Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Hari Minggu Ramai Sekali

Hari Minggu Ramai Sekali

Bersuara untuk Ketidakadilan

Isu ketimpangan dan ketidakadilan sosial menjadi topik utama dalam puisi-puisi karya Eko Saputra Poceratu dalam buku ini. Melalui puisi-puisi itu, penulis ingin menyampaikan bahwa ada sisi kehidupan lain yang masih jauh dari sempurna. Wilayah Papua dan Maluku menjadi latar utama dalam puisi-puisi yang ditulis. Hal itu menarik, sebab selama Indonesia merdeka, pembangunan masih