“I’m (Not) An Alien, I’m An Indonesian In Berlin”
Nindya Nareswari (Nina) sehari-hari berkutat dengan cahaya sebagai pembentuk imaji visual. Ia mengaku ingin membuka ruang dialog mengenai perspektif manusia akan dunia di sekelilingnya, serta pengalaman hidup yang sifatnya mendasar. Seniman lulusan ITB ini menetap di Jerman dan membagipengalamannya sebagai ‘Orang Indonesia di Berlin’, khusus kepada Kultural Indonesia.
KI: Apa saja aktivitas Anda belakangan ini?
NN: Saya sedang mempersiapkan materi dan rencana untuk residensi bulan Maret tahun ini di Islandia. Saya akan residensi di sana selama 6 minggu. Selain itu, saya sedang mengembangkan metode teknis untuk karya instalasi bersama teman musisi dan sound artist saya. Sayangnya saya belum bisa bercerita lebih detil mengenai proyek tersebut sekarang ini.
KI: Latar belakang pendidikan Anda di ITB adalah desain produk, tapi selain desainer Anda juga dikenal sebagai “light artist”. Boleh diceritakan wujud karya-karya Anda seperti apa?
NN: Kekaryaan saya kerap melibatkan cahaya sebagai material tak teraba (intangible) yang dipertemukan dengan material berwujud (tangible), seperti mirror foil, filter polarisasi, dan material lainnya yang memiliki interaksi
aktif dengan cahaya. Pertemuan atau interaksi antara kedua jenis material ini dibangun untuk mengajak audiens merefleksikan kembali persepsi visualmereka terhadap ruang dan cahaya. Praktik ini saya wujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk instalasi ruang, set cahaya untuk pertunjukan musik maupun tari, objek atau skulptur, serta fotografi.

KI: Seberapa banyak keterkaitannya dengan desain produk?
NN: Latar belakang saya adalah desain produk dan architectural lightingdesign. Ini mempengaruhi cara saya berpikir secara material dan spasial, sementara praktik seni cahaya memberi saya ruang eksplorasi yang lebih eksperimental dan kontekstual. Saya juga berusaha tetap terbuka terhadap berbagai pendekatan dan bahasa seni — termasuk kolaborasi lintas disiplin, selama medium yang digunakan mampu mengkomunikasikan gagasan yang ingin saya sampaikan melalui karya.
KI: Menurut Anda komunitas seni di Berlin sekarang lebih cenderung ke mana, seni kontemporer mereka berkembang pesat, termasuk digital art dan perfilman. Anda menempatkan posisi di mana, apakah nyambung dengan perkembangan seni di Indonesia?
NN: Jerman, terutama Berlin, memiliki peran yang sangat kuat dalam tren seni modern dan kontemporer. Berlin kerap menjadi ruang eksperimen para seniman dari berbagai negara dengan latar belakang beragam. Hal ini
tercermin dalam tema-tema yang diangkat oleh para seniman di Berlin dalam karyanya, di mana pengalaman personal sebagai diaspora, migran, atau kaum minoritas kerap menjadi titik berangkat karya. Dalam konteks ini, saya sendiri tidak merasa menempatkan praktik seni saya sebagai seni Barat maupun seni Indonesia. Saya melihat praktik saya mungkin lebih berada diantara keduanya.
Saya tertarik mengangkat tema persepsi dalam melihat serta pengalaman dalam keseharian yang bersifat mendasar dan universal, hal-hal yang sering kita anggap sepele, terutama di masa sekarang ketika ritme kehidupan bergerak begitu cepat. Melalui karya saya, saya inginmembuka ruang dialog mengenai perspektif kita dalam memandang dunia dan pengalaman hidup manusia yang bersifat mendasar; hal-hal yang dapat dipahami oleh banyak orang, terlepas dari latar budaya.

