Ikhtiar Yang Tak Benar-Benar
Juna bagai menghadapi jalan buntu. Sebagai penulis ia tak kunjung melahirkan karya. Tak satupun kata berhasil ia tuliskan. Di sisi lain, Kinan atau biasa dipanggil Kin, istrinya tampak kesal dengan Juna yang tak kunjung menyelesaikan apa yang telah ia ikhitiarkan. Proses menulis Juna yang terksesan lama, ditunda-tunda, tak kunjung membuahkan hasil ternyata memengaruhi hubungan Juna dan Kin sebagai pasangan suami istri yang tinggal dalam satu atap. Keduanya sama-sama manusia sibuk. Kin seorang karyawan kantoran yang ajeg dengan rutinitasnya. Sebaliknya Juna hampir tiap hari bergelut dengan akalnya untuk membuahkan mahakarya. Namun, nampaknya bukan sebuah kesibukan yang dilihat Kin melainkan kebuntuan. Pola komunikasi mereka makin lama makin memburuk. Hingga suatu saat terlintas dalam benak Kin untuk berpisah dengan suaminya itu.
Lewat kisah Juna dan Kin kita dapat melihat kompleksitas suatu hubungan antarmanusia dan cara mereka memandang aspek-aspek kehidupan berdasarkan sudut pandang tokoh-tokohnya. Sudut pandang itu diungkapkan melalui kalimat-kalimat langsung seolah-olah para tokoh sendiri yang berbicara. Oleh sebab itu dalam novel ini kita akan mendapati narasi yang berbeda-beda tergantung siapa tokoh yang sedang berbicara. Saat kita membaca sudut pandang Kin, kita akan merasakan, bahkan, seolah mendengar kalimat-kalimat lugas, penuh semangat, kadang meledak-ledak. Sebaliknya saat membaca sudut pandang Juna kita menemukan semacam jeda yang memberi ruang pikiran untuk bertanya kembali atau menimbang sesuatu dengan hati-hati.
Kisah dalam novel ini kembali mengingatkan bahwa tak ada yang hitam putih, benar salah. Semuanya perlu dilihat latar belakangnya atau alasan-alasan di balik itu. Juna dan Kin sebagai suami istri juga bergelut dengan keputusan-keputusan sulit salah satunya memiliki keturunan. Novel ini memberikan sudut pandang keduanya. Membaca kisah ini bagai membaca isi hati dan pikiran seseorang. Adanya tokoh Oma (mamanya Kin) dan Alia (keponakan Kin) juga menambah warna dalam novel ini. Narasi ini juga memberikan kritik tentang sikap perfeksionisme melaui tokoh Juna. Hal itu jadi salah satu hal menarik dalam novel ini. Sebab perfeksionisme dalam hal ini justru terlihat seperti suatu sikap yang membuat keadaan cenderung stagnan. Meskipun demikian di sisi lain novel ini sedikit menuntut pembaca untuk lebih fokus di bagian awal sebab pergantian narasi antara sudut pandang satu tokoh dengan tokoh lainnya agak kabur. Meskipun akan terbaca polanya setelah pembaca mengidentifikasi gaya bahasa yang digunakan. Secara keseluruhan novel ini menyuguhkan konflik dan cara bercerita yang cukup menarik. Kisah ini mengolah konflik rumah tangga menjadi sebuah arena pertarungan gagasan dari pihak-pihak yang terlibat tanpa memberikan predikat menang atau kalah.
Nukila Amal menulis beberapa cerpen yang diterbitkan oleh media cetak dan daring. Kisah Juna dan Kin ini sendiri merupakan bagian -bagian dari cerpen Sirajatunda yang pernah diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2010. Nukila Amal juga menulis novel Cala Ibi dan kumpulan cerpen Laluba. Beberapa karyanya mendapat penghargaan dari dalam negeri.
Penulis: Nukila Amal
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2025
#sastraindonesia
#ikhtiaryangtakbenarbenar
#novelindonesia
#IndonesiaBerbudaya
#BudayaBaca
#maribaca
#penulisindonesia
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID
