Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Voyage of Becoming, Pameran Tunggal Sakde Oka di Artotel  Thamrin Jakarta

Voyage of Becoming, Pameran Tunggal Sakde Oka di Artotel Thamrin Jakarta

Ditengah arus utama seni rupa, berkarya dengan cat dan kuas di atas kanvas, atau bahkan karya intalasi yang ruwet untuk dicerna, seorang seniwati asal Bali, melawan arus dengan berkarya dengan kain dan benang. Kain menjadi kanvasnya dan sulaman benang-benag menjadi alat menggambarnya. Temanya pun sangat mendalam. Perenungan akan resonansi hubungan alam dan manusia.

Sakde Oka, (1994), lulusan DKV ISI Bali 2016. Ia mulai menunjukkan karyanya saat mengikuti open call pada pameran khusus emerging artist di Bali pada tahun 2021. Dari kegiatan itulah karyanya mulai dilihat banyak pihak. Salah satunya studio kreatif Nutur di Bali. Di bawah naungan Nutur, karya-karya Sakde Oka diperkenalkan ke khalayak lebih luas. Hingga Artotel Group mengajaknya untuk mengadakan pameran tunggal.

Pameran tunggal pertamanya di Hotel Artotel Sanur diselenggarakan pada September-November 2025. Kini pameran tunggalnya berlanjut. Artotel Group kembali mengajaknya untuk berpameran di Jakarta, Tepatnya di Artotel Thamrin Jakarta. Pameran Voyage of Becoming : A Journey Across Spaces. Berlangsung pada 27 Februari–31 Mei 2026.

Bertempat di Art Space, Mezzanine Level, Artotel Thamrin Jakarta, pameran ini menghadirkan 13 Karya Sakde Oka dari 2024 hingga 2026. Terlihat rangkaian perkembangan karya Sakde, mulai darimenggunakan kain dan benang berwarna cerah di 2024, kemudian didominasi oleh warna hijau dan abu-abu- hingga penggunaan kain eco print sebagai “kanvas” untuknya berkarya.

Hubungan manusia dengan alam sekitarnya menjadi tema karya karyanya. Didasari dari prinsip – prinsip keyakinan Hindu. Manusia adalah semesta kecil ( Bhuana Alit) dan alam dan semesta diluar manusia adalah Bhuana Agung. “Kadang manusia merasa terpisah dari alam sekitarnya. Memandang alam sekitarnya sebagai benda mati yang lebih rendah derajatnya. Sehingga kadang berbuat semena-mena terhadap alam. Padahal manusia bagian dari alam semesta, kita bagian dari mereka, mereka bergerak atas interaksi dengan kita, Di mana ada interaksi antara alam dan manusia yang saling mempengaruhi,“ ujar gadis kelahiran Ubud, Bali ini.

Jalinan benang-benang pada kainnya membentuk figur-figur, manusia,  hewan, pepohonan dan benda-benda alam lainnya. Manusia selalu digambarkan sebagai figur yang kecil, yang menggambarkan kecilnya manusia di alam semesta.

Ada dua jenis karya, karya dengan bentuk kotak dan karya yang lebih besar dalam bentang kain yang kemudian digantung dengan kayu yang panjang.”Karya saya yang menggunakan media kain yang besar memakain teknik patchwork. Di mana saya menggunakan potongan potongan kain yang membentuk figure atau obyek . Penggunaan kain lebar juga mempermudah saya untuk mengemas karya saya secara praktis, untuk membawa, mengemas dan memindahkannya saat mengikuti pameran di luar Bali,“ jelas Sakde Oka.

Untuk saat ini Sakde Oka sedang asik dengan bermain dengan kain dan benang sebagai medium karyanya. “Saya ingin belajar lebih banyak tentang banyak hal, menggali potensi saya, sambil belajar untuk mengolah dan mengemas gagasan dalam karya-karya saya.” Ujarnya.

Pameran ini menggambarkan perjalanan spiritual Sakde Oka untuk menjadi “ada” diantara alam sekitarnya. Keberadaannya menjadi sebuah kesadaran utuh bahwa dirinya bagian dari alam semesta. Sambil mengajak sesama manusia untuk lebih menghargai alam sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.