Saat Buku-Buku Kaum Intelektual Tak Lagi ‘Terkurung’ di Ruang Pribadi
Memiliki perpustakaan pribadi adalah hal yang lazim bagi para cendekia. Tapi menjadikannya sebagai ruang publik itu jauh lebih mulia. Tren ini merebak di Jakarta, di tengah-tengah gencarnya budaya digital. Paduan konsep perpustakaan, toko buku, cafe, hingga lapangan padel di satu tempat, menjadi oase baru bagi kutu buku urban.
AKC Library & Cafe resmi dibuka pada 8 Agustus 2026. Tempat literasi dan ruang diskusi yang diinisiasi oleh diplomat senior Dino Patti Djalal ini berlokasi di Kemang Utara, Jakarta Selatan. Rumah ini dulunya adalah kediaman pribadi keluarga Profesor Hasyim Djalal namun lama terbengkalai dan akhirnya direnovasi sebagai perpustakaan dan cafe.
AKC adalah singkatan dari ketiga nama anak Dino dan Rosa Djalal, yaitu Alexa, Keanu, dan Chloe. Tempat ini memadukan konsep olahraga, ngopi dan makan siang, sambil membaca buku-buku koleksi keluarga Djalal. Fasilitas lain adalah kolam renang dan lapangan padel di halaman belakang, ruang untuk bermain biliar, ruang baca dan bekerja, serta cafe yang turut menyediakan masakan khas minang dari koleksi resep Zurni Djajal, ibunda Dino.
Sebelum masuk ke ruang tengah ada foto Hasyim Djalal —ayah Dino, berukuran besar berwarna hitam putih. Ia seorang diplomat ulung sekaligus ahli hukum laut yang berperan dalam penyusunan Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS pada 1982, dan berjasa memperjuangkan gagasan negara kepulauan serta wawasan nusantara, sebagaimana diamanatkan Deklarasi Djuanda 1957. Sayang, foto yang bagus itu tertutup bangku dan meja.
“Kalau cafe sedang ramai foto Pak Hasyim terpaksa dihalang kursi-kursi dan meja, tapi nanti saya geser,” kata Rosa Djalal, saat saya tanyakan ihwal posisi foto tersebut. Siang itu Rosa sedang berada di perpustakaan bersama sejumlah tamu.
Pendirian AKC Library & Cafe bertepatan dengan tren kembali ke buku yang belakangan marak di kalangan muda, terutama Gen Z. Namun tempatnya tentu harus dibuat senyaman mungkin supaya mereka betah.
“Dulu saat masih bertugas sebagai diplomat, Dino dan saya senang ke tempat-tempat terbuka, halaman berumput yang luas untuk piknik sambil duduk-duduk membaca buku. Saya suka aroma buku yang baru dibuka bungkusnya,” kenang Rosa.
Ide ini yang kemudian mereka gunakan sebagai konsep awal, yakni sebuah ruang baca outdoor. Belakangan ide itu batal dieksekusi dan halaman belakang kini ‘disulap’ menjadi lapangan padel dan kolam renang. Tren membaca di masyarakat menjadi motivasi utama untuk tetap membuka perpustakaan publik.
“Saya senang sekali dengan kembalinya tren membaca buku. Dulu kan ada istilah kutu buku ya, tapi saya lihat anak-anak muda lebih suka media sosial, platform digital, dan sebagainya, belum lagi harga buku cetak yang mahal dibandingkan dengan platform media sosial. Alhamdulillah sekarang sudah mulai ada tren anak-anak muda suka membaca buku dan merasakan pengalaman unik untuk fokus membaca dan menyelesaikan buku yang sedang dibaca,” ungkap Dino.
Koleksi AKC Library saat ini sekitar 300-400 buku, sebagian besar adalah buku-buku mengenai diplomasi dan kebijakan luar negeri RI, mulai dari politik ASEAN, multilateralisme, geopolitik, sejarah, ekonomi bisnis, hingga perubahan iklim. Beberapa koleksi lain adalah buku-buku biografi atau yang ditulis para kepala negara, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Nelson Mandela, Barack Obama, dan lain-lain. Seluruh buku hanya boleh dibaca di tempat, tidak untuk dipinjamkan.
“Sebagian besar buku masih koleksi saya dan kebanyakan mengenai diplomasi karena itu adalah medan saya. Targetnya kelak (jumlah koleksi) sekitar 2000 buku, dan saya aktif sekali menodong tokoh-tokoh nasional, politisi, duta besar untuk ikut menyumbang buku, minimal dua buku maksimal terserah berapa. Bukunya harus non-fiksi dan bermanfaat untuk dibaca oleh publik terutama anak-anak muda,” jelas Dino.
