Mozarts 73 Gelar Pameran Instalasi dan Patung di Atas Atap Gedung Parkir TIM
Komunitas pecinta motor dari para alumnus Institut Kesenian Jakarta, Mozarts 73,
menggelar pameran ke-4 nya. Setelah selama ini menggelar di berbagai tempat, di
tahun 2025 ini Mozarts 73 ikut merayakan HUT TIM ke-57 tahun dengan “kembali ke
rumah”, berpameran di lingkungan Taman Ismail Marzuki. Tak tanggung-tanggung,
pameran yang bertema “Gas Aja Dulu, Motorsaikel Kalcer” ini bertempat di Taman
Atap, atau Rooftop gedung parkir TIM.

Pameran yang berlangsung dari tanggal 17-30 November 2025 ini berbeda dengan
pameran sebelumnya. Sepakat dengan konsep outdoor, para anggota Mozarts 73
antusias membuat karya yang sesuai dengan konsep tersebut. Dengan totalitas
yang tinggi, terkumpullah 17 karya patung atau sculpture dan instalasi yang
tentunya tahan cuaca untuk dipajang di ruang terbuka, ditambah dengan satu karya
live painting lewat media motor sebagai obyeknya.

Johan Hutapea, salah satu panitia dari pameran ini menjelaskan bahwa motor yang
menjadi tema dasar tidak hanya gaya hidup urban, tetapi telah menjadi budaya
dalam keseharian di Kota Jakarta.

Yang menarik adalah, untuk pertama kalinya taman rooftop TIM bisa dijadikan
tempat pameran. Karena Lokasi yang dulu menjadi bagian depan gerbang TIM,
kerap menjadi tempat nongkrongnya anak-anak IKJ kala itu. Kini telah menjadi
taman di atas tempat parkir TIM.

“Paling tepat mengunjungi pameran ini waktu sore hari menjelang malam, sambil
melihat karya-karya, dapat menikmati pemandangan sore hari dengan matahari
terbenam serta lampu-lampu gedung di sekitarnya, “ ujar Bang Johan.

Seniman yang terlibat antara lain; Awan Simatupang, DN Fajar Paksi, Dik Doank,
Dwi Budi Prasetyo, Hardiman Radjab, Jimmy Silaen, Johan Hutapea, Kekeu Marlov,
Kusmen Santo, Philips Sambalao, Saut Marpaung, Semut Prasidha, Simbah Patuha,
Tantio Adjie, Tuti Kaliandra, Msr, dan Y. Catur Windu Y,P.

Dengan tema dasar motor, motor utuh atau bagian-bagian motor menjadi obyek
utama dalam karya-karya yang ditampilkan. Seperti karya Dik Doank yang berjudul
“Vespa dan Ibu”, menyajikan instalasi sebuah motor vespa pemberian ibunya kala ia
masih berkuliah di IKJ, yang ditempatkan dalam sebuah rangka berbentuk segitiga
dan dihiasi lampu-lampu dan speaker yang bisa menangkap getaran suara,
membuat efek nyala lampu di sekitarnya.

Ada juga karya Hardiman Radjab yang menempatkan replika kereta kencana milik
Pakubuwono ke-10 yang dikenal sebagai Kereta Setan. Kereta ini sebetulnya adalah
sebuah mobil, namun karena penduduk kala itu hanya mengenal kereta kencana
keraton yang ditarik kuda, maka dengan mesin mobil, kala itu tampak seperti kereta
kencana yang berjalan sendiri.
Pameran ini juga diisi dengan berbagai kegiatan, selain live painting, juga ada artisttalk dan workshop gambar sketsa dan gambar model. Pameran ini dapat menjadi pilihan kala berkunjung di Taman Ismail Marzuki yang sedang padat dengan
berbagai kegiatan dan acara menjelang akhir tahun ini.





