Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

WANI, Pameran Karya 16 Seniwati Melawan Normalisasi  Ketidakadilan Terhadap Perempuan

WANI, Pameran Karya 16 Seniwati Melawan Normalisasi Ketidakadilan Terhadap Perempuan

Di masyarakat masih terlihat persoalan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Perempuan sering dipandang sebagai mahluk yang lebih rendah, namun dilain pihak dituntut dengan peran yang beragam. Mulai dari sebagai seorang ibu, seorang istri, seorang pekerja dan sebagainya. Hal ini yang kemudian diangkat oleh Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, melalui program tahunannya, Labs Perspektif : Perempuan Perupa.

Di tahun 2026 ini, bekerja sama dengan Ikatan Alumni Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta atau ILUSI menyelenggarakan Pameran WANI: Woman Againts Normalizing Inequalty, berlangsung pada 1-8 Maret 2026 di Taman Ismail Marzuki. Wani juga berarti keberanian dalam Bahasa Jawa, yang memperlihatkan keberanian para seniman perempuan dalam berekspresi dan menyuarakan aspirasinya. Pameran ini juga ikut merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.

Ilusi memilih 16 seniman perupa perempuan untuk berpartisipasi dalam pameran ini dan dapat menanggapi tema yang dipilih. Yang menarik, perupa yang ikut sangat beragam mulai dari gaya berkaryanya, latar belakangnya yang berbeda-beda, mulai dari rentang umur dan pendidikan hingga model dan jenis serta aliran seni juga sangat beragam.

Ada Aisah Kastolan yang masih berstatus mahasiswi di IKJ jurusan Seni Murni, hingga legenda grafis cetak saring Marida Nasution yang telah berpulang pada 2008. Juga tak hanya dari lingkungan IKJ, ada juga seniwati yang dipilih dari kota lain, seperti Cilegon hingga Yogyakarta.

Ke -16 seniwati yang berpartisipasi adalah Agnes Hansella, Aharimu , Aisha
Kastolan, Alodia Yap, Aulia Murid Sasongko, Bibiana Lee & Ida Ahmad, Ella Wijt, Gabrielle Maria A, Imelda AMS, Kartika Ekasari Murti, Marida Nasution, Rebecca Theodora, Renjani Damais, Ressa Rizky Mutiara dan Rotua Magdalena Pardede.

Aisha Kastolan yang masih duduk di semester 6 IKJ, pernah melakukan residensi di Galeri Cemara & Museum Toety Heraty. Dara bertubuh tinggi ini memilih seni patung sebagai media berkaryanya. Biasanya pematung hanya menghadirkan karya-karya patungnya, namun melalui karya instalasi “Dapurku”, Aisha justru menyajikan rangkaian proses kreatifnya. Diwakili oleh kertas putih memanjang, mulai dari kertas kosong, yang kemudian di sisi tembok diisi kertas-kertas mewakili risetnya, lalu disambung ke mock up patung–patung kawat, cetakan hingga karya akhir patung patungnya, disajikan menjadi satu rangkaian instalasi.

“Saya merasa terhormat diajak untuk menjadi bagian dari pameran ini, saya
menyajikan rangkaian proses saya dalam berkarya, muali dari ide di sketch bentuk patung, mock up, cetakan hingga tiga karya patung terbaru saya di tahun 2025.”

“Tema Perempuan memang menjadi fokus utama karya-karya saya, untuk menyuarakan ketidak adilan di masyarakat terhadap perempuan, melalui karya patung, saya menyuarakan suara perempuan termasuk diri saya sendiri sebagai perempuan,“ ujar Aisha.

Renjani Damais, yang akrab dengan desain fesyen dan produk serta art decorator, menyajikan karyanya yang berjudul Autobiographical Memory. Potongan-potongan memory dari dirinya sebagai perempuan urban, diwakili oleh sosok alter egonya, Poni. Yang dikelilingi rangkaian memory yang diwakili oleh potongan benda-benda ikon yang menjadi bagian penting dalam momen-momen hidupnya. Benda-benda tersebut dibungkus dalam plastik berisi air layaknya penjual ikan di gerobak di kampung-kampung Jakarta. Yang kemudian dihubungkan dalam untaian–untaian benang merah yang mewakili tautan ingatan dalam otak manusia yang membentuk
dirinya hingga seperti sekarang.

“Ada 49 item yang sesuai dengan usia saya sekarang yang mewakili ingatan penting dalam perjalanan hidup saya, mulai dari mainan berbentuk bajaj, yang mengingatkan jaman saya sekolah hingga test pack yang mengingatkan saya saat mengandung anak saya. Ikatan memory ini mengingatkan saya sebagai perempuan yang menbentuk diri saya hingga sekarang,“ kata Renjani.

“Saya sangat senang berpartisipasi dalam pameran ini, dengan beragam gaya dan latar belakang para seniman, kita merayakan keberagaman karya seni perempuan dan ikut menyuarakan aspirasi perempuan dan masyarakat bisa melihat karya-karya seni perempuan ini, dan kita sebagai seniman semakin semangat dalam berkarya,“ tambah Renjani.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.