Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Re: dan PeRempuan

Re: dan PeRempuan

Prostitusi menjadi salah satu fenomena sosial yang terus ada di berbagai zaman. Banyak hal yang melatarbelakangi mengapa prostitusi terus muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Antara lain, kemiskinan, tindak kejahatan perdagangan orang, maupun terbatasnya pendidikan seks khususnya pada generasi muda. Prostitusi selalu dianggap sebagai masalah karena bertentangan dengan norma sosial maupun agama, meningkatkan risiko penyakit menular seksual, serta dapat mendegradasi kualitas manusia. Namun, dalam novel Re: dan peRempuan karya Maman Suherman ini, prostitusi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Novel ini mengangkat sisi humanis dalam dunia prostitusi. Bukan menghakimi melainkan memberikan empati.

Novel beraliran pop ini merupakan gabungan dua novel yang kisahnya saling bertautan. Keduanya diceritakan melalui sudut pandang tokoh Aku, yang bernama Herman. Kisah dalam novel ini diadaptasi dari pengalaman nyata. Herman yang pada tahun 1989 masih menjadi mahasiswa jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia sekaligus jurnalis untuk sebuah tabloid. Herman tertarik mengangkat topik prostitusi khusunya prostitusi lesbian di Ibu Kota untuk skripsinya. Hal itu lah yang membuat Herman akhirnya bertemu dengan Re:, Mami Lani, dan beberapa rekan Re: serta anak Re: yang bernama Melur.

Novel pertama dalam buku ini berjudul Re:. Di dalamnya memuat kisah perjalanan Re: dari awalnya gadis muda dengan kehidupan yang lumayan berkecukupan menjadi seorang pelacur. Latar belakang kehidupan pribadi, perasaan-perasaan, serta pemikiran tokoh Re: menjadi fokus dalam novel pertama. Oleh karena itu pembaca mendapatkan sudut pandang yang lain tentang pelacur dan kelamnya dunia prostitusi. Jika dalam konstruksi masyarakat dominan pelaku prostitusi merupakan sebuah penyakit dan sampah masyarakat, novel ini memberikan pemahaman bahwa Re: serta rekan-rekan pelacurnya juga manusia yang berpikir, merasakan, dan memiliki tujuan hidup. Tanpa membenarkan praktik pelacuran, novel ini memberikan pengertian bahwa kebebasan memilih bukanlah milik semua orang. Re:, rekannya Sinta, dan lainnya terhimpit keadaan bahkan tak memiliki pilihan selain membenamkan diri dalam prostitusi. Dalam novel ini dikisahkan bahwa beberapa pelacur di bawah naungan Mami Lani sebagai germo, meregang nyawa saat mereka memutuskan untuk berhenti. Kematian mereka pun begitu menyiksa. Kematian yang mengerikan itu pada akhirnya menimpa Re:. Namun, dalam novel ini tak ada jawaban pasti apa yang menyebabkan Re: mengalami kematian yang tragis.

Novel kedua, diberi judul peRempuan. Kisahnya berlatar 26 tahun setelah kepergian Re:. Tokoh utama dalam babak kedua ini adalah Herman sebagai Aku dan anak semata wayang Re:, Melur. Dua puluh enam tahun lamanya Herman masih menyimpan kenangan-kenangan akan Re:. Melur sendiri telah berubah menjadi perempuan dewasa dan berpendidikan tinggi. Melur yang selama masa kecilnya tak tahu siapa sebenarnya Re: akhirnya mendapatkan jawaban. Jawaban itu membawanya ke sebuah perkara yang lebih besar tentang bagaimana ibunya meninggal dan siapa yang menyebabkan itu.

Novel ini memberikan pengalaman membaca yang cukup mengharukan. Ada begitu banyak hal kelam dalam perjalanan hidup tokoh Re:. Terlebih novel ini diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulis. Ya, Maman Suherman merupakan tokoh Herman dalam novel ini. Apa yang dialami tokoh Re: serta tokoh pelacur lainnya terasa nyata. Dari novel ini pembaca bisa memahami bahwa banyak risiko tak terduga yang bisa dialami oleh perempuan yang terjebak seperti Re:. Penulis juga begitu berani memaparkan tentang cara kerja dunia prostitusi yang dilakoni oleh Re: serta persoalan orientasi seksual. Menariknya novel ini tidak terkesan mereproduksi stigma sosial terhadap perempuan yang terlibat dalam prostitusi. Justru novel ini memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara melalui tokoh Re:. Alur cerita dalam novel ini juga menarik. Di bagian awal terdapat konflik yang cukup intens sehingga dengan mudah memantik rasa ingin tahu pembaca. Meskipun ada beberapa bagian yang cukup vulgar dan menimbulkan rasa tidak nyaman saat membaca. Secara keseluruhan novel ini adalah novel pop yang menarik karena memberikan sudut pandang yang berbeda tentang suatu persoalan yang selama ini dianggap tabu.

Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Gramedia
Tahun terbit: 2025 (Cetakan ke-17)
Jumlah halaman: 330 halaman

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.