Stania Puspawardani, warga Jakarta, melihat fenomena ini lebih dari sekadar tren melainkan keinginan untuk berbagi. Menurutnya, buku-buku bagus tak mungkin dibuang oleh pemiliknya, jadi kebanyakan disumbangkan atau membuka perpustakaan pribadi bagi masyarakat.
“Ini tren yang sangat menyenangkan karena sekaligus menjadi tempat ‘me-time’ dan ‘working space’. Saya punya teman yang juga sering mencari kafe-kafe buku di seputaran Jakarta, sungguh menyenangkan,” kata Stania, yang sedang menyelesaikan studi Doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurutnya, keberadaan perpustaan pribadi untuk publik dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesenangan. Selain itu, mendirikan perpustakaan pribadi untuk publik juga dapat mendorong kaum muda untuk senang membaca karena aksesnya mudah dengan jam buka tutup yang fleksibel bagi warga Jakarta yang sibuk. AKC Library dibuka pukul 09:00 – 22:00 WIB.
“Tujuan saya mendirikan AKC Library memang untuk menjadikannya sebagai tempat khusus bagi orang yang ingin belajar, menulis, bekerja, berdiskusi, dan sebagainya. Targetnya adalah orang-orang yang suka berpikir dari kalangan manapun,” ujar Dino.
Ia berharap perpustakaan yang dirintisnya ini dapat bertahan hingga puluhan tahun di Kemang dan di kota-kota besar lain, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Palembang, dan Makassar.
“Membaca buku itu membawa kenikmatan tersendiri apalagi kalau membacanya dari halaman pertama sampai terakhir dalam beberapa jam, dan begitu selesai puasnya luar biasa,” pungkas Dino.
Perpustakaan dan Toko Buku, Tempat ‘Me-Time’ Kaum Urban
Di kawasan Menteng yang teduh, ada perpustakaan merangkap toko buku dan kedai kopi yang baru dibuka pada tanggal 2 Agustus 2026. Kafe buku Smiljan Pelopor menempati bangunan kolonial Belanda yang merupakan bekas rumah kediaman almarhum Des Alwi, seorang tokoh sejarah, diplomat, sekaligus anak angkat dari salah satu Proklamator Indonesia, Mohammad Hatta.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bangunan dan pemilik terdahulunya, tempat ini mempertahankan beberapa elemen penting, yakni patung sang proklamator di dekat pintu perpustakaan. Pengunjung akan disambut oleh patung Bung Hatta berwarna teal di area depan pintu masuk, yang melambangkan hubungan erat keluarga Des Alwi dengan Sang Proklamator.
Jaringan Smiljan Space tetap mempertahankan struktur asli bangunan kolonial yang terkesan megah namun teduh, hingga memberikan atmosfer yang sering digambarkan pengunjung seperti “sedang bertamu ke rumah orang kaya lama” alias old money.
Soal koleksi tidak main-main, jumlahnya sekitar 3000 buku, belum termasuk jurnal, surat kabar, dan koleksi majalah lama yang langka, seperti Siasat, Pantja Raja, dan edisi-edisi awal majalah Tempo, serta koran Star Weekly. Sementara koleksi buku dari Pelopor Books berfokus pada buku-buku non-fiksi, mulai dari sejarah pergerakan nasional hingga internasional, ditambah lagi karya sastra Indonesia pra-kemerdekaan hingga modern.
Foto-foto Soedarpo Sastrosatomo, tokoh bisnis pelayaran pendiri PT Samudera Indonesia Tbk., cukup mendominasi karena ia adalah kakek dari Bani Maulana Mulia, pemilik Pelopor Books. Di samping ruang perpustakaan, terdapat toko buku yang turut menjual karya-karya fiksi disertai kedai kopi yang menyediakan menu Indonesia dan Barat. Di area belakang ada mushola dan ruang black box untuk meeting atau diskusi terbatas.
“Memang tidak semua buku koleksi keluarga Pak Bani karena selebihnya ada tim kurasi yang dibentuk oleh beliau yang mengajak Tomi Wibisono dari Buku Akik dan Rahmat Indrani dari Smiljan. Mereka mengkurasi buku-buku yang diperjualbelikan hingga arsip-arsip yang tersedia di perpustakaan,” jelas Rae, salah seorang pustakawan Smiljan Pelopor.
