Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

JOSH MARCY Konsisten dan Terbuka

JOSH MARCY Konsisten dan Terbuka

“Menjadi penari sudah seperti nadi. Menari dan berkoreografi sudah tidak perlu dipisahkan. Seorang penari entah disadari atau tidak selalu berkoreografi dalam kesehariannya, demikian laku koreografer adalah penari di inti jiwanya”, demikian ungkapan Josh Marcy, Penari dan Koreografer Indonesia, pada Tim Kultural.

K: Bisa ceritakan latar belakang dan awal perjalanan karir Anda di dunia seni pertunjukan, sebagai penari dan koreografer?

JM: Saya merasa tari selalu ada dalam kehidupan saya sejak kecil. Tumbuh di keluarga Indonesia timur, membuat saya tidak asing dengan musik dan tari. Dalam banyak acara, kedua hal ini selalu saja hadir di tengah keluarga besar. Awalnya tidak pernah terbesit untuk menganggap seni pertunjukan sebagai minat saya saat itu, sampai ketika saya mengikuti satu kegiatan mahasiswa di Fakultas Hukum, Universitas Surabaya. Saat bekuliah di Surabaya, saya justru semakin mengembangkan minat yang luar biasa besar kepada seni tari. Sampai di suatu titik saya merasa ini menjadi hal yang ingin saya tekuni lebih serius, dan kemudian memutuskan untuk ke Jakarta selepas saya lulus.

Keputusan pergi ke Jakarta saat itu bisa dikatakan bermodal nekat dan pemikiran naif saja. Saya belum mengenal medan seni pertunjukan, alih-alih membayangkan hidup di ibukota. Namun, saya terus mencoba menjajaki hal baru ini dengan perlahan mencari berbagai peluang untuk mengembangkan diri, baik personal dan pengembangan visi artistik. Di saat-saat tersebut, saya banyak menghabiskan waktu untuk melatih kemampuan kepenarian. Saya bekerja sebagai pengajar tari di beberapa studio, sekaligus menjadi penari lepasan untuk berbagai acara.

Tahun 2015 saya rasa menjadi titik balik dalam berkesenian. Saat itu saya ‘ditantang’ untuk membuat karya tari dan ditampilkan di platform IMOVE, suatu program yang dimaksudkan untuk mengakomodir kebutuhan panggung para koreografer muda. Dari sini, kemudian muncul hal baru lain di diri saya yang ingin bisa terus membuat karya secara lebih konsisten. Di waktu-waktu berikutnya, dorongan itu tidak banyak berubah. Saya masih terus mencoba untuk mengikuti insting saya untuk sebisa mungkin produktif mengembangkan diri. Namun, kali ini dengan keyakinan diri yang sudah lebih matang dan keberanian untuk mengatakan bahwa saya adalah seniman.

K: Anda melihat diri anda pertama sebagai penari atau koreografer?

JM: Sejak awal saya selalu melihat diri saya pertama kali adalah sebagai penari. Walaupun hal yang banyak saya lakukan belakangan adalah berlaku sebagai koreografer, namun menjadi penari sudah seperti nadi. Saya berpendapat bahwa keduanya tidak lagi perlu dipisahkan, mungkin sebagai peranan dalam situasi teknis produksi bisa saja dijelaskan, namun secara umum bagi saya keduanya lebur saja. Seorang penari entah disadari atau tidak selalu berkoreografi dalam kesehariannya, demikian laku koreografer adalah penari di inti jiwanya.

Saya tidak bisa membayangkan apabila saya menjadi koreografer tanpa saya
pernah menari sebelumnya. Tentu akan sulit bagi saya mengarahkan penari-penari dalam proses kreatif apabila saya sendiri tidak pernah menari. Saya sering mendengar perkataan bahwa “koreografer yang baik adalah penari yang baik”, saya setuju dengan ujaran ini. Keduanya secara praktis adalah wujud craftsmanship yang perlu diasah dengan pendekatan berbeda, namun saya percaya ini bergerak di arus yang sama. Bagi saya pribadi, hulu nya adalah menjadi penari yang baik.

Sumber foto: Kol. Pribadi JM
Sumber foto: Kol. Pribadi JM

K: Apa yang paling anda sukai dalam pekerjaan ini dan apa tantangan terbesar yang dihadapi sebagai koreografer?

JM: Mengutip Anna Teresa De Keersmaeker “Dance can embodied abstract ideas”, perkataan ini saya pahami secara sederhana saja. Maksudnya, kebutuhan saya mengekspresikan sesuatu rasanya lebih tersalurkan lewat tari. Seringkali bahkan saya tidak bisa seketika memformulasikan apa yang ingin saya ekspresikan, hal tersebut hadir berserakan begitu saja dalam fragmen-fragmen di pikiran saya. Tari justru memberikan saya privilege untuk bisa merangkainya ke dalam karya yang saya kerjakan.

Mungkin hal ini juga yang menjadi salah satu tantangan besar saya sebagai koreografer. Saya perlu untuk selalu bersikap terbuka di dalam prosesnya, yang seringkali mungkin menantang idealisme yang sudah terbentuk begitu saja. Tantangan lain yang saya anggap besar dan penting adalah bagaimana cara saya untuk dapat terus memformulasikan pertanyaan-pertanyaan, dan mengkritisi diri saya sendiri. Saya selalu berusaha untuk mencari pertanyaan baru daripada sekedar mencari jawaban. Hal ini juga yang membuat proses kreatif saya terbentang cukup panjang dan menuntut konsistensi pun juga keterbukaan di saat yang bersamaan.

K: Menurut anda apakah siapa saja bisa menjadi penari? Kualitas seperti apa yang anda cari dalam seorang penari?

JM: Oh, ya tentu! Siapa saja bisa menjadi penari, atau setidaknya menari. Apalagi di era media sosial saat ini juga sudah memperlihatkan kalau siapa saja bisa mempertunjukan tariannya lewat berbagai konten di Instagram, Tiktok, Youtube. Namun, pertanyaannya kemudian adalah “ingin menjadi penari yang bagaimanakah?” Berkeinginan menjadi penari profesional tentu membutuhkan kedisiplinan dalam mencari dan membentuk kualitas secara spesifik. Hal-hal yang bagi saya berbeda dengan laku membuat konten di media sosial. Tapi setidaknya kalau berbicara peminatan, tentu itu bisa dimulai dari mana saja.

Bagi saya, teknik menari bisa dikejar namun harus dimulai dari dorongan kuat pada diri sendiri terlebih dahulu – passion, katakanlah begitu. Ini menjadi kualitas awal yang saya cari pada seorang penari. Dari pengalaman saya, penari yang memiliki dorongan passion yang kuat seringkali memberikan penawaran-penawaran yang menarik dalam proses kreatif kami. Saya tidak begitu tertarik dengan penari yang merasa cukup dengan manut saja. Penari yang baik bagi saya adalah penari yang terbuka untuk memberikan dirinya ke dalam proses kreatif, serta mampu mengutarakan pemikirannya sendiri. Hal-hal ini yang menjadikan proses kami semakin menarik dan tidak satu arah saja.

K: Sejak Anda terjun ke dunia seni tari, adakah kemajuan yang signifikan dalam dunia tari Indonesia?

JM: Menurut saya pribadi, belum ada kemajuan yang signifikan ya kalau saya berkaca di rentang 10 tahun belakangan ini. Hal ini tentu merupakan pekerjaan besar yang melibatkan seluruh cabang ekosistem seni pertunjukan – untuk mencapai kemajuan yang signifikan. Tapi, saya juga mengamati setidaknya di tahun-tahun belakangan pemerintah mulai turun tangan untuk mengakomodir kebutuhan seniman berkarya. Sekarang juga sudah lumayan banyak program-program tari, seperti loka karya, pendampingan dan pengembangan praktik artistik, dan lain-lain. Hal ini bisa jadi pertanda baik sebagai usaha untuk memajukan. Untuk menjadi sesuatu yang signifikan pun tentu akan butuh proses lagi.

K: Siapa role model anda? Apakah ada penari Indonesia/internasional yang punya pengaruh besar terhadap karya-karya anda?

JM: Ada cukup banyak role model sepanjang saya berkesenian sampai saat ini. Tapi saya tidak menganggap pengaruhnya hanya sebatas pada karya-karya saya saja, namun lebih dari itu saya melihat bagaimana laku hidup berkesenian mereka menginspirasi saya. Dua tokoh besar tari di Indonesia, Farida Oetoyo dan Sardono W. Kusumo adalah dua dari banyak seniman Indonesia yang menginspirasi saya. Sejujurnya saya tidak memiliki banyak kesempatan melihat karya-karya mereka secara langsung, namun lewat berbagai kesempatan membaca tulisannya, bertemu, dan berbicara, pun sudah memantik kesan yang mendalam bagi saya.

Di lima tahun belakangan, saya intens bekerja dengan koreografer Jerman, Isabelle Schad. Saya merasakan pengaruhnya cukup besar dalam pengembangan praktik artistik saya saat ini. Mungkin secara tidak langsung, saya menangkap bagaimana pendekatan Schad dalam melihat tubuh dan praktik koreografi itu sendiri. Yang menarik kemudian adalah bagaimana hal tersebut tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam praktik artistik saya.

K: Apa rencana dan mimpi-mimpi Anda, bayangan Anda 10 tahun ke depan?

JM: Saat ini saya sedang menjalankan grup tari profesional (Dansity) yang didirikan bersama dua rekan saya yang lain, Yola Yulfianti dan Siko Setyanto. Saya berharap melalui Dansity, dapat mendorong konsistensi saya dan rekan-rekan untuk terus menjalankan proses kreatif kami, dan dapat menawarkan karya-karya baru ke depannya. Saya membayangkan di 10 tahun ke depan, kami dapat mendorong Dansity ke dalam peta seni pertunjukan yang lebih besar lagi melalui karya-karya kami. Dan semoga melalui konsistensi kerja berkesenian ini pun nantinya dapat memiliki gaung kepada pelaku tari lain, seperti banyak sosok yang sudah menginspirasi saya saat ini.

K: Anda senang membaca, buku apa yang sedang dibaca saat ini?

JM: Iya, saya senang membaca. Buku yang sedang saya baca saat ini adalah Sembahyang Bhuvana yang ditulis oleh Saras Dewi dan The Picture of Dorian Gray oleh Oscar Wilde.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.