Rayakan HUT ke-248 Museum Nasional Indonesia Hadirkan Pameran Numismatik dan Pendar
Museum Nasional Indonesia (MNI) kini berusia 248 tahun. Berdiri pada 24 April 1778, awalnya hadir sebagai lembaga kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Batavia. Sekarang MNI menjadi unit museum yang berada di bawah naungan Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Kebudayaan.

Memperingati hari ulang tahunnya, ditandai dengan transformasi MNI dari museum dengan konsep tradisional menjadi museum modern yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Seiring proses transformasi tersebut, berbagai pembaruan terus dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan serta pengalaman pengunjung. Di antaranya penataan akses masuk melalui Hall Majapahit, penambahan tempat ibadah “Masjid Samudera Pasai”, dibukanya beragam pameran, serta pembangunan perpustakaan sebagai ruang literasi publik.

Perjalanan panjang MNI tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Proses revitalisasi melibatkan pemerintah, komunitas budaya, lembaga internasional, ahli sejarah, dan arsitek. Setiap pemangku kepentingan berperan dalam kontribusi terhadap desain, implementasi, dan dukungan keberlanjutan proyek. Kolaborasi ini juga memperkuat semangat kebersamaan dalam pelestarian warisan budaya nasional.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyampaikan bahwa penguatan peran museum saat ini tidak hanya terletak pada koleksi, tetapi juga pada cara museum berinteraksi dengan publik. “Tantangan ke depan adalah bagaimana museum dapat terus relevan di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih terbuka, partisipatif, dan berbasis pengalaman menjadi kunci agar museum tetap hidup dan bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.

Masih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahunnya, Museum Nasional Indonesia (MNI), menyelenggarakan dua pameran yang memadukan estetika masa lalu dan makna budaya. Pertama pameran tetap Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang dan kedua pameran tetap Numismatik, mengajak masyarakat untuk melihat sejarah uang dari sudut pandang yang berbeda.
Pameran Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang
Pameran Pendar menampilkan koleksi lampu dari masa abad ke-9 Masehi. Pendar mengajak pengunjung melihat beragam jenis lampu dari masa ke masa. Tidak hanya sebagai alat penerang, koleksi lampu yang ditampilkan mencerminkan kesinambungan tradisi dalam kehidupan sosial dan religius masyarakat masa lampau.

Melalui kemajuan teknologi metalurgi pada masanya serta memadukan fungsi, estetika, dan spiritualitas, menghasilkan beragam lampu dengan variasi bentuk yang menggambarkan identitas sosial maupun gaya hidup.
Pengujung dapat melihat beragam jenis lampu antik dengan berbagai bahan dasar, yaitu lampu minyak gantung dengan berbagai bentuk dan ornament, lampu Blencong untuk pertunjukkan wayang kulit, hingga lampu Listrik dengan berbagai gaya dan jaman.
Dalam pameran ini juga ada layar interaktif untuk melihat keterangan suatu obyek lampu.
Pameran Numismatik: Sejarah Perjalanan Mata Uang Indonesia
Pameran tetap Numismatik, kali ini hadir dengan sudut pandang budaya, berbeda dengan penyajian yang menggunakan pendekatan sejarah. MNI tidak hanya menampilkan deretan uang sebagai alat tukar, tetapi sebagai artefak budaya yang menjadi penanda nilai, kekuasaan, serta identitas sejarah.
Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat koleksi mata uang dari berbagai periode sejarah di Indonesia, mulai dari masa Hindu–Buddha, Kesultanan Islam, kolonial Eropa dan Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Beragam koleksi masterpiece ditampilkan dalam pameran ini, antara lain uang gobog wayang, koin emas Syailendra setengah potong, mohur, uang kasha Banten beraksara Arab, dan doit.
Selain berbagai jenis uang yang dipamerkan, terdapat juga layar interaktif, untuk melihat berbagai jenis uang yang ada di berbagai wilayah di Nusantara lewat tampilan peta Indonesia.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyampaikan bahwa kedua pameran ini menjadi upaya Museum Nasional Indonesia untuk menghadirkan kembali koleksi sebagai narasi yang hidup, bukan hanya sebagai benda, tetapi juga sebagai medium untuk memahami perjalanan peradaban, nilai, dan identitas bangsa.
Informasi Kunjungan
Mengingat berharganya obyek yang dipamerkan, maka dalam Pameran Pendar dan Numismatik pengunjung dan waktu kunjungan dibatasi, serta anak-anak harus didampingi oleh orang tuanya. Berlokasi di Lantai 2, Gedung A, Museum Nasional Indonesia dan mulai dibuka untuk umum pada 24 April 2026 pukul 18.00 WIB. Kuota kunjungan maksimal 30 orang per sesi dengan durasi kunjungan 30 menit.
Untuk berkunjung ke pameran ini, cukup memiliki tiket masuk reguler seharga Rp30.000/orang untuk pelajar dan mahasiswa, Rp50.000/orang untuk dewasa dan pemegang KITAS, serta Rp150.000/orang bagi kategori WNA. Adapun Museum Nasional Indonesia buka Selasa s.d. Kamis: 08.00 – 18.00 WIB; Jumat s.d. Minggu: 08.00 – 20.00 WIB, tutup setiap Senin.
#pamerannumismatikpendar
#museumnasionalindonesia
#warisanbudayabangsa
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
