimpinan adat tidak hanya bertumpu pada satu tiang tetapi pada keseimbangan peran Niniak Mamak dan Bundo Kanduang.
Bundo Kanduang memimpin dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, kelembutan dan menjaga nilai moral dan menuntun anak serta kemenakan. Sedangkan Niniak Mamak memimpin dengan menegakkan hukum adat, memutus perkara dan memastikan keputusan berlandaskan musyawarah. Keduanya tidak bersaing tetapi saling melengkapi.
Dalam pameran ini, Sebagian besar adalah milik koleksi dari almarhumah Sativa Sutan Azwar atau biasa dipanggil Ibu Atitje. Dari pakaian – pakaian adat, aksesoris, artefak dan wastra-wastra Minang. Menbud Fadlizon juga menyumbangkan koleksinya seperti beberapa keris dan tongkat-tongkat milik tokoh-tokoh bangsa seperti milik H. Agus Salim dan Bung Hatta. Sisanya koleksi dari berbagai pihak.





