Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Pameran Pertama Komunitas Salihara di 2026, Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme

Pameran Pertama Komunitas Salihara di 2026, Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme

Komunitas Salihara mengawali Tahun 2026 dengan menyelenggarakan pameran bertajuk Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, bekerja sama dengan ArtSociates yang dikuratori oleh Asikin Hasan. Pameran ini menghadirkan sejumlah karya seni rupa Indonesia dari berbagai periode generasi seniman seperti: A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman, Fadjar Sidik, dan masih banyak lagi.

Asikin Hasan, kurator dalam pameran ini mengatakan “Realitas tidak akan pernah sama persis ketika digambarkan di atas sebuah kanvas, atau lainnya. Sebab, di dalamnya terjadi sebuah proses yang menggugurkan banyak hal, dan sebaliknya, melahirkan hal-hal baru tak terduga.”

“Abstraksi, artinya realitas dalam sebuah obyek, yang ditampilkan hanya saripatinya saja, “ lanjutnya. “Baru kemudian karya abstraksi itu dipelajari dan diikuti oleh banyak orang, maka ia menjadi sebuah fenomena abstrakisme.”

Pameran ini menampilkan lebih dari 80 karya yang dibuat mulai tahun 1950-an hingga 2025 dari beberapa periodisasi generasi. Sebagian besar berbentuk dwimatra, sebagian kecil trimatra.

Abstrakisme masuk ke Indonesia pertama kali salah satunya dibawa oleh Simon Admiraal melalui pendidikan seni rupa di Bandung. Dalam perkembangannya di Indonesia, abstraksi identik dengan pola-pola kubistis dan geometris dan dianggap menjadi suatu kebaruan oleh beberapa perupa di era 1950-an.

Kemudian gaya ini memengaruhi dan membentuk lingkungan akademis seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagaimana terlihat pada karya-karya A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Kaboel Suadi, Amrizal Salayan, hingga ke generasi lebih baru: Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman yang kesemua karyanya ditampilkan bersama-sama karya Simon Admiraal dalam pameran ini.

Pameran ini tidak hanya menampilkan bagaimana abstrakisme berkembang di ITB saja, kita juga akan melihat bagaimana gaya ini berkembang di berbagai tempat.

“Tapi abstraksi dan abstrakisme tidak melulu berkembang di ITB saja. Ia terus tumbuh di pelbagai tempat, sebagaimana terlihat pada karya-karya Aming Prayitno, Lian Sahar, Fadjar Sidik dengan corak khas. Bahkan, muncul juga pada generasi angkatan baru yang didasari penjelajahan gagasan dan kajian mendalam pada material sebagaimana karya-karya Henryette Louise dan Endang Lestari.” ujar Asikin.

Pada awal perkembangannya gaya abstraksi dituding sebagai pengabdi pengaruh barat, namun ternyata abstrak di Indonesia berbeda. Seni di Indonesia dipengaruhi berbagai lapisan budaya, mulai dari Hindu Budha, Arab, Barat yang hampir semuanya masuk secara bersamaan, sehingga dalam karya-karya bergaya abstraksi, oleh seniman- Indonesia dimasukkan unsur-unsur budaya, seperti bentuk etnik dan kaligrafi.

“Gaya abstraksi di Indonesia terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman, apalagi sekarang media dan material semakin berkembang, seperti menggunakan cat akrilik atau bahkan menggambar dengan media digital,“ kata Asikin hasan.

Salah satu seniman yang menyajikan karya terbaru adalah Endang Lestari, seniman yang dikenal selama ini dengan karya tiga dimensi keramik ini, berhasil menyajikan lukisan abstrak dengan materi dari tanah liat. Ia keringkan hingga menjadi serbuk, lalu dengan teknik sedemikian rupa bisa menjadi sebuah obyek dalam tampilan dua dimensi, serbuk tanah liat tampil rekat dan beku. Berwarna coklat alami danmenyajikan tekstur sebenarnya, tanpa ditambahi elemen dari bahan lain. Ia tampil apa adanya.

“Tanah liat saya tampilkan polos, agar soulnya yang muncul. Saya mengajak untuk melihat kedalam tentang tanah itu sebagai bumi, bagaimana alam membentuk teksturnya sendiri, sebagai simbol spiritual, kehidupan dan keberuntungan,“ ujar Endang Lestari.

Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme dibuka pada 16 Januari 2026 di
Galeri Salihara pukul 18:00 WIB dan bisa dikunjungi hingga 22 Februari 2026 dari
Selasa-Minggu pukul 11:00 – 19:00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.