Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Perayaan Seni Rupa Dua Tahunan Jakarta Biennale 2026: KEBAL, Hadirkan Karya-karya Gambaran Resiliensi Warga Urban

Perayaan Seni Rupa Dua Tahunan Jakarta Biennale 2026: KEBAL, Hadirkan Karya-karya Gambaran Resiliensi Warga Urban

Sebuah ajang pameran seni rupa dua tahunan di Jakarta, Jakarta Biennale kembali digelar di tahun 2026 ini. Jakarta Biennale 2026, dengan tema KEBAL, diselenggarakan pada 4 Oktober – 28 Oktober 2026, di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, dan beberapa titik yang tersebar di Jakarta. Pameran seni rupa kontemporer yang telah berumur 52 tahun ini diselenggarakan oleh 16 kolektif seni di Jakarta yang tergabung dalam Majelis Jakarta, dan atas kerjasama dengan JayaRaya, Dinas Kebudayaan, UPPKJ TIM, Dewan Kesenian Jakarta, dan JAKPRO.

Tahun ini, Jakarta Biennale mengambil tema “Kebal”, sebagai tema besar kerangka kuratorialnya. Kata itu dipilih untuk merepresentasikan identitas masyarakat urban, khususnya kelas pekerja.

Berdasarkan kerangka kuratorial itu, perwakilan dari Majelis Jakarta merekomendasikan nama-nama seniman beserta karya yang merepresentasikan kata tersebut untuk kemudian didiskusikan dan diputuskan bersama. Sebanyak 20 seniman terpilih untuk menampilkan karyanya untuk dipamerkan di TIM.

Para seniman atau kelompok seni yang terpilih adalah Anang Saptoto (Yogyakarta), Arif Furqan (Yogyakarta), Angkor Project (Kamboja), Arifa Safura (Aceh), Artery Performa (Bekasi), Athonk Sapto Raharjo (Yogyakarta), Alyakha Kolektif (Papua), Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (Kuningan), Fadriah Syuaib (Ternate), Fassih Keiso (Melbourne), Fitri DK (Yogyakarta), Marida Nasution (Jakarta), M. Taufiq Hidayat (Yogyakarta), Nia Gautama (Bandung), Rumah Budaya Selat Bonot (Kepulauan Seribu), Syska La Veggie (Sidoarjo), The Archipelago (Jakarta), Visit Palestine (Jakarta).

Ita Paseban, perwakilan dari Majelis Jakarta menjelaskan bahwa “Kebal” dimaksud bukannya jimat atau matra untuk ketahanan fisik, tetapi kemampuan bertahan secara fisik , batin dan ruang bersama, untuk bertahan ditengah laju perkembangan jaman, untuk saling menjaga dan melindungi.

Dewi Umaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta menjelaskan, “Jakarta Biennale 2026 adalah sebuah perayaan seni rupa yang terus tumbuh, yang memperkuat semangat kolektif , sekaligus ajang silahturahmi untuk bersama mengatasi tekanan di sekitar medan dunia seni.”

Mochamad Miftahulloh Tamary, S.STP, MT, M.Sc, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta yang hadir dan membuka secara resmi Jakarta Biennale 2026 ini mengatakan bahwa ajang pameran ini menjadi ruang refleksi dan dialog antar warga dan ruang kotanya. “Seni sangat penting untuk kehidupan kota, untuk memahami kotanya sendiri. Jakarta di tahun 2027 akan berusia 5 abad, untuk siap menjadi kota
global, harus memiliki identitas yang kuat dengan ekosistem seninya. Untuk itulah Jakarta Biennale berperan penting,“ ujarnya.

Pameran yang mengambil tempat di Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki ini, tidak hanya di ruang pameran tetapi beberapa obyek karya juga mengambil tempat di pelatarannya. Ada dua karya instalasi sekaligus performa. Pertama ada “Sintas” karya seni performan yang menyajikan aktifitas menyulam, meja kursi, handuk dan gatungan baju, menggambarkan ritme kelas pekerja urban dalam rutinitasnya setiap hari. Kedua adalah “Lolos Sortir” karya ini mendatangkan situasi Bantar Gebang, sebagai tempat pembuangan akhir sampah Jakarta.
Lengkap dengan sampah-sampah yang sudah dikelompolkan dari sortiran dan tukang-tukang sampahnya.

