Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Indonesia Watercolor Summit Gelar Pameran Karya Para Seniman dari 10 Negara

Indonesia Watercolor Summit Gelar Pameran Karya Para Seniman dari 10 Negara

Watercolor atau cat air, kadang dipandang sebagai sebuah media yang mudah rapuh
dan spontan, padahal alat ini juga mempunyai keunikan dalam menyampaikan suatu
ekspresi dalam gambar.

Hasil lukisan dari cat air menghasilkan sebuah atmosfer realisme sekaligus
surealisme dari pekaburan warna yang dihasilkannya ke dalam bentuk apapun. Baik
itu pemandangan, bangunan ataupun gambar potret yang dekat dan intim. Baik itu,
alam, manusia, benda atau tumbuhan. Penikmatnya selaku diajak untuk menjelajah
antara dunia nyata dan dunia imajinasi dalam ruang spektrum estetika.

Untuk itu Indonesia Watercolor Summit (IWCS), sebuah platform seni yang berdiri
sejak tahun 2020, menggelar pameran bertajuk International Art, Culture, Friendship
Celebration Exhibition yang bertempat di Art1Museum, Kemayoran, Jakarta. Pameran
yang berlangsung dari 31 Oktober – 10 November 2025 ini menghadirkan karya –
karya seni dari para seniman yang berasal dari 10 negara. Mulai dari Australia,
Kanada, Chile, Iran, Rusia, India, Argentina, Thailand, Turki dan Indonesia.

Walaupun yang menyelenggarakan dari komunitas pengguna cat air, namun tidak
hanya karya dari cat air saja, namun terbuka bagi peserta untuk mengeksplorasi
bakatnya dengan media kreasi lainnya. Seperti cat minyak, akrilik, bahkan karya tiga
dimensi, seperti patung dan wayang.

Dikuratori oleh Anna Sungkar, pameran ini menghadirkan partisipasi para seniman,
yaitu:

1. Australia : Amie Dupuy
2. Kanada : Javid Tabai
3. Chile : Julia Camara
4. Iran : Sareh Mohebeian
5. Rusia : Eugeniya Kostikova, Maksim Mishin, Irina Kulemina, Natalia
Pilipuk, Anastasia Petryaeva, Natalia Dmitrieva
6. India : Achintya Hazra, Nishikant Palande
7. Argentina : Diego Aguilian
8. Thailand : Tanawat Makshin, Kitipong Maksin
9. Turki : Tatiana Koparan
10.Indonesia : Nanang Widjaja, Sitok Srengenge, Icka Gavrilla (Yogyakarta);
Dony Hendro Wibowo (Semarang); Veynie Vokke (Surabaya);
Grace Syariel (Surabaya); Syakieb Sungkar (Jakarta); Wildan Hermana (
Bandung); Suryo Herlambang(Bandung); Marcela A.Delllani (Jakarta) ; Made
Sutardja ( Bali); Rahel Yosi ; Rintonga ( Semarang); Elizabeth Sutopo (
Malang); Banny Adrianto ( Jakarta), Zilvia Zulaika (Surabaya) ; Reza Pratama
(Jakarta) ; Artyan Trihandono ( Jakarta) ; Tamara Geraldine ( Jakarta) ; Davici
( Yogyakarta); Vovandi Essa( Yogyakarta) ; Jeremy Jonathan ( Jakarta) ; Robby
Lulianto ( Jakarta), Iqbal Amirdha ( Jakarta) ; Seto Parama Artho ( Jakarta) &
Adhitama Nugraha ( Jakarta).

Zilvia Zulaika, pendiri dan ketua IWCS menyatakan bahwa pameran ini sebagai ajang
persahabatan antar negara, berbagi pengetahuan dan ketrampilan, membangun
relasi dan personal brand dari masing-masing pelukis.

Banyak dari pelukis luar negeri yang baru pertama kali datang ke Indonesia, namun
telah melukis obyek-obyek khas Indonesia, seperti patung-patung, pantai, bahkan
atraksi Kaparan Sapi karya Tatiana Koparan. kota tua Jakarta karya Maksim Mishin,
hingga penari tradisional dengan baju khasnya karya Julia Camara. Sebelumnya
mereka telah berbagi secara daring, dan melihat foto-foto tentang Indonesia,
kemudian melukisnya ,seakan mereka telah berkunjung ke Indonesia dan melukis
secara langsung.

Karya patung juga tidak kalah menarik. Salah satunya Wildan Hermana yang
menampilkan karya-karya patungnya yang mengambil obyek utama mainan tentara
namun di cat berwarna biru. Mainan tentara yang kecil dikumpulkan menjadi satu
satuan obyek berbentuk bulat dan kotak, ada juga obyek agak besar dan ditempatkan
dilantai, penembak dan yang ditembak. Ada juga lukisan dengan gambar tentara biru
berjajar di dalamnya dengan latar belakang foto seorang gadis.

“Tentara merupakan refleksi dari sosok Ayah saya yang seorang pensiunan tentara,
namun hingga masa tuanya ia membawa trauma masa lalunya saat bertugas, di
medan pertempuran, Timor Timur dan Aceh. Sering ia terbangun saat tidur sambil
teriak akibat mimpi-mimpi buruknya, belum lagi keterkejutan saat mendengar bunyibunyi keras seperti knalpot kendaraan. Situasi ini menginspirasi saya membuat karyakarya ini.”

Anna Sungkar mengatakan, “Karya-karya ini menunjukkan bahwa cat air, medium
yang seringkali diremehkan, masih memiliki kekuatan vital untuk berbicara tentang
dunia saat ini. Sebagai kurator, saya memandang pameran ini sebagai ajakan untuk
berefleksi sekaligus bergerak. Renungkanlah, karena air dan potret menyediakan
ruang untuk kontemplasi. Bergeraklah, karena obyek kota, pasar, dan kuda
mengingatkan kita pada energi kehidupan yang tak henti-hentinya.”

Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan di dua kota Jakarta dan Bali oleh IWCS,
setelah di Jakarta, Pameran akan berlanjut di Bali pada 6 – 11 November 2025. Selain
pameran, agenda di kedua kota akan diperkaya dengan kunjungan ke situs budaya,
artefak bersejarah, workshop, serta sesi melukis bersama. Rangkaian kegiatan ini
bertujuan mempertemukan para peserta dengan keragaman budaya Indonesia,
sehingga seni menjadi medium dialog lintas bangsa.

Foto: Ferry Irawan | Kulturalindonesia

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.