100 Tahun Asrul Sani, Seorang Pemikir Islam Modernis
Asrul Sani menggunakan film sebagai kendaraan untuk menyampaikan gagasan Islam yang tidak kolot, yang tetap membumi di tengah gejolak dan perubahan sosial masyarakat Indonesia. Mengapa ia dibenci PKI dan Lekra, meski sangat anti-kolonialisme?
Dalam khazanah perfilman Indonesia, nama Asrul Sani kerap disebut sebagai sineas yang memajukan nilai-nilai Islam modern, baik dalam naskah teater seperti ‘Mahkamah’, maupun dalam sejumlah film. Sebelum menulis naskah dan menyutradarai film, kiprah Asrul Sani dalam dunia seni diawali dengan puisi, esai, cerita pendek, dan naskah drama.
“Asrul seorang modernis yg real dan konsisten. Cerpen-cerpennya sedikit tapi dianggap sebagai tonggak juga. Puisi-puisinya juga selalu ada semacam diskursus khas seorang modernis yang berkutat dengan diskursus Barat tetapi juga sinkretik karena menggunakan idiom-idiom filosofis, diantaranya dengan menyertakan gagasan Islam. Kemudian latar belakangnya sebagai seorang Minang ikut membentuk film dan naskah-naskah yang ditulis,” ungkap Hikmat Darmawan, kritikus film dan Board Madani Fest, dalam diskusi “100 Tahun Asrul Sani: Asrul Sani Sebagai Pemikir Modernis Islam”, di Galeri Foto Jurnalistik Antara, (8/10).
Pemikiran Asrul Sani dibahas karena dua filmnya turut diputar dalam Madani International Film Festival tahun ini, yaitu ‘’Titian Serambut Dibelah Tujuh” dan “Apa yang Kau Cari, Palupi?”
Hikmat menambahkan bahwa Asrul Sani menggarap film-film bernafaskan Islam, namun tidak secara eksplisit menjadikannya semata-mata sebagai film untuk kaum Muslim karena Asrul memiliki gagasannya sendiri.
“Kalau dilihat karya Asrul Sani secara umum, maka Islam (sebagai identitas) paling jelas terlihat di dalam karya-karya film. Kalau di cerpen justru (pemikiran) kosmopolitannya yang kelihatan. Seperti dulu dia pernah menyampaikan, ‘Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia’,” kata Eric Sasono, peneliti film Asrul Sani. Ia hadir secara online dalam diskusi karena sedang berada di Inggris.
Eric pernah meneliti “Tauhid” (1964) sebagai penemuan yang penting dalam sejarah perfilman Indonesia, meski menuai kontroversi dari militer dan partai-partai politik.
“Pertama, ‘Tauhid’ didanai oleh pemerintah Indonesia dan film pertama yang diproduksi oleh Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, yang didirikan pada 1962). Pengambilan gambarnya di Mekkah dan seluruh kru film termasuk Asrul ikut berhaji,” ujar Eric.
‘Tauhid’ memicu perdebatan dan diskusi pada 1960an antara Soekarno, Nadhlatul Ulama, militer, PKI, dan kaum nasionalis. Kelompok kiri gencar menghantam film-film yang diproduksi oleh musuh politik mereka, termasuk Lesbumi. Film ‘Tauhid’ yang kental dengan unsur religi dianggap tidak sejalan dengan garis ideologi revolusioner yang mereka gaungkan.
Kisahnya sendiri mengenai perjalanan spiritual sekelompok jemaah asal Indonesia yang sedang berlayar menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Konflik batin utama dialami oleh dokter kapal yang sudah berulang kali mengantar jemaah haji namun hatinya sendiri belum pernah tergerak untuk ikut beribadah, hingga akhirnya ia tersadar berkat dorongan moral dari para penumpang lainnya.
