Pameran Inklusif, Sejajarkan Karya-Karya Seni Rupa Seniman Difabel dan Non Difabel

Karya seniman seni rupa dengan kondisi berkebutuhan khusus memang menarik
untuk diselami, khususnya bagi mereka yang menyandang autisme atau bahkan
dengan kondisi berkebutuhan ganda. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan
komunikasi, terutama verbal. Sehingga latar belakang dari karya-karya mereka
menjadi misteri karena sulit diungkapkan.

Namu hal itulah yang menjadikannya menarik untuk apresiasi lebih lanjut. Seperti
pada Pamean Inklusif yang digelar di Getback Parlour, sebuah coffee shop kecil di
antara jajaran ruko di kawasan Duta Mas Fatmawati, Jakarta Selatan. Pameran
yang berlangsung dari 6 Desember 2025 – 17 Januari 2026 menghadirkan karyakarya seni Lukis dari 5 seniman. Tiga seniman diantaranya adalah dengan kebutuhan khusus. Mereka adalah Raysha Dinar Kemal Gani, Benediktus Anfield Wibowo, Dwi Putro disandingkan dengan karya dari Hilmi Faiq dan Joko Kisworo.

Sesuai dengan judul pameran ini, Inklusif, bertujuan agar para seniman yang masuk
dalam kaum disabilitas atau berkebutuhan khusus dapat dimasukkan atau termasuk
dalam jajaran keberagaman karya seni rupa yang dapat diapresiasi oleh publik.
Termasuk karya dari Raysha dengan karunia spektrum autisma nonverbal, Anfield
dengan karunia Tuli, gangguan wicara dan asperger, serta Dwi Putro dengan
gangguan wicara dan mental serta tuli, yang bisa termasuk dalam jajaran
keberagaman karya seni rupa seperti karya seniman lainnya termasuk Joko
Kisworo dan Hilmi Faiq.

Dibuka resmi pada 4 Desember 2025, pameran ini mengambil tempat tidak hanya di
area coffee shop saja tetapi juga di lantai 2-5 ke atas yang berfungsi sebagai kantor.
Karya-karya-karya Lukis juga disebar di dinding-dinding kantor, diantara jajaran
buku-buku dan dokumen-dokumen, di atas meja-meja yang menjadi tempat kerja,
laptop atau perangkat komputer berdiri, di dinding ruang santai antara alat-alat band
dan perangkat pemutar musik seperti vinyl player.

Lukisan-lukisan besar kecil tersebar, berwarna-warni dengan berbagai obyek, nyata
maupun abstrak, melengkapi desain interior ruangan kantor, sehingga semakin enak
dipandang dan didiami sebagai ruang kerja.

Raysha dengan karya-karyanya yang menyajikan keindahan bunga-bunga, Anfield
dengan koleksi lukisan dengan obyek bulan dan ular dengan gaya garis-garis tegas
dan warna-warna yang kuat. Begitu juga dengan karya Dwi Putro yang unik. Di balik
kondisi fisik dan mentalnya, semangat melukisnya sangat tinggi, terutama obyek ibu
dan anak terinspirasi dari sosok Bunda Maria dan Bayi Yesus, wajah-wajah manusia
dan mobil balap. Besar dan kecil.
Kesemuanya disandingkan dengan karya-karya Joko Kisworo dan Hilmi Faiq
dengan gaya abstraknya.

Nawa Tunggal, adik dari Dwi Putro yang juga seorang jurnalis seni, adalah
penggagas dan penulis dalam pameran ini, Ia menjelaskan bahwa yang menarik
dari pameran ini adalah cerita di balik karyanya. Namun dengan keterbatasan fisik
dan mentalnya mereka tidak bisa mengkomunikasikannya. “Pameran ini tidak
mengajak pengunjung untuk berbelas kasihan, namun cukup menikmati karya-karya
mereka, bahwa ternyata tidak berbeda dengan hasil karya seniman yang berkondisi
normal, bahkan kadang lebih jujur, karena karya-karya mereka murni dari ekspresi
mereka,“ ujarnya.
Pada hari pembukaan yang resmi dibuka oleh Avianti Armand, Anfield yang pernah
melakukan live painting di hadapan Paus Fransiskus pada tahun 2024, juga
melakukan live painting, setelah meneruskan goresan yang dibuat oleh Melani W.
Setiawan. Hasil lukisannya dilelang dan hasilnya disalurkan untuk korban bencana
alam di Sumatera.




