Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Koma Sejenak, Mengajak untuk Jeda dari Kehidupan Sehari-Hari Menikmati Seni Pertunjukkan Ala Teater Koma

Koma Sejenak, Mengajak untuk Jeda dari Kehidupan Sehari-Hari Menikmati Seni Pertunjukkan Ala Teater Koma

Teater Koma dengan bangga menghadirkan program pertunjukkan terbarunya bertajuk ‘Koma Sejenak’. Dengan menyebut pementasan pertamanya ini dengan Volumer 1, Teater Koma menampilkan dua lakon berdurasi satu jam karya almarhum N. Riantiarno, yakni ‘Kebohongan Di Atas Atap’ dan ‘Srikandi’, yang masing-masing digarap oleh dua sutradara berbeda.

Pementasan yang dilakukan di Gedung Kesenian Jakarta pun hanya dilakukan tiga kali, yaitu Kamis 22 Oktober 2026 dengan pementasan pukul 19.30 dan Jumat 23 Oktober sebanyak dua kali pementasan, pukul 14.30 dan 19.30

‘Koma Sejenak’ dapat diartikan sebagai sebuah jeda, sementara memasuki sebuah ruang reflektif sekaligus eksperimental. Ide cerita diawali dari naskah-naskah pendek garapan almarhum N. Riantiarno saat pandemi, yang kemudian dipilih dan dipanggungkan dengan perspektif penyutradaraan baru yang beragam.

Ranga Riantiarno mewakili Teater Koma menjelaskan bahwa naskah-naskah tersebut disusun untuk keperluan pentas di sanggar yang kemudian ditayangkan di saluran Youtube. “ Makanya yang konsep awalnya untuk tayang daring dan berdurasi 1 jam, namun kini dipanggungkan, “ ujar Rangga.

Lakon ‘Kebohongan Di Atas Atap’ bercerita tentang Gamal Nashar, seorang budayawan sekaligus pengusaha kaya yang terbaring lemah di rumah sakit. Di tengah kondisi kritisnya, Gamal mendapati dirinya berada di atas atap bersama seorang gadis kecil. Setiap kali Gamal berbohong, hidungnya memanjang layaknya kisah Pinokio. Di atap tersebut, Gamal dipaksa berhadapan dengan cermin kejujuran terhadap segala manipulasinya.

“Lakon ‘Kebohongan Di Atas Atap’ bercerita tentang betapa sulitnya manusia jujur pada dirinya sendiri di tengah tumpukan kebohongan yang ia bangun sepanjang hidup. Pertumbuhan hidung Pinokio di sini bukan sekadar metafora jenaka, melainkan simbol visual atas beban kebohongan yang menggerogoti jiwa, ” ujar Bayu Dharmawan Saleh, sang sutradara.

Untuk lakon ‘Srikandi’, mengangkat cerita dengan latar kisah pewayangan. Dikisahkan Dewi Srikandi bersama Semar dan anak-anaknya (Gareng, Petruk, Bagong) saat bertarung melawan musuh-musuh tak kasat mata di hutan belantara menjelang Perang Baratayudha. Lakon ini menegaskan pentingnya akal budi dan hati nurani dalam menghadapi musuh tak berwujud yang terus mengintai kehidupan manusia.

“Dalam ‘Srikandi’, musuh tak nampak yang dilawan Srikandi dan Semar adalah representasi dari hoaks, propaganda, dan kebohongan publik yang terus berulang sepanjang sejarah. Lewat pementasan ini, kami mengemas pertarungan jiwa dan multimedia untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan kepalsuan adalah pertempuran abadi yang harus dijalani dengan kesadaran penuh, “ kata sutradara lakon ini, Nino Bukir.

Pementasan pun mengalir dengan ala Teater Koma, menyajikan cerita yang merupakan metafora dari apa yang menjadi realita sehari-hari di masyarakat namun dengan sajian ringan dan jenaka tetapi tetap bermakna cukup dalam. Dengan dialog Kocak serta tata panggung yang penuh warna serta iringan musik namun tidak berlebihan, sesuai dengan latar belakang cerita.

Rangga kemudian menjelaskan harapannya dengan pementasan kali ini, secara internal ini menjadi sebuah ajang untuk para anggota muda Teater Koma untuk menggali potensi dan visi mereka , “ Maka kami sengaja mengenalkan pemain dan sutradara yang lebih muda yang rata-rata berusia di bawah 50 tahun, termasuk yang dibelakang panggung.”

Hal ini menjadi sebuah isyarat Teater Koma mengenalkan kembali dirinya kepada generasi penonton yang lebih muda, dengan menghadirkan pentas yang lebih ringan, dengan durasi yang tidak panjang serta diproduksi dan dimainkan oleh orang-orang muda juga. Namun tetap dengan ciri khas Teater Koma yang menyajikan cermin kehidupan realitas sosial dan relevan dengan apa yang terjadi di masyarakat saat ini.

Foto: Dok. TK
#seniteaterindonesia
#teaterkoma
#kebohongandiatasatap
#srikandi
#gedungkesenianjakarta
#IndonesiaBerbudaya
#kulturalindonesiaID
#kulturalindonesia

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.