Residensi Rimbaud, Babak Baru Kerja Sama Sastra Indonesia-Prancis
Seratus lima puluh tahun setelah penyair Prancis, Arthur Rimbaud, tiba di Semarang, jejaknya terus menginspirasi hubungan budaya Prancis dan Indonesia. Awalnya ia datang ke Indonesia sebagai tentara KNIL, kini namanya diabadikan dalam program residensi bagi penulis Prancis dan Indonesia terpilih.
“Residensi Rimbaud” merupakan program sastra bilateral resiprokal pertama antara Prancis dan Indonesia, untuk meningkatkan pemahaman budaya sekaligus mendorong lahirnya karya-karya baru. Program ini adalah salah satu proyek turunan ‘Deklarasi Borobudur’ yang disepakati Presiden Emmanuel Macron dan Prabowo Subianto di Candi Borobudur pada 29 Mei 2025.
“Dalam deklarasi tersebut mereka menekankan komitmen untuk memajukan kerja sama di berbagai bidang kebudayaan termasuk penerbitan buku dan kesusastraan. Bantuan yang kami berikan juga mencakup penerjemahan karya-karya penulis Indonesia ke dalam bahasa Prancis,” jelas Penone dalam peluncuran “Residensi Rimbaud” di Jakarta, Jumat (10/9). Ia didampingi residen pertama program ini, Louis-Philippe Dalembert, dan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.
Semarang dipilih sebagai kota tuan rumah pertama karena keterkaitannya langsung dengan perjalanan Rimbaud ke sejumlah daerah di Jawa Tengah pada tahun 1876.
“Kami banyak memiliki dokumentasi perjalanan Rimbaud ke Timur Tengah dan Afrika, tapi ke Indonesia justru tidak banyak dipublikasikan, itulah alasan utama dari program ini,” ujar Penone.
Sebelumnya Kedutaan Besar Prancis, Pusat Kebudayaan Prancis (IF) dan Pemerintah Kota Semarang telah menggelar pameran Arthur Rimbaud: A Journey through Java di Semarang, Jawa Tengah, pada 6-9 Agustus 2026. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menilai program pertukaran budaya semacam ini sangat bermanfaat bagi pengembangan literasi di daerahnya.
“IFI menggelar pameran Arthur Rimbaud di Lawang Sewu selama tiga hari dan pengunjungnya mencapai 450 orang. Acara ini membuka kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan sastra dan budaya tapi saya kira dampaknya akan lebih dari itu,” ujar Agustina kepada media di Jakarta.
Napak Tilas Perjalanan Arthur Rimbaud Bersama Louise-Phillippe Dalembert.
Arthur Rimbaud (1854–1891) adalah salah satu tokoh terbesar dalam sastra Prancis dan pelopor puisi modern. Pada Juli 1876, Arthur Rimbaud tiba di Semarang setelah mendaftar di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) karena alasan keuangan. Ia melakukan perjalanan dengan kereta api melalui Kedungjati dan Tuntang sebelum tiba di Salatiga, tempat ia membelot dari tentara hanya beberapa hari setelah menerima gaji. Namanya menghilang dari catatan militer Prancis.
Meski demikian, pengaruh Rimbaud terhadap kesusastraan dunia sangat besar, bahkan Chairil Anwar sering disebut sebagai “Arthur Rimbaud dari Indonesia.” Baris-baris puisinya juga digandrungi penyanyi Amerika seperti Bob Dylan, Jim Morrison, dan Patti Smith, serta seniman visual Jean-Michel Basquiat dan penulis manga era masa kini seperti Kafka Asagiri dan Sango Harukawa.
Louis-Philippe Dalembert terpilih sebagai penulis Prancis pertama dalam program “Residensi Rimbaud”. Novelis dan penyair kelahiran Haiti ini bakal meneruskan karya sastranya di Lawang Sewu, sepanjang September hingga November 2026. Tahun depan, giliran penulis Indonesia yang akan mengikuti residensi serupa di salah satu kota di Prancis.
Selain menulis, Dalembert juga akan berinteraksi dengan para penulis, mahasiswa, peneliti, dan pembaca Indonesia melalui pertemuan publik, lokakarya, dan diskusi.
“DNA-nya Prancis itu salah satunya adalah kesusastraan dan jika dibandingkan dengan puisi, maka menulis novel akan lebih memakan waktu,” ungkap penulis yang bermukim di Paris itu.
Karya-karyanya berfokus pada kenangan, perjalanan, pengasingan, identitas, migrasi, dan perpaduan budaya. Novel-novelnya antara lain Avant que les ombres s’effacent (Sebelum Bayangan Memudar) yang memenangkan penghargaan Prix Orange du Livre 2017; Mur Méditerranée (Tembok Mediterania), penerima Prix de la Langue française 2019 yang meraih Choix Goncourt di Swiss dan Polandia; serta Milwaukee Blues, finalis Prix Goncourt 2021.
Saya sempat menanyakan isu-isu terkini dalam dunia sastra, seperti kehadiran AI dan gempuran digitalisasi. Ia tak menampik kedua hal tersebut bisa ‘menguburkan’ karya asli para penulis. Tapi apakah ia khawatir?
“Sebagai pengarang kreatif saya meyakini bahwa mesin dapat menghasilkan tulisan, tapi mesin tidak dapat memproduksi sastra kemanusiaan,” ujar Dalembert. Alih-alih berjarak, penulis berusia 63 tahun ini justru memilih untuk merangkul dan beradaptasi dengan AI.
“Saya bagian dari generasi lama yang masih menulis di buku catatan. Sekarang kita telah memiliki teknologi AI maka saya harus beradaptasi. Saya tidak takut atau khawatir dengan keberadaan AI, tapi sekarang bagaimana caranya kita bisa mengintegrasikan itu semua dalam kesusastraan. Saya percaya ‘human being’ adalah unsur terpenting dalam budaya dan kepekaan kita lah yang dapat memasukkan ide-ide kemanusiaan itu ke dalam karya sastra,” ungkap Dalembert kepada Kultural Indonesia.
Perjalanan Arthur Rimbaud melintasi Jawa Tengah kini telah menjadi warisan sastra bersama. Kisahnya dimuat dalam buku Indonesia, Cahaya yang Mempesona – 150 Tahun Hubungan Prancis-Indonesia, sebuah publikasi peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Prancis dan Indonesia pada tahun 2025, ditulis oleh Alexis Salatko.
Foto: Dok. IFI Jakarta
#sastraindonesia
#pameranarthurrimbaudajourneythroughjava
#residensirimbaud
#ifi
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesia
#kulturalindonesiaID

