Siap-siap! Seniman dan Diaspora Asia Tenggara Tampil di Festival Dealing in Distance
Meski keberadaannya cukup signifikan dalam lanskap seni budaya global,
namun banyak masyarakat awam belum menyadari kiprah seniman dan
diaspora Asia Tenggara. Mereka terikat dengan budaya di negara asal namun
mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang membentuk karya-karya
mereka.

Dalam waktu dekat, Goethe-Institut akan menggelar karya-karya para
seniman dan diaspora Asia Tenggara di Jerman, dalam festival bertajuk
Dealing in Distance di Hanoi dan Ho Chi Minh City, Bali, dan Manila. Program
di Indonesia akan berlangsung pada 22-25 Januari 2026, di beberapa lokasi
di Bali.
Lebih dari 15 seniman dan diaspora asal Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan
Laos, akan berpartisipasi dalam perhelatan ini. Mereka berbasis di Jerman
dan Asia Tenggara dan akan menyampaikan beragam sudut pandang pribadi
mengenai migrasi dan identitas.
Partisipasi mereka terbilang unik karena terpilih melalui beragam metode
seleksi. Ada beberapa yang lolos untuk mengikuti program residensi Dealing
in Distance di Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Ada pula yang terpilih dari
hasil seleksi panggilan terbuka, dan ada seniman lokal ditunjuk langsung oleh
kurator lokal.

Dari Indonesia, seniman dan diaspora yang akan hadir adalah jurnalis/penulis
Nelden Djakababa Gericke, Nindya Nareswari, dan Bilawa Ade Respati.
Nindya adalah desainer yang banyak berkutat dengan light atau cahaya
dalam karya-karyanya. Sementara Bilawa adalah musisi yang berbasis di
Berlin dan kerap menuliskan komposisi musik untuk gamelan dan gitar.
“Dealing in Distance hendak mengajak berbagai komunitas untuk
memperluas pemahaman konseptual kita mengenai identitas diaspora
dengan rasa peduli, dan menyimak melampaui apa yang tampak,” demikian
yang disampaikan oleh Marguerite Rumpf, Kepala Program Budaya GoetheInstitut Indonesien.

Festival ini menawarkan dialog lintas budaya antara para seniman dan
komunitas lokal melalui serangkaian pameran, penampilan, lokakarya,
pemutaran film, dan program-program satelit lainnya yang dikurasi secara
kolaboratif bersama kurator lokal.
“Acara ini juga mendorong partisipasi publik dalam praktik penciptaan
gagasan terkait rumah secara kolektif, serta pembacaan dan pemaknaan
kembali arti rumah dan rasa memiliki,” lanjut Rumpf.
Kurator regional festival ini, Nguyen Hai Yen, menggunakan filosofi ‘Deleuze’
dan ‘Guatarri’ mengenai rimpang sebagai basis untuk mendekonstruksi
‘diaspora’. Dalam ilmu botani, rimpang atau rizoma (bahasa Latin: rhizoma)
adalah modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah
permukaan tanah, dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruasruasnya.
Menurutnya, rimpang tidak terbatas pada ruang tertentu, melainkan terus
tumbuh, beradaptasi, dan membentuk hubungan baru dengan beragam
kumpulan berbeda.

“Dalam kerangka yang sama, jarak dapat dipandang bukan sebagai elemen
perpindahan geografis yang terukur, melainkan sebagai ‘sebuah tempat’,
‘sebuah tempat dalam progres’, atau ‘sebuah tempat antara’. Pandangan ini
mengusulkan agar jarak tidak dilihat sebagai tantangan yang perlu diatasi,
tetapi sebagai metode untuk beralih dari satu hal ke hal lainnya. Dengan
demikian, Dealing in Distance akan memberi tempat bagi kenangan dan
imajinasi para seniman,” ujar Nguyen.
Informasi lebih lanjut mengenai festival Dealing in Distance — termasuk lokasi
acara dan registrasi untuk mengikuti sesi-sesinya, dapat dilihat di akun
instagram Goethe Institut Indonesien.






