Ajisiwi, Ingin Bikin Teater Musikal yang Lebih Indonesia, Lebih Bagus dari Broadway
Ara Ajisiwi tumbuh dari lingkungan kesenian di EKI Dance Company. Sejak 13
Tahun ia sudah dilibatkan dalam berbagai pertunjukkan kesenian, ditempa dalam
berbagai pelatihan. Mulai belajar dari penulis lirik, naskah pertunjukkan, hingga
akhirnya menjadi sutradara. Di luar itu, ia juga telah menjadi penyanyi dan aktris di
beberapa film nasional. Di Festival Musikal Indonesia 2025 nanti, penggemar kisah
mafia ini akan mempersembahkan Musikal Calon Arang.
Berikut kutipan wawancara untuk lebih dekat mengenalnya.
K: Hadir dalam keluarga yang bergerak di bidang seni, bagaimana masa kecil
Ara di lingkungan seni pertunjukkan?
AA: Dari kecil itu, aku suka nonton kelas penari Eki balet. Aku juga suka banget
nyanyi. Jadi, di TK, aku selalu nangis pengen pulang, tapi kalau misalnya lagi
disuruh nyanyi lagu alphabet, aku pasti angkat tangan, terus aku nyanyi sendiri.
Jadi, pelan-pelan diajak ikut pentas, walaupun cuma lari-lari atau ngamen di atas
panggung, tapi dari kecil udah ikut pentas.
K: Bagaimana dengan bidang pendidikan, apakah Ara juga sekolah tingkat sd
– sma, atau kuliah? Atau home schooling?
AA: Aku sekolahnya dari SD sampai SMP sekolah normal, tapi waktu itu bapakku
merasa badanku kaku atau koordinasinya lemah, jadi aku harus ikut kelas balet tiap
pagi sejak SMA, berarti umur 15 tahun. Jadinya homeschooling.
K: Sepertinya Ara memang diandalkan di setiap produksi EKI Dance Company,
bisa ceritakan, kapan dan bagaimana prosesnya sejak awal dilibatkan dalam
produksi EKI Dance? Apakah ada pengajaran atau nasihat khusus dari Pak
Rusdy dan Bu Aiko?
AA: Aku baru mulai intens menjadi penari itu waktu mur 13 tahun. Karena
sebenernya aku gak pernah mau nari waktu itu, tapi waktu itu bapak bilang, kalau
kamu mau jadi penyanyi, kamu harus belajar nari, kalau nggak nanti badan kamu
kaku dan gak bisa ada stage act nya. Dan penyanyi yang bisa nari itu sedikit. Itulah
awalnya aku join full time sebagai penari Eki Dance yang ikut kelas setiap hari. Dan
juga ikut kelas setiap hari secara intensif gitu ya.
K: Untuk Latihan tarian dan acting, apakah ada jadwal khusus atau hanya
kalau ada rencana pementasan saja? Lalu bagaimana dengan belajar
manajemen produksi dan panggung ?
AA: Eki latihan tiap hari benar-benar jam 9 pagi sampai jam 12 siang dan pasti ada
event atau produksi. Dilanjut latihan koreo, latihan acting dan lain-lain. Tapi yang
rutin jalan itu kelas balet, kelas kontemporer, dan juga kelas movement, seperti kelas
koreografi.
Kalau sebagai sutradara, dari dulu aku bantu setiap produksi EKI, aku bikin liriknya,
lama-lama aku bikin script nya. Terus aku jadi ketua penulis script. Bapakku waktu
itu sebagai sutradara, selalu ngajak diskusi aku. Dengan begitu aku belajar cara
pemikiran dia sebagai sutradara. Jadi kayak Learning by seeing, learning by doing.
Di komunitas agama, ada kegiatan kompetisi film pendek, aku juga jadi sutradara di
situ.
K: Apakah Ara memang sudah memantapkan hati sebagai aktris menjadi jalan
hidup dan karir Ara? Mengapa?
AA: Pastinya aku sudah memantapkan hati untuk jadi aktris. Aku mau jadi performer,
aktris, musikal sampai aku gak bisa lagi. Karena aku merasa sebagai performer
pasti ada batas umurnya, ada batas stamina nya. Baru nanti abis itu aku mau jadi
sutradara atau menulis script.
Tapi tiba-tiba bapak meninggal. Akhirnya aku jadi sutradara. Sempat ada
kekhawatiran, sepertinya apakah aku harus berhenti jadi seorang aktris, Karena aku
harus fokus jadi sutradara. Tapi karena ada support system di EKI, aku ternyata
bisa jadi dua-duanya. EKI yang justru sangat kompak makanya aku bisa jalanin duaduanya. Sebagai aktor aku didukung dan sebagai sutradara juga aku dibantu.Disitulah aku thankful sama EKI.
