Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Stems Of Cloves & Nutmegs: A Collection Of Contemporary Poems From Maluku

Stems Of Cloves & Nutmegs: A Collection Of Contemporary Poems From Maluku

Cengkeh dan pala adalah dua tanaman khas Indonesia yang penuh sejarah. Tanaman cengkeh sendiri awalnya hanya tumbuh di lima pulau yang terletak di wilayah Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, Moti, dan Makian. Sedangkan tanaman pala tumbuh subur di Kepulauan Banda. Keduanya memiliki aroma khas dan menambah cita rasa suatu masakan. Keduanya juga memiliki manfaat untuk kesehatan. Keistimewaan cengkeh dan pala membuat bangsa Eropa berlayar ribuan kilometer ke Kepulauan Maluku berabad lalu untuk menguasai perdagangan rempah-rempah.

Tercatat dalam sejarah bahwa kedatangan bangsa Eropa untuk menguasai rempah-rempah pada akhirnya justru membawa bencana kemanusiaan bagi rakyat Maluku. Seperti yang dikisahkan dalam film dokumenter Banda: The Dark Forgotten Trail (2017) karya Jay Subiakto, bahwa ambisi kongsi dagang Belanda VOC untuk menguasai rempah-rempah sekitar abad ke-16 telah membunuh ribuan penduduk asli Banda.

Selain sebagai salah satu daerah penghasil rempah-rempah terbaik, Maluku juga menjadi tanah lahirnya pahlawan-pahlawan Indonesia, beberapa di antaranya Thomas Matulessy yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, Martha Christina Tiahahu, Sultan Baabullah, Sultan Nuku, dan Johannes Leimena.

Maluku telah melewati berbagai masa. Bertahun-tahun pasca kemerdekaan Indonesia tanah Maluku sempat mengalami gejolak di antara tahun 1999 hingga awal 2000-an. Konflik sektarian yang melibatkan kelompok etnis dan agama tersebut menjadi peristiwa penting dalam sejarah kemanusiaan di Indonesia. Cukup banyak warga sipil yang kehilangan nyawa serta stabilitas hidup akibat konflik tersebut.

Bertahun-tahun kemudian pasca konflik, Maluku semakin dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Wilayahnya yang terdiri dari berbagai kepulauan memiliki keindahan alam luar biasa serta lautnya menjadi tempat berbagai jenis biota yang memikat banyak kalangan. Meskipun demikian saat ini Maluku tengah menghadapi krisis ekologi. Lembaga Forest Watch Indonesia pada tahun 2023 melalui situs daringnya mengungkapkan bahwa kerusakan lingkungan telah terjadi di sebagian wilayah Pulau Obi, Maluku akibat aktivitas pertambangan nikel. Dalam artikel yang dirilis FWI itu juga dipaparkan bahwa kerusakan lingkungan meliputi, adanya temuan konsentrasi pirit dan besi yang cukup tinggi di sedimentasi sungai,kerusakan karang, lamun, serta biota laut. Beberapa jenis ikan juga sudah terancam hidupnya.

Stems of Cloves & Nutmeg merupakan antologi puisi kontemporer dwi bahasa yang juga menyuarakan kritik tentang apa yang terjadi di alam Maluku saat ini. Buku ini digagas oleh komunitas Bahasa Basudara. Ada 30 puisi hasil karya dari 13 penulis muda asal Maluku yang sangat peduli dengan tanah kelahirannya. Apa yang disuarakan melalui puisi-puisi dalam buku ini adalah cinta, harapan, kenangan, serta keberanian.

Terkait dengan krisis ekologi yang saat ini sedang dihadapi oleh rakyat Maluku, beberapa puisi di sini dengan lugas menyampaikan kekecewaan dan kemarahan atas bencana ekologi yang menimpa Maluku. Seperti dalam puisi berjudul Ada Apa di Kampong? karya Tatanusi yang mempertanyakan perubahan-perubahan alam serta kebiasaan manusia ke arah yang tampaknya tak diharapkan. Di bagian akhir puisi penulis memberikan sindiran tentang perusahaan yang beroperasi tanpa izin.

Puisi lain yang bersuara tentang kekecewaan serta kemarahan atas kerusakan yang terjadi di tanah Maluku serta kondisi politik secara umum juga diungkapkan oleh Thomas Mandilis melalui Maluku Telah Hilang, Negeri Bajakan karya Eko Saputra Poceratu, dan beberapa lainnya.

Puisi dikenal dengan teks yang memiliki keindahan pada tiap katanya. Ia kadang memiliki rima yang melibatkan rasa. Melalui buku puisi ini kita bisa merasakan bagaimana cinta seseorang terhadap tanah yang ia tinggali. Antologi ini dibuka dengan puisi yang indah dari Eko Saputra Poceratu yang berujudul Nanyian Orang Pulau, dilanjutkan dengan puisi Maraju karya Mariana Lewier yang mengungkapkan perasaan seseorang yang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Membaca puisi-puisi dalam buku ini menimbulkan berbagai perasaan. Ada rasa cinta pada keluarga serta bagaimana kenangan-kenangan itu dihidupkan oleh beberapa puisi di sini.

Hal menarik lainnya yang bisa ditemukan dalam buku ini adalah penggunaan diksi yang diambil dari bahasa daerah Maluku. Beberapa penulis menyelipkan diksi-diksi dari bahasa daerah Maluku. Salah satu puisi yang menunjukkan kekayaan akan bahasa itu adalah puisi karya Theodora Melsasail berjudul Christina Theodora yang mengungkapkan kekaguman dan rasa hormat terhadap salah satu pahwalan asal Maluku Martha Christina Tiahahu. Lewat puisi ini juga penulis menyatakan bahwa rasa cintanya pada tanah Maluku sama besarnya dengan rasa cinta sang pahlawan pada tanah yang dibelanya dari penjajah.

Seperti halnya cengkeh dan pala yang merupakan salah satu warisan berharga dari tanah Maluku, antologi puisi ini pun merupakan salah satu manifestasi dari kekayaan budaya yang mendefinisikan gagasan tentang apa Maluku itu serta besarnya cinta kepadanya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.