Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Merayakan Kesedihan

Merayakan Kesedihan

Bencana alam sering kali datang begitu saja tanpa peringatan terlebih dulu. Bencana
alam di dalam kehidupan manusia adalah sebuah tragedi. Ia bisa menyebabkan
kerusakan harta benda dan merenggut nyawa manusia. Dalam novel ini bencana
alam meninggalkan banyak luka bagi Purnomo, seorang ayah dari tujuh anak. Saat
bencana tsunami melanda daerah tempat tinggalnya, ia tak hanya kehilangan harta
benda tapi juga kehilangan empat orang anaknya. Ia merasa gagal menjadi seorang
ayah karena tidak bisa melindungi anak-anaknya. Khalid dan Dewangga adalah dua
orang anak Purnomo yang bertahan hidup. Tiga anak Purnomo lainnya, Nadi, Esa,
Dipa, dan Windu meninggal dan jasad mereka telah dikuburkan. Sedangkan satu
anaknya yang bernama Apta masih hilang. Purnomo tak tahu apakah Apta bertahan
hidup atau sudah pergi selamanya seperti keempat anak lainnya. Hari-hari setelah
tsunami melanda, hari-hari mereka terasa begitu berat bagi mereka yang bertahan
hidup. Ada banyak kegelisahan, ketakutan, bahkan penyesalan yang terungkap dari
masing-masing tokoh yang bertahan.

Merayakan Kesedihan bagaikan sebuah monolog tentang apa yang dilalui oleh tiga
tokoh utama yaitu Purnomo, Khalid, dan Dewangga. Novel ini memberikan lembaranlembaran bagi ketiga tokoh untuk bertutur tentang isi hati mereka pasca bencana.
Lembaran Purnomo berkisah tentang bagaimana penyesalan mendalamnya karena
merasa tak mampu melindungi anak-anaknya. Selain itu, hubungannya dengan
Dewangga yang sama-sama bertahan hidup tetap dingin. Kehilangan ternyata
membuat hubungan mereka semakin renggang. Di sisi lain Purnomo berusaha keras
untuk bertahan dari kedukaannya, karena ia seorang ayah. Ia harus kuat agar anakanaknya kuat.

Dari sudut pandang Khalid, ada perasaan iba seorang anak terhadap ayahnya. Ia tahu
betul bahwa ayahnya banyak berpura-pura terlihat kuat baginya dan Dewangga.
Relasi Khalid terhadap Purnomo dan Dewangga juga menjadi lebih kompleks. Sikap
dingin Dewangga terhadap Purnomo sering kali membuat Khalid menjadi serba salah.
Sebagai anak sulung Khalid merasa punya tanggung jawab untuk menjaga hati kedua
orang anggota kerluarganya itu. Sebab, kini hanya mereka yang Khalid miliki. Khalid
sebenarnya kecewa terhadap Dewangga yang selalu menghindari ayahnya. Tapi
Khalid tak bisa berbuat banyak sebab ia juga mengerti apa yang mereka lewati adalah
sebuah pengalaman hidup yang sulit.

Pada lembaran Dewangga, tsunami yang menghabisi nyawa saudara-saudaranya
sungguh membuatnya kewalahan. Relasi yang tak begitu akrab dengan ayahnya
membuat Dewangga semakin sulit menghadapi hari-harinya. Dewangga terkadang
mengharapkan Khalid sebagai kakak tertua untuk selalu memihak padanya. Namun
tentu saja itu bukan pilihan mudah bagi Khalid. Dalam kisah Dewangga diungkapkan
bahwa sebenarnya masih tersisa rasa hormat pada seorang ayah meskipun sikapnya
selalu dingin.

Merayakan Kesedihan adalah kelanjutan kisah dari novel Laut Pasang 1994 yang
kisahnya terinspirasi dari bencana tsunami di Banyuwangi, Jawa Timur pada tahun
1994. Seperti judulnya, banyak hal sedih yang diungkap oleh novel ini. Namun,
masing-masing tokoh juga mengajarkan bagaimana cara bertahan dan memulihkan
diri dari kehilangan. Melalui kisah ketiga tokoh utama, novel ini hendak menyampaikan
bahwa kesedihan bukanlah suatu perasaan yang perlu ditutup-tutupi. Sedih itu
normal, setiap manusia bisa merasakannya. Selain itu, tak ada batasan waktu untuk
merasakan sedih. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda untuk benarbenar pulih dari kesedihan yang dirasakannya.

Penulis Airinda Nanda Suryadi menggunakan nama pena Lilpudu dalam menuliskan
karya-karyanya. Ia mulai menulis di situs daring Wattpad. Kisah-kisah lain yang
berkaitan dengan novel ini adalah Laut Pasang 1994, Laut Pasang 1994 2, Laut
Sebelum Pasang, dan Lembar Terakhir. Karya-karya Lilpudu lainnya adalah Tono dan
Tujuh Bersaudara yang juga masih berkaitan dengan kehidupan Purnomo bersama
anak-anaknya. Kisah yang dirangkai oleh penulis sangat erat dengan kehidupan
keluarga yang penuh dengan lika-liku. Tak selalu bahagia namun hangat.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.