K: Apakah ada hobi lain selain tari dan acting dalam keseharian Ara? Apa yang
dilakukan Ara di waktu senggang atau libur?
AA: Aku juga mengajar, tari, directing, acting juga. Kalau waktu libur atau
senggang aku sering nonton di Youtube. Aku suka yang oversimplified. Seperti
kisah sejarah tapi diceritakan dengan cara anak muda.
Aku suka sejarah sih basically. Selain sejarah juga nonton apapun. Bapakku selalu
bilang “Kamu gak boleh bilang gak suka sebelum nonton”, jadi aku nonton apa aja,
drakor, film India, film anime, film Jepang, film Hollywood, film Spanyol. Selain itu
aku juga sering nyanyi buat TikTok.
K: Apakah Ara juga suka membaca buku?
AA: Waktu itu bantu nulis Ken Dedes, aku baca Ken Arok Dedesnya Pramudya, itu
aku suka banget. Tapi kalau buku favoritku, aku suka banget Trilogy Godfather,
termasuk The Family Corleone.
K: Ara juga dikenal sebagai aktivis Buddha lewat media sosial dan podcast,
apa yang mendorong Ara juga aktif di kegiatan religi?
AA: Kalau di agama aku, sering ada pertemuan, dimana umat saling bercerita. Dan
kita sering ke daerah-daerah, di desa yang terpelosok, contohnya Wonomulyo,
Buling, dan lain-lain. Gara-gara itu jadi cukup membuka mata. Aku bisa kenal sama
orang-orang yang latar belakangnya beda sama aku. Aku ngerasa agamaku adalah
foundation hidupku, cara hidupku juga. Dan aku belajar dari bapakku, bapakku tuh
sangat juga religious. Jadi ada message yang ingin kita sampaikan di karya-karya
kita. Agama kan it’s very deep-rooted philosophy yang udah berjalan beribu-ribu
tahun.
K: Adakah pencapaian yang belum dan ingin Ara capai atau lakukan dalam
karir sebagai aktris mendatang?
AA: Jujur pencapaian aku sebagai aktris tuh menurutku banyak banget yang belum
tercapai. Aku belum pernah main film action. Aku juga mau coba film romance di
mana aku leadnya. Semoga kesempatan-kesempatan itu datang.
K: Apa harapan Ara dengan dunia teater musikal Indonesia ke depannya?
AA: Kalau sekarang harapanku, tentu saja industri ini terus maju. Harapanku adalah
kita teater musikal Indonesia, kita udah ada dari ratusan tahun yang lalu, jadi kita
gak usah mau jadi Broadway gitu. Kita tuh bisa bikin suatu hal yang lebih Indonesia,
yang pasti lebih bagus daripada Broadway, daripada kita ikutin pertunjukanpertunjukan Broadway gitu untuk menaikkan kesenian Indonesia. Mungkin dengan
menceritakan ulang cerita-cerita rakyat, memodernisasi tarian-tarian daerah.
Karena ada teater musikal, orang Indonesia jadi lebih bangga sama budaya
Indonesia, itu yang aku inginkan.
K: Apa tips atau nasihat kepada anak-anak muda yang ingin berkarir di dunia
akting dan tari khususnya musikal?
AA: Tipsnya adalah dulu aku pernah nanya ini ke bapakku dan jawabannya kira-kira
gini “Sebenernya gak ada yang membatasi dirimu selain dirimu sendiri kalau kamu
mau kerja keras pasti kamu akan bisa mencapainya.” Kadang-kadang kita ngerasa
kayak ah kaki aku kurang panjang atau kulit aku terlalu gelap untuk menjadi seorang
aktris. Itu adalah hal-hal yang kita hipnotis pada diri sendiri. Tapi semua orang itu
bisa karena semua orang itu bisa kerja keras. Jadi kalau kita kerja keras, pasti
apapun yang kita mau, pasti bisa tercapai. Mungkin kita pengennya tercapai dalam
satu atau tiga bulan, tapi bisa jadi tercapai dalam lima tahun, tapi pasti akan
tercapai, kalau kita stop membatasi diri dengan keluhan. Kadang-kadang kita
ngerasa kayak banyak beban, padahal sebenarnya beban itu kita bikin sendiri.
Foto: Dok.AA






