Tiba Tanpa Berangkat, Pameran karya dari Pasangan Seniman Seni Rupa Tentang Masa Lalu dan Masa Depan
Bagaimana kalau ternyata kemajuan bangsa ini ternyata terhambat oleh
kepentingan penguasa. Kemajuan pengetahuan lewat para insan intelektualnya
dipengaruhi oleh tekanan kekuasaan yang mengarahkan mereka untuk hanya
menghasilkan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan kepentingan tertentu.
Hal ini yang membuat Maharani Mancanegara dan Nurrachmat Widyasena,
pasangan seniman seni rupa yang mengadakan pameran bersamanya bertajuk Tiba
Tanpa Berangkat. Sebanyak 25 karya, baik dari pribadi masing-masing maupun
karya kolaborasi, ditampilkan di D Gallerie, Jakarta dari tanggal 8 November – 7
Desember 2025.
Pameran ini menyuguhkan hasil perenungan panjang dari kedua pasangan
seniman lulusan ITB ini. Sejarah panjang hubungan antara perkembangan ilmu
pengetahuan dan kekuasaan dilihat oleh Maharani Mancanegara dengan menyusuri
jejak hubungan itu dari masa lalu, dari masa kolonial. Di mana penjajah
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kepentingannya. Contohnya Kebun Raya
yang didirikan untuk penelitian tumbuhan komoditas yang dimanfaatkan untuk
kepentungan pihak penjajah. Dari situ karya yang dihasilkan menampilkan obyek
tanaman dan proses tanam dengan cat akrilik serta kayu dan arang, sebagai residu
sejarah yang menghanguskan ingatan.
Lain halnya dengan Nurrachmat Widyasena yang akrab dipanggil Mas Ito, lebih
tertarik pada persoalan masa depan yang penuh imajinasi namun tidak kesampaian.
karyanya yang berkonsep “Estetika Retrofuturism”. Mas Ito melihat bagaimana
kebijakan sains dan teknologi Indonesia masih dipengaruhi cara pandang kolonial
sehingga kemajuan teknologi tidak menjadi produk untuk kepentingan publik namun
dibatasi oleh sentralisasi kepentingan penguasa.
Mas Ito menggunakan obyek-obyek teknologi seperti astronot, satelit, bahan–bahan
logam yang diganggu oleh anak panah-anak panah, yang menggambarkan
kemajuan yang diganggu oleh banyak hal, seperti birokrasi dan lainnya.
Chabib Duta Hapsoro, sang kurator menjelaskan dalam tulisan pengantar pameran,
melihat benang merah diantara karya keduanya. “Dengan menautkan masa lalu
dengan masa depan, pameran ini mengajak kita untuk melihat kembali arti
kemajuan, tidak hanya soal melangkah ke depan, tetapi melihat kembali dari mana
kita berangkat, dan melihat mengapat Langkah itu kerap berhenti di tengah jalan.”
Maharani Mancanegara menjelaskan dalam pameran ini ada 3 jenis karya, pertama
dan kedua adalah karya masing-masing seniman dan jenis ketiga adalah karya
kolaborasi. Ada 3 lukisan pemandangan persawahan namun diberi tulisan-tulisan
getir tentang situasi saat ini. Dan yang menarik adalah sebuah karya instalasi
berbentuk kotak radio tua dari kayu yang menyuarakan sebuah sandiwara radio
yang menceritakan percakapan 3 remaja tentang masa lalu, masa kini dan masa
depan yang naskahnya ditulis oleh kedua seniman.
Untuk mengarahkan pengunjung pameran untuk menikmati sandiwara radio
tersebut, di tengah ruang pameran dibuat sebuah ruang duduk nyaman dengan sofa
dan meja serta buku-buku dengan karya instalasi tersebut diputar.
Lewat pameran ini, pengunjung digugah akan kesadarannya akan situasi yang
bangsa ini alami. Kembali bertanya tentang kemajuan, bagaimana pengaruhnya
masa lalu terhadap kemajuan masa depan bangsa ini kemudian
Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia






