Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di tahun 2025

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di tahun 2025

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKDW) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Hamka, TKDW, diterbitkan pertama kali pada 1938. Sekalipun diekspresikan dalam bahasa Indonesia, jarak sekitar 87 tahun dari 2025 pergeseran makna sangat mungkin terjadi.

Jarak hampir seabad memungkinkan masalah yang diajukan dalam novel tersebut sudah berganti. Secara umum, kita tahu TKDW mengetengahkan masalah cinta tak sampai. Kisah cinta kandas tersebut diakibatkan oleh perbedaan kelas sosial yang bertabrakan dengan aturan adat.

Inti roman TKDW pun sudah cukup umum diketahui. Kisah Zainuddin, pemuda peranakan Sulawesi-Minang, yang kembali ke Sumatera Barat untuk mengetahui akar budaya ayahnya lalu jatuh cinta pada Halimah, putri bangsawan. Cinta tersebut tidak direstui orang tua Halimah. Sebab Zainuddin dianggap tidak punya pertalian darah dengan Minangkabau karena, menurut tradisi matrilineal, ibunya berasal dari Bugis. Hanya ayahnya yang berasal dari Minang.

Hayati kemudian dinikahkan dengan Aziz oleh keluarganya. Zainuddin keluar dari Minang. Ia merantau ke Jakarta lalu Surabaya. Di sana ia sukses sebagai penulis. Aziz dan Hayati kemudian pindah pula ke Surabaya. Rumah tangga mereka berantakan.

Aziz dipecat dari pekerjaan. Setelah itu mereka menumpang di rumah Zainuddin. Aziz pamit merantau mencari pekerjaan kemudian bunuh diri. Dalam testamennya Aziz menceraikan Hayati dan menyerahkan pada Zainuddin. Namun Zainuddin tidak memaafkan Hayati. Ia menyuruh Hayati pulang ke Batipuh dengan menaiki kapal Van der Wijck. Kapal mewah tersebut tenggelam. Hayati wafat. Setelah mengetahui Hayati masih mencintainya, Zainuddin menjadi sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Jenazahnya dimakamkan di samping Hayati.

TKDW juga sudah pernah diangkat ke layar bioskop pada 2013 oleh Soraya Intercine Film. Film tersebut disutradarai oleh Sunil Soraya. Potongan klip percakapan Zainuddin dan Halimah yang berbunyi, “Demikianlah perempuan. Ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan dia lupa kekejaman diri sendiri kepada orang lain walaupun bagaimana besarnya” relatif popular di media sosial.

Sebagai cetusan fiksi pergulatan pemikiran manusia Indonesia pada dekade pra kemerdekaan, TKDW penting untuk dibaca. Ada fakta yang tidak tersampaikan dalam narasi sejarah umum tapi bisa diucapkan oleh fiksi.

Dari TKDW, kita dapat memahami revolusi bangsa ini pada masa tersebut terjadi pada dua tantangan. Tantangan eksternal melawan kolonialisme Belanda. Sedangkan secara internal, bangsa Indonesia sedang menantang tradisi yang berlawanan dengan semangat emansipasi.

Namun TKDW tidak menyajikan kesegaran isu dan penyajian untuk konteks Indonesia tahun 2025. Terutama bagi pembaca yang sudah larut menikmati cerita panjang maupun cerita pendek Indonesia pasca 1998. Masalah yang diajukan TKDW relatif sudah teratasi pada kondisi Indonesia kontemporer. Perkawinan antar suku sekarang sudah jamak dan cukup diterima secara sosial. Mobilitas vertikal pada 2025 relatif lebih mudah dibanding pada 1938.

Cerita ini membingkai pergulatan tradisi lewat kisah cinta tak sampai dalam alur maju. Formula roman cinta tak sampai ini bisa disebut sebagai resep dasar yang dapat menyentuh emosi dan selera subyektif banyak pembaca lintas lokasi dan zaman.

Tentu resep dasar cinta tak sampai bukan jaminan sebuah cerita akan sukses. Masih tergantung pada kemampuan pengarang mengolahnya. Namun setidaknya, kisah cinta tak sampai telah digunakan banyak pengarang. Sejak Shakespeare mengarang Romeo and Juliet di Inggris hingga Mahfud Ikhwan menerbitkan Kambing dan Hujan (2015) di Indonesia.

Sekalipun problematika yang diangkat dan gaya penyajian yang dipresentasikan TKDW bisa disebut telah usang, tetapi kita tetap dapat memahami pergulatan serta alam pikir manusia Indonesia pada era pra kemerdekaan setelah Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928 menuju Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dari aspek bahasa, TKDW, di antaranya, menunjukkan adanya pergeseran makna dalam bahasa Indonesia. Cerita panjang tersebut juga diungkapkan lewat bahasa yang terbaca lebih puitis. Meletakkan TKDW dalam latar belakang sejarah pemikiran manusia di masa lampau lengkap dengan ekspresi bahasanya menjadi alasan yang tepat membaca novel ini pada tahun 2025 dan setelahnya. Akan tetapi jika yang diburu adalah kesegaran isu dan penyajian, TKDW mungkin tidak akan terlalu memuaskan.

Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka Adalah seorang ulama, filsuf dan sastrawan Indonesia yang juga berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Lahir di Sumatera Barat pada 1908. Karya sastranya yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Ia juga menulis Merantau ke Deli dan Tuan Direktur, Laila Majnun antara lain.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.