Tomi Wibisono adalah seorang pegiat literasi, pengarsip kultur pop, dan wirausahawan budaya asal Yogyakarta. Di dunia literasi dan independen Indonesia, sosoknya dikenal luas sebagai penggerak ekosistem toko buku alternatif dan sosok utama di balik lahirnya Buku Akik pada tahun 2015, di Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.
Buku Akik berkembang dari sebuah toko buku independen kecil menjadi episentrum budaya pop dan literasi yang sangat populer di kalangan anak muda. Toko ini terkenal karena kurasi bukunya yang unik, ruang baca yang hangat (homey), serta pernak-pernik (merchandise) kreatif seperti tote bag ikonik yang merayakan tradisi membaca.
Melalui keberhasilan Buku Akik, Tomi berkolaborasi dengan arsitek Rahmat “Kibo” Indrani dan Bani Mulia untuk mendirikan Pelopor Books. Di tempat ini, Tomi berperan penting dalam mengurasi koleksi literatur yang berfokus pada sejarah pergerakan Indonesia, sastra klasik, non-fiksi, dan pemikiran kebangsaan.
“Smiljan Pelopor memang resmi dibuka pada 2 Agustus lalu, tetapi sebulan sebelumnya sudah soft launching. Pembukaannya bersamaan dengan peluncuran buku Soedjatmoko yang diselenggarakan bersama Komunitas Bambu,” ujar Rae.
Menurutnya, Smiljan Pelopor tak hanya ditujukan semata-mata untuk kaum muda urban, meskipun lebih 50% pengunjung rata-rata mahasiswa atau para periset. Smiljan Pelopor sebetulnya punya misi sebagai pojok literasi untuk keluarga dari semua kalangan.
“Penggemar buku di sini juga bermacam-macam. Buku-buku yang banyak dicari itu karya-karya Tan Malaka, tentang Palestina, dan peristiwa 1965. Kalau sedang beruntung di sini juga bisa ngobrol dengan penulis,” lanjut Rae.
Boleh jadi Gen Z tertarik sejarah Tan Malaka lantaran dia sosok misterius yang tak kunjung lengkap kisahnya dalam sejarah Indonesia. Selain Tan, pembaca muda masih kerap berburu buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer dan Intan Paramadita.
Berburu Kisah-Kisah Sejarah dalam Ketenangan
Dari semula sekadar mampir dan melihat-lihat buku, aktivitas ini sering berlanjut dengan kunjungan kedua. Anak-anak muda membaca buku-buku serius di lokasi yang ‘hidden gem’ dan ‘instragammable’ lalu posting foto-foto mereka di media sosial.
Alia (27) seorang karyawan marketing bahkan sengaja cuti satu hari karena penasaran dengan perpustakaan ini. Dia tak hanya mencari tempat ngopi yang enak, tapi juga menemukan buku-buku yang tak ada di toko buku sekaligus membacanya dengan tenang.
“Ini kunjungan saya yang pertama dan sengaja cuti karena mau khusus membaca di sini. Saya baca buku ‘self development’ (pengembangan diri) dan sangat menikmati suasananya. Nanti saya juga mau baca Madilog (buku karya Tan Malaka). Saya happy lihat buku-buku di rak,” kata Alia.
Meskipun Jakarta memiliki Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perpustakaan pribadi untuk publik dapat menjadi rujukan tambahan atau sekadar tempat yang aman dan nyaman untuk komunitas membaca.
“Perpustakaan Smiljan Pelopor ini menjadi favorit saya karena akses transportasi mudah dan pustakawannya ramah-ramah. Buku-buku tentang sejarah dan arsip tentunya sering dicari untuk referensi karena mahal dan tidak banyak orang menyimpan buku dengan topik tersebut,” ungkap Stania.
Smiljan Pelopor Menteng beroperasi Senin-Minggu mulai pukul 07:00 – 22:00 WIB. Ada beberapa aturan bagi pengunjung. Saat memasuki area indoor atau ruang baca utama, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal khusus yang telah disediakan. Tempat ini memiliki lahan parkir yang sangat terbatas sehingga pengunjung sangat disarankan untuk menggunakan transportasi umum. Lokasi di Jalan Muhammad Yamin hanya berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun KRL Cikini.
Nah, silakan seruput kopi di Smiljan Pelopor sambil membaca buku-buku berisi pemikiran Soedjatmiko atau Sjahrir, seraya membayangkan anda seorang ‘old money’ yang sedang menikmati senja di pusat Jakarta, hmm..
Foto: Wella Madjid | Kultural Indonesia
#sastraindonesia
#perpustakaanpribadi
#smiljanpelopor
#akclibrary&café
#IndonesiaBerbudaya
#BudayaBaca
#kulturalindonesia

