Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Gamelan Eksperimental ala Bilawa Ade Respati

Gamelan Eksperimental ala Bilawa Ade Respati

Namanya bergaung di Berlin sebagai pembaharu musik gamelan. Kota
kosmopolitan ini memang terbuka dengan aneka ragam seni dan budaya
dunia, termasuk yang tradisional seperti gamelan.

“Semula mereka terkejut, tapi secara umum saya mendapatkan sambutan
positif dari publik Jerman,” kata Bilawa tentang unsur eksperimental dalam
permainan musik gamelannya. Itulah diplomasi budaya berbalut inovasi,
pendekatan yang belakangan semakin gencar dilakukan para seniman
diaspora Asia.

Berikut wawancara Kultural Indonesia dengan Bilawa Ade Respati,
menjelang penampilannya di program Dealing in Distance di sejumlah kota di
Asia Tenggara.

KI: Secara singkat, apa saja aktivitas Anda sebagai seniman dan
diaspora di Jerman?

BAR: Saya aktif sebagai musisi, komponis dan performer. Kekaryaan saya
meliputi musik untuk karya tari/teater, musik yang saya pentaskan sendiri baik
dalam format solo maupun kolaboratif, dan karya instalasi bunyi.

KI: Bagaimana dinamika seni di sana, terutama di era digital dan
Kecerdasan Buatan atau AI seperti sekarang?

BAR: Ada ketertarikan kuat dalam penggunaan teknologi dan AI, terutama di
ranah seni musik/bunyi. Penggunaan algoritma, machine learning, dan
teknologi sensor di Jerman cukup lazim. Hal ini juga didukung lewat
pemberian stipendium (beasiswa) atau residensi untuk pengembangan karya
yang menggunakan AI, misalnya. Tetapi di sisi yang lain, AI dalam bentuk
yang eksploitatif dan identik dengan kapital besar; seperti pengumpulan data
besar, pusat-pusat prosesor, dan sebagainya itu juga cenderung dihindari dan
secara sadar dikritik oleh para seniman.

KI: Anda dikenal sebagai musisi yang memainkan gamelan juga musikmusik eksperimental. Bagaimana publik di Jerman atau Eropa secara keseluruhan melihat karya Anda?

BAR: Sambutannya bermacam-macam, mungkin tergantung demografi
publiknya. Misalnya untuk karya dengan gamelan, seringkali ekspektasinya
adalah musik tradisi. Begitu yang terdengar di luar ekspektasi mungkin timbul
kekagetan atau ketidakpuasan. Secara umum sambutannya seringkali positif,
karena kemungkinan juga dibarengi dengan semangat zaman. Ada usaha
untuk mengangkat kembali musik tradisi dan memaknainya secara aktual.
Apa yang saya lakukan adalah melakukan pendekatan dialektika antara
inovasi dan tradisi, yang berpusat pada semangat tersebut.

KI: Pernah berkolaborasi dengan musisi setempat atau negara lain?

BAR: Ya. Kebetulan kolaborasi saya cenderung lintas disiplin dengan
seniman-seniman dari banyak negara. Dari beberapa proyek terakhir saya
antara lain bekerja sama dengan Emese Csornai, seorang visual artist dan
lighting designer dari Hungaria, Ruben Reniers, yang berprofesi sebagai
penari dan koreografer asal Belanda, kemudian Yui Kawaguchi, seorang
penari dari Jepang, Lisa Björkstrom, dia pupetteer dari Swedia, Billiana
Voutchkova, seorang komponis Bulgaria sekaligus pemain violin, dan
Konstantin Heuer, rekan musisi dan komponis dari Jerman. Sedangkan
sesama Asia Tenggara, ada Jee Chan yang seorang penari dan koreografer
dari Singapura.

KI: Untuk program Dealing in Distance karya-karya apa yang mau
disajikan kepada publik?

BAR: Untuk pameran, saya akan menyajikan versi “tur” dari instalasi “Distant
Memories of the Void”, yaitu instalasi untuk automaton gamelan dan video,
yang saya buat bersama Emese Csornai (konsep visual dan video), dengan
bantuan implementasi teknis dari Adrian Benigno Latupeirissa yang saat
produksi sedang menjadi peneliti di KTH Stockholm.