“Ada empat ciri Islam moderat dalam karya Asrul Sani, yaitu ketakwaan berdasarkan rasionalitas, perubahan sosial, posisi perempuan, dan tema Islam dan kebangsaan. Ciri lain adalah hidayah. Tokoh-tokohnya mengalami pencerahan. Biasanya film kan mencari jalan pintas. Namun dalam Islam hidayah bisa datang begitu saja dan ini digunakan Asrul dalam ‘Para Perintis Kemerdekaan’, ‘Apa yang Kau Cari, Palupi?’, ‘Nada dan Dakwah’, serta Tauhid,” tambah Eric.
Dibenci PKI dan Lekra, Dibela Soekarno
Asrul Sani banyak dirugikan pada saat konflik politik 1960an merebak. Sebelum ‘Tauhid’, film ‘Pagar Kawat Berduri’ (1961) juga diserang hingga ia harus meminta perlindungan Presiden Soekarno. Djamaluddin Malik, yang mendirikan Lesbumi bersama Asrul, turut membantunya agar film itu tetap diizinkan untuk diputar di bioskop.
Film monumental ini diadaptasi dari novel karya Trisnoyuwono dan berkisah tentang para pejuang Indonesia yang ditawan di dalam kamp tahanan Belanda. Fokus cerita tertuju pada Parman (diperankan oleh Sukarno M. Noor), yang sengaja memilih strategi untuk berkawan karib dan mendekati perwira Belanda, kepala kamp bernama Koenen.
Tindakan Parman ini membuatnya dicap sebagai pengkhianat dan penjilat oleh sesama tawanan. Padahal, keakraban tersebut hanyalah taktik untuk mengumpulkan informasi rahasia dan mencuri pistol demi mendalangi pelarian teman-temannya (Herman dan Toto) menembus pagar kawat berduri kamp. Pada akhirnya, rencana pelarian tersebut berhasil dijalankan meski harus dibayar mahal.
Akibat tekanan hebat dari PKI, film ini sempat ditarik dan hanya tayang selama tiga hari di bioskop. Kasus ini akhirnya sampai ke telinga Soekarno yang meminta film tersebut diputar langsung di Istana untuk ia tonton dan nilai sendiri.
Setelah menontonnya, Bung Karno menyatakan bahwa film tersebut tidak bersalah, tidak bermasalah secara ideologi, dan menginstruksikan agar film tersebut diselamatkan dari pelarangan total.
Meskipun secara resmi telah “diselamatkan” oleh Presiden Sukarno, tensi politik yang sangat panas dan boikot massal di lapangan membuat ‘Pagar Kawat Berduri’ tetap tidak bisa beredar atau diputar secara bebas di bioskop-bioskop Indonesia saat itu.
Film ini sempat hilang dari peredaran umum selama puluhan tahun hingga akhirnya berhasil direstorasi oleh pemerintah dan diputar kembali dalam pemutaran terbatas pada akhir tahun 2018.
“Padahal Asrul Sani punya rasa antikolonialisme yang tinggi, dia lahir di Minangkabau pada 1920-an dan sikap ini terlihat dalam ‘Pagar Kawat Berduri’ dan ‘Para Perintis Kemerdekaan’ (1977)”, kata Eric.
‘Para Perintis Kemerdekaan’ merupakan adaptasi dari novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” yang ditulis Buya Hamka. Saat itu menjelang Pemilu 1982 dan Asrul melakukan adaptasi longgar dalam judul karena ka’bah diasosiasikan dengan lambang PPP, partai yang menjadi oposisi pemerintah Orba saat itu.
Sebagai sosok yang lebih banyak mengamati perubahan zaman dan dampaknya pada masyarakat, Asrul Sani, menurut Eric, memiliki kemampuan bercerita yang alamiah. Semua karya Asrul Sani adalah perpanjangan dari karya puisi-puisinya. Foto:
Dok. MIFF
#sastraindonesia
#madaniinternationalfilmfestival2026
#100tahunasrulsani
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesiaID
#kulturalindonesia

