Madani International Film Festival 2026 Hidupkan Jejaring Lintas Seni
Madani Film Festival 2026 digelar pada 7-11 Oktober 2026 dengan mengangkat tema ‘Rimpang’. Ini tentu bukan berarti film-film mengenai umbi-umbian yang diputar, melainkan cara membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai kalangan, tak hanya para sineas.

Dari tahun ke tahun, Madani International Film Festival menjadi wadah penyelenggaraan film-film yang mewakili kegelisahan sehari-hari, hingga kemudian meningkat ke berbagai persoalan besar seperti korupsi, konflik, dan migrasi.
Dinamika geopolitik ikut mempengaruhi produksi film yang ditawarkan sehingga jumlah film yang masuk melalui open submission meningkat dari tahun ke tahun. Tahun ini panitia menerima 1500 film, diantaranya Mesir, Polandia, Brazil, dan Malaysia. Ada 108 karya terpilih dari 29 negara untuk program “film” serta 15 sesi diskusi dalam program “ideas”.
Keberadaan program “ideas” pada edisi tahun ini menandai adanya perluasan fokus Madani yang tidak hanya memutar film internasional dan nasional, tetapi juga berkolaborasi lintas disiplin seni sebagaimana yang terjadi pada banyak gerakan sipil saat ini.
“Gerakan (masyarakat sipil) sekarang persis seperti rimpang atau akar-akaran. Kalau pohon kan tumbuh satu saja ke atas, sedangkan rimpang itu gerakan yang egaliter. Semangat ini yang ingin diambil oleh Madani bahwa festival ini bisa menjadi ruang untuk semua dalam berbagai bentuk, tidak hanya film,” ungkap Inayah Wahid, Board Madani Fest, dalam jumpa pers di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Senin (5/9).
Penghargaan Khusus Untuk Asrul Sani
Madani Fest secara khusus akan merayakan 100 Tahun Asrul Sani untuk membahas pemikiran Islam modernis ala sastrawan dan maestro film tersebut. Tiga film Asrul Sani yang akan diputar adalah ‘Mahkamah’, ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’, dan ‘Apa yang Kau Cari, Palupi?’
Diskusi retrospektif akan menghadirkan pengamat film Eric Sasono dan Umi Lestari untuk membedah pemikiran Islam modernis Asrul Sani yang tertuang dalam karya-karyanya.
“Diskusi akan berlangsung secara hybrid di Galeri Antara karena Eric sedang berada di Nottingham, Inggris. Dia pernah meneliti film-film Islam dan film-filmnya Pak Asrul, lalu dia juga menjadi salah satu peneliti yang mendalami film Tauhid. Sementara Madani Fest akan membahas aspek modernis Islam nya Pak Asrul,” Hikmat Darmawan, kritikus film.
Menurut Mutiara Sani — istri Asrul Sani, naskah film ‘Mahkamah’ ditulis Asrul dalam keadaan berbaring karena sedang sakit. Mutiara yang mengetik sementara suaminya mendikte kata per kata. Ia mengaku memiliki banyak perbedaan pendapat saat proses produksi, namun semua dapat dibicarakan dengan baik hingga bagian akhir naskah.
“Naskah-naskah Pak Asrul yang saya mainkan itu banyak sekali yang membentuk diri saya hingga sekarang, baik itu menyangkut masalah agama hingga masalah pikiran atau ide yang masih relevan sampai sekarang, bahkan sampai masa yang akan datang,” kata Mutiara yang hadir dalam jumpa pers bersama putranya, Syauqi Sani.
Tumbuh dalam lingkungan Islam berpendidikan tinggi tidak menjadikan sosok Asrul menutup mata pada perubahan masyarakat, seperti yang digambarkan dalam ‘Titian Serambut Dibelah Tujuh’. Namun menurut Mutiara semua disampaikan dengan santun.
“Dalam film-filmnya dia tak berbicara keras tentang agama. Pak Asrul orang yang tidak pernah berhenti berpikir, hatinya lembut, tetapi sangat yakin pada dirinya sendiri,” ujar Mutiara.
Sejalan dengan tema ‘Rimpang’ yang diusung Madani Fest, sang maestro menjalankan Islam tak hanya sekedar fisiknya, tapi mewujudkan nilai Islam moderat untuk menghidupkan naskah-naskahnya.
Film ‘The Stories’ dari Mesir Menjadi Film Pembuka
Festival yang telah berusia 9 tahun ini akan berlangsung pada 7-11 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. ‘The Stories (Al-Qasas)’ dari Mesir terpilih sebagai film pembuka. Film ini terpilih untuk mewakili Mesir dalam perebutan nominasi Oscar untuk tahun 2027, tepatnya pada ajang Academy Awards ke-99 di Los Angeles, AS.
Film ini terinspirasi dari kisah nyata orang tua sang sutradara. Kisahnya mengikuti perjalanan Ahmed (diperankan oleh Amir El-Masry), seorang pemuda Mesir yang bercita-cita menjadi pianis konser, dan hubungannya lewat surat menyurat dengan seorang wanita Austria bernama Liz (Valerie Pachner) sejak tahun 1967.
Salah satu film Indonesia yang akan diputar adalah ‘Seni Merayu Tuhan’ karya Ismail Basbeth. Sisanya akan diisi dengan sesi khusus film anak dalam Madani Kids, pemutaran film-film pendek terpilih, konser musik Efek Rumah Kaca, layar tancap warga, dan diskusi perfilman dalam Master Class. Madani Fest akan ditutup dengan film “Chronicles from the Siege” dan Malam Anugerah Madani Awards 2026.
Informasi lengkap mengenai lokasi pemutaran film dan diskusi dapat dilihat pada situs dan Instagram Madani Film Festival.
Foto: Wella Madjid | Kultural Indonesia
Dok. MIFF
#IndonesiaBerbudaya
#madaniinternationalfilmfestival2026
#rimpang
#sineasindonesia
#100tahunasrulsani
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