KI: Apakah karya ini murni baru atau sudah pernah dipamerkan sebelumnya?

BAR: Karya ini sudah pernah dipamerkan di Haus der Indonesischen Kulturen
di Berlin tahun 2024.

KI: Untuk program “Dealing in Distance”, Anda terpilih melalui seleksi untuk residensi, ditunjuk langsung oleh kurator atau mengajukan diri?

BAR: Saya mengajukkan karya ini melalui open call Goethe Institut beberapa
waktu lalu.

KI: Sudah berapa lama Anda menetap di Berlin, dan bagaimana suka
duka hidup sebagai seniman dan diaspora Indonesia?

BAR: Saya tinggal di Berlin sejak tahun 2017, tapi di Jerman sudah sejak
2013. Hidup sebagai diaspora menjadikan saya harus mampu beradaptasi
dengan perubahan-perubahan. Salah satu kuncinya adalah penguasaan
bahasa dan pemahaman “adat” setempat. Ini membantu kami mengatasi
banyak situasi –termasuk yang tersulit yang pernah dihadapi, baik dalam hal
pribadi maupun profesional.

KI: Omong-omong, publik di sana tahu banyak nggak sih tentang Indonesia, tentang Asia Tenggara?

BAR: Saya kira secara umum mereka tahu (tentang Indonesia dan Asia Tenggara), tapi kalau pengetahuan yang lebih detail itu tergantung demografi publiknya.

KI: Kita sering mendengar cerita-cerita seram mengenai kehidupan
diaspora dan sikap warga lokal di negara tersebut. Anda pernah nggak
merasakan diskriminasi, baik itu sehari-hari maupun dalam dunia kerja?

BAR: Dalam dunia kerja syukurnya tidak. Saya rasa di ranah seni masyarakat
di Jerman lebih sensitif dan terdidik, setidaknya dari pengalaman saya selama
12 tahun menetap di Jerman. Namun dalam kehidupan sehari-hari, saya
beruntung hanya menerima diskriminasi yang sifatnya “halus”. Misalnya,
kadang-kadang mereka mengira saya tidak mengerti bahasa Jerman atau
tidak memahami aturan tertentu. Namun saya juga mendengar banyak cerita
dari kawan perantauan lainnya, ternyata ada yang mengalami situasi
diskriminatif yang lebih agresif.

KI: Apakah penerimaan publik di Berlin kini sudah jauh lebih baik
terhadap para migran dan diaspora?

BAR: Berlin kota yang besar, jadi mungkin pengalaman pribadi saya tidak
menyentuh semua sisinya. Secara umum, saya kira banyak warga lokal yang
cukup bisa menerima bahwa Berlin adalah kota kosmopolitan dan beragam.
Meski demikian, tetap ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak suka
dengan keberagaman ini.

KI: Punya pengalaman menarik terkait hal ini?

BAR: Satu kali saya dan istri pernah dicegat orang di jalan. Kami berusaha
menghindar, tetapi orang itu terus menghalangi jalan kami. Saat kami
mencoba untuk mengajaknya bicara, tahu-tahu omongannya sangat agresif.
Sampai akhirnya dia membuat salam NAZI, dan kami langsung meninggalkan
orang itu. Dia masih terus mengikuti kami sampai akhirnya kami terpaksa
dibantu beberapa orang lain.

Bilawa lahir di Balikpapan, 38 tahun lalu. Ia sejatinya lulusan Teknik Fisika,
namun memilih untuk berkutat dengan gamelan dan berinovasi dengan
berbagai medium.

“Bapak saya aktif sebagai musisi Karawitan amatir di berbagai perkumpulan
di Jakarta dan Bandung,” kata Bilawa. Buah memang selalu jatuh tak jauh
dari pohonnya. Toh sambutan positif dari publik Jerman yang menjadikannya
betah berkarya di sana, dengan segala dinamikanya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.