Selain itu dalam pameran ini banyak menyajikan karya instalasi dengan video-video dokumenter baik individu maupun kolektif. Bahkan ada dua kolektif seni dari luar negeri yaitu “Angkor Project” dari Zen Teh, Kamboja dan “Yadgari”, dari Archipelago beranggotakan para seniman dari berbagai negara.

Bersamaan dengan itu, Jakarta Biennale juga menyelenggarakan Ruang Tamu, yakni platform yang dikelola oleh sejumlah kolektif yang tergabung dalam Majelis Jakarta. Selama penyelenggaraan berlangsung, Jakarta Biennale juga merancang beberapa program publik yang berupa diskusi, lokakarya, performance art, serta pertunjukan musik. Di samping itu, beberapa aktivasi akan diadakan di sejumlah
program Ruang Tamu, antara lain;
• pameran, bincang seniman dan lokakarya zine di PannaLab oleh Panna Foto Institute (16 – 30 Oktober),
• lokakarya sablon, kuliah umum, dan lokakarya arthandling di FSRD IKJ oleh Sekolah Sablon Indonesia,
• Kelas Aktivisme Seni, dan Kosarupa (19 Oktober – 6 November),
• pameran di Kedai Atelir Ceremai oleh Atelir Ceremai (24 Oktober – 24 November),
• live mural dan diskusi publik di Taman Stasiun Manggarai oleh Ngakarya (25 – 31 Oktober),
• presentasi di Outlier Café oleh Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (20 Oktober – 27 Oktober),
• pemutaran film di rooftop Pasar Gembrong oleh Festival Film Jelek (24 Oktober),
• bincang seniman, open studio, dan diskusi publik di Posko Masyarakat Peduli Lingkungan Kali Krukut (MPLKK) oleh Selarasa Foodlab dan Grafis Huru Hara,
• pameran, diskusi publlik, dan lokakarya “Pemanfaatan Sampah di Hutan Mangrove dan Hutan Kota Pulau Pramuka” oleh Rumah Budaya Selat Bonot (4-24 November),
• pameran dan lokakarya di Neha Hub oleh Creativite (8-24 Oktober),
• pameran seni instalasi “Tutur Piring,” pertunjukan, dan lokakarya di Paseban oleh Komunitas Budaya Paseban (31 Oktober – 1 November),
• dan pertunjukan di Bantar Gebang oleh Artery Performa (31 Oktober).

Selain itu juga terdapat program pemutaran film diberbagai ruang publik. Mulai dari film :
• “Si Mamad” – Sjumandjaja, “Cintaku di Rumah Susun” – Nya Abbas Akub di Pemancingan Grogol Petamburan, Jakarta Barat (10 Oktober),
• pemutaran film “Pinangan” – Sjumandjaja, “Cintaku di Rumah Susun” – Nya Abbas Akup di Lapangan Durian Jagakarsa, Jakarta Setalan,
• pemutaran film dan Diskusi Publik: Lumbung Film, “Amaq Kedurek” – Pasir Putih, “Balang Peji” – Pasir Putih, “Rats on The Run” – United Fried Front, “The City” – Ralph Steiner Willard Van Dyke di JakSinema/Layar Digi, Rusun Pasar Rumput (17 Oktober),
• pemutaran film “Tamu Agung” – Usmal Ismail di Sekretariat Karang Taruna Duri Kepa, Jakarta Barat (24 Oktober), “Liburan Seniman” – Usmal Ismail, “Cintaku di Rumah Susun” – Nya Abbas Akup di TPU Kober Kampung Melayu, Jakarta Timur (31 Oktober),
• Pemutaran Film Palestine Cinema Days Around The World, “Fidaa” – Khaled Tuaima, “Hadeel” – Aisha Adly, “Maha” – Moayed Abu Ammouneh, “Noor” – Shorouq Al- Aila di JakSinema/Layar Digi, Rusun Pasar Rumput pada 2 November,
• pemutaran film “Cintaku di Rumah Susun” – Nya Abbas Akup, “Pinangan” – Sjumanjadja di Lapangan Perintis, Paseban, Jakarta Pusat (7 November),
• pemutaran film “Tamu Agung” – Usmal Ismail di Taman Bendera Pusaka (Taman Ayodya Barito), Jakarta Selatan (14 November),
• pemutaran film “Si Mamad” – Sjumandjaja di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan (21 November).

Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia
#senirupaindonesia
#jakartabiannale2026
#tamanismailmarzuki
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesiaID
#kulturalindonesia

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.