Na Willa dan Indahnya Keindonesiaan Kita
Kota Surabaya tahun 1960-an menyimpan banyak cerita. Suasana ‘melting pot’ menjadikan anak-anak tumbuh besar di lingkungan dengan beragam suku dan agama.Mereka guyub dalam persahabatan yang rukun. Kisah ini terekam indah dalam memoriReda Gaudiamo, penulis buku Na Willa, dan diadaptasi ke layar lebar oleh VisinemaStudios.
Na Willa disutradarai oleh Ryan Adriandhy, yang sebelumnya sukses menggarap film animasi Jumbo. Diputar perdana dua hari menjelang Idulfitri, tiket film Na Willa terjual habis di banyak bioskop di luar Jakarta. Luar biasa!

Na Willa adalah gadis kecil berusia sekitar 5 tahun, yang baru akan masuk Taman Kanak-Kanak (TK) pada era 1960an hingga 1970an. Reda mengaku inspirasi Na Willa diperoleh dari mana-mana; mulai dari kepolosan putri tunggalnya saat kecil hingga kisah nyata yang dialaminya sendiri ketika menetap di Gang Krembangan, Surabaya.
“Na Willa adalah nama ibu saya, yang saya pinjam untuk tokoh ini. Sedangkan pengalaman dan masalah yang dihadapi Na Willa dalam buku saya ambil dari problem yang dihadapi anak saya ketika ia seusia Na Willa, bahkan lebih muda lagi. Awalnya saya hanya menulis beberapa cerita saja, di blogs dan kemudian di catatan media sosial Facebook. Ternyata banyak yang berminat sehingga saya tambahkan dengan mengingat masa kecil saya,” kisah Reda.
Karakter teman-teman Na Willa, yaitu Farida, Bud, dan Dul sejatinya adalah teman teman masa kecil Reda. Dalam buku dan film, Dul dikisahkan mengajak Na Willa untuk bermain di dekat rel kereta, tapi Na Willa menolak karena ingat pesan Mak. Akibat tak melihat rambu, kaki Dul jadi celaka dan terpaksa ia harus masuk rumah sakit. Sejak itu,
sebelah kakinya memakai kaki palsu.

“Dul itu betul-betul mengalami tragedi. Kakinya (saat itu) masuk ke celah roda kereta,” ujar sang penulis.
Film Cerita Bercampur Animasi Penuh Warna
“Saya membuatkan panduan setebal 120 halaman untuk Ryan dan para produser, dengan judul ‘Na Willa: Dari Seberang Meja’. Mereka tumbuh di jaman yang berbeda dengan Na Willa. Saya juga merasa perlu melakukan ini karena Na Willa sudah dibaca banyak anak-anak, mulai dari SD Negeri yang berlantai semen hingga Sekolah
Nasional Plus. Saya ingin Ryan bisa memahami Na Willa lebih utuh, sehingga ia bisa mengeksekusi Na Willa tanpa mengecewakan para pembaca-pembaca kecil yang sudah mengenal Na Willa jauh lebih dahulu dari filmnya,” jelas Reda.
Film ini unik karena ikut memasukkan unsur animasi dan lagu. Seperti saat Willa penasaran dengan penyanyi Lilis Suryani yang berdendang di RRI. Ia pun membongkar radio Mak untuk ‘mencari’ Lilis Suryani. Ketemu? Tentu tidak ada. Sosok Lilis Suryani menyanyikan ‘Oh Hesty’ di dalam kotak radio hanya ada di dalam pikirannya. Mak pun
marah karena radionya jadi berantakan dibongkar anaknya. Memori tentang Lilis Suryani dan suasana tahun 60an semakin memperkaya kisah Na Willa.
“Ingatan saya mengenai masa itu adalah (restoran) mie pangsit di Jembatan Merah, Es Krim Zangrandi, Toserba Siola, Gang Krembangan, gereja di Jalan Johar, (pelabuhan) Tanjung Perak, TK Juwita, RRI Surabaya. Sebetulnya banyak yang saya ingat. Saya juga kurang paham kenapa saya bisa mengingat begitu banyak hal dari masa kecil
saya,” kenang Reda.

Adegan Willa yang non-Muslim tapi ingin ikut pengajian anak-anak di rumah Farida cukup menyentuh hati, terutama saat Willa bertanya kepada Mak, dan Mak minta izin kepada guru mengaji.
“Mengaji itu bukan main-main, sama seperti kalau Willa, Mak, dan Pak sedang berdoa di gereja. Willa boleh duduk di belakang tapi tidak boleh berisik ya, tidak boleh lari-lari dan panggil-panggil Farida,” pesan Mak tegas.
Mak dan Pak adalah karakter dengan latar belakang yang sangat berbeda. Keduanya adalah orangtua Reda. Mak berasal dari Indonesia Timur, sedangkan Pak berlatar Tionghoa. Perbedaan ini, kata Reda, membuat mereka saling tertarik dan berpengaruh pada banyak keputusan bagi anak-anaknya.
“Mak sangat aktif di lingkungan gang Krembangan. Begitu juga dengan Pak. Saya pikir itu situasi yang sangat keren. Itu sebabnya saya menulis Na Willa, untuk mengingatkan kepada orang-orang sekarang, bahwa kita, orang Indonesia, pernah se-asik itu. Semua orang bisa membantu sesama tanpa memikirkan aliran, suku atau agama,” kata Reda.
Ada sejumput kebahagiaan masa kecil yang ingin ia bagikan kepada para penonton, khususnya anak-anak.
“Saya berharap anak-anak menemukan dirinya di sana. Saya berharap ayah dan ibu dan siapa pun yang menyaksikannya bisa kembali ke masa kecil, dan membawa rasa bahagia itu pulang dan terus menyimpannya di dalam hati,” tutup Reda.