KI: Untuk program Dealing in Distance yang juga akan digelar di Bali pada minggu ini, tema apa yang akan disajikan kepada publik?
NN: Meskipun berangkat dari pengalaman saya sebagai diaspora, saya mengangkat isu yang cukup mendasar, yaitu mengenai kesementaraan, memori, dan cara berdamai dengan perubahan. Melalui pendekatan ini, saya berharap karya saya dapat menjangkau audiens yang lebih luas, karena tema yang diangkat memiliki relevansi universal.
Di tengah pesatnya perkembangan seni berbasis teknologi digital, saya justru tertarik pada praktik yang bergerak ke arah sebaliknya yaitu yang lebih lambat, manual, taktil, dan sensorial. Saya suka bereksperimen dengan cahaya alami dan kondisi alam yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol oleh manusia. Bagi saya, pendekatan ini merupakan cara saya untuk menanggapi perkembangan teknologi saat ini, untuk menciptakan ruang refleksi di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi.
KI: Anda sudah berapa lama menetap di Berlin dan bagaimana suka duka hidup sebagai seniman dan diaspora Indonesia?
NN: Saya tinggal di Berlin sejak 2015, sudah 10 tahun. Awalnya saya diterima bekerja setelah menyelesaikan studi master di Wismar. Setelahnya saya mendapatkan pekerjaan tetap sebagai architectural lighting designer (Desainer Pencahayaan Arsitektural) selama sekitar 2,5 tahun. Saya kemudian memutuskan untuk beralih menjadi pekerja lepas dan mulai lebih serius mengeksplorasi praktik seni cahaya.
Sebagai diaspora Indonesia, saya secara personal tidak terlalu mengalami hambatan dalam kehidupan sehari-hari karena publik di Berlin relatif terbuka dan internasional. Mungkin juga karena saya tinggal di sini sudah cukup lama, jadi sudah terbiasa dengan kehidupan di sini. Satu-satunya yang masih terasa sulit saya hadapi hingga kini adalah musim dingin di sini. Itu sebabnya saya selalu berusaha pulang ke Indonesia setiap tahun saat musim dingin. Namun, pengetahuan orang-orang di sini tentang Indonesia masih cukup terbatas. Masih banyak orang yang hanya mengenal Bali, sementara negara-negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam (karena sejarahnya di Jerman), Thailand, dan Filipina cenderung lebih familiar bagi mereka.
KI: Apa yang membuat aktivitas seni di Jerman menarik bagi Anda, apakah keterbukaan publik atau dukungan pemerintahnya?
NN: Berlin memiliki ekosistem seni yang sangat aktif, dengan beragam acara mulai dari skala internasional seperti Berlin Art Week hingga inisiatif lokal seperti 48H Neukölln. Selain itu, terdapat berbagai institusi yang mendukung seniman, baik secara struktural maupun finansial. Salah satunya adalah Künstlersozialkasse (KSK), sistem jaminan sosial yang memungkinkan seniman dan pekerja kreatif mandiri di Jerman mengakses asuransi kesehatan dan pensiun dengan skema kontribusi yang lebih terjangkau. Ini setara dengan pekerja bergaji, karena sebagian iurannya ditanggung melalui subsidi pemerintah.

KI: Perbedaannya yang paling mencolok jika dibandingkan dengan Indonesia?
NN: Di Indonesia pertunjukan dan kegiatan seni banyak disponsori pihak swasta. Di Jerman sebagian besar seniman bergantung pada pendanaan publik, baik dari pemerintah kota/munisipal, negara bagian, maupun federal. Sayangnya, sejak akhir 2024, anggaran pemerintah (federal) untuk bidang
seni dan budaya –khususnya dari kota Berlin itu mengalami pemotongan yang cukup signifikan, sekitar 12–13 persen atau kurang lebih 130 juta Euro. Bagi saya secara personal, dampak ini terasa pada semakin terbatasnya peluang pendanaan proyek dan meningkatnya kompetisi antarseniman.
Meski aslinya dari Bandung, Nindya lahir di Surabaya, pada 16 Juli 1989. Bungsu dari dua bersaudara ini menamatkan pendidikan sarjana di jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) dan meraih gelar Master of Architectural Lighting Design di Hochschule Wismar, Jerman. Nindya beruntung dibesarkan di lingkungan yang mendukung pencapaian karirnya. Ayahnya merupakan dosen di bidang desain interior dan furnitur, sedangkan sang Ibu sempat bekerja sebagai arsitek.
Karya-karya Nindya akan ikut ditampilkan dalam Dealing in Distance, sebuah festival yang mengangkat pemikiran para seniman dan diaspora Asia Tenggara di Jerman. Festival ini akan berlangsung bulan Januari ini di Hanoi dan Ho Chi Minh City (Vietnam), Bali, dan Manila (Filipina).


