Bonge: Perlawanan Kampung Mlinjo
Nasib Kampung Mlinjo sedang berada di ujung tanduk. Kampung kecil yang merupakan rumah para warga keturunan Betawi yang terletak di Jakarta Selatan itu terancam musnah. Alasannya, modernisasi. Kampung Mlinjo yang selama ini menjadi rumah sekaligus memori bagi para warganya akan digantikan oleh bangunan-bangunan modern khas perkotaan oleh perusahaan pengembang PT MBR. Bonge dan Patme, istrinya, bersama beberapa warga lainnya berusaha agar kampung tempat ia dilahirkan itu tak rata dengan tanah. Ia juga dikuatkan oleh leluhurnya untuk menjaga keberadaan Kampung Mlinjo. Sebab, Kampung Mlinjo tak hanya kampung, tapi juga identitas, harga diri, dan warisan budaya Betawi bagi penduduknya.
Tokoh Bonge dan Kampung Mlinjo dalam novel ini adalah fiksi. Namun, apa yang dialami oleh Bonge dan warga Kampung Mlinjo relevan dengan apa yang ada di dunia nyata. Pembangunan perkotaan yang masif seringkali mengorbankan lokalitas. Ironisnya, pembangunan di perkotaan seringkali berupa tempat-tempat yang hanya bisa diakses segelintir orang. Pusat-pusat perbelanjaan eksklusif, komplek perumahan elit, maupun area perkantoran mempersempit lahan komunal yang bisa dinikmati kalangan luas. Bonge dan para warga Kampung Mlinjo dijanjikan oleh perusahaan bahwa mereka akan mendapat tempat tinggal baru yang lebih nyaman serta akses untuk meningkatkan taraf ekonomi yang lebih mumpuni. Namun, janji-janji serupa seringkali hanyalah strategi untuk melancarkan proyek.
Novel ini memiliki narasi yang kuat seputar relasi sosial antar tokohnya. Konflik batin, kegigihan, serta watak-watak manusiawi ditampilkan secara matang melalui tokoh-tokoh selain Bonge. Ada sosok Citra, yang bekerja untuk PT MBR, sebagai perempuan yang pantang kalah. Ia berani mengesampingkan rasa iba demi mencapai tujuan. Lalu tokoh Komar yang mengalami konflik batin karena di satu sisi ia berasal dari Kampung Mlinjo di sisi lain ia bertugas memuluskan rencana penggusuran.

Penulis menampilkan cukup banyak tokoh dalam novel ini. Sudut pandang masing-masing tokoh tersebut menjadi nyawa dari kisah perlawanan yang hendak disuarakan oleh novel ini. Konsep modernitas dalam kisah ini dikonstruksikan secara berbeda-beda. Bagi pihak perusahaan modernitas adalah pembangunan dan keuntungan. Bagi Bonge dan warga Kampung Mlinjo yang kontra terhadap perusahaan, modernitas dianggap sebagai salah satu penggerus budaya Betawi yang mengakar pada kehidupan mereka. Sedangkan bagi warga yang pro dengan perusahaan, modernitas mengarah pada jaminan kehidupan yang lebih nyaman. Melalui novel ini sudut pandang itu dirajut menjadi sebuah narasi yang politis namun sangat mudah dinikmati sebagai sebuah karya fiksi.
Bonge dan perlawanan Kampung Mlinjo memberikan kritik yang relevan terhadap tatanan perkotaan saat ini. Saat ruang terbuka hijau hampir tak ada karena digantikan oleh beton dan suara-suara rakyat dengan mudahnya dibungkam, rasanya tak ada yang bisa diharapkan selain bantuan dari Yang Maha Kuasa dan bantuan dari alam itu sendiri. Warga kampung Mlinjo tak menggunakan kekerasan saat mereka berusaha mempertahankan tanah leluhurnya. Mereka justru memilih menggunakan ondel-ondel dan tanjidor untuk melawan. Selain itu novel ini juga mengingatkan akan kerusakan ekologis yang terjadi di kehidupan nyata. Pohon nangka yang terluka dan berdarah, tanah berteriak, pohon mlinjo yang memiliki jiwa dan terguncang, akar pohon tua menjerit, dan Ibu Bumi menangis adalah beberapa gambaran yang digunakan penulis tentang alam yang menjadi korban dalam tatanan dunia modern.
Secara garis besar novel ini memberikan pengalaman membaca yang unik. Logat Betawi yang digunakan dalam percakapan antartokoh serta penjelasan tentang unsur budaya Betawi menguatkan realisme dalam narasi ini. Novel ini sarat dengan makna perjuangan kelas serta cara menghadapi perubahan zaman.
Selain kisah Bonge, Yan Lubis juga menulis memoar Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet, Ipah dan Bromocorah: A Batik Love Story, buku otobiografi yang diberi judul Baranangsiang, dan beberapa buku lainnya.
Penulis: Yan Lubis
Penerbit: Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: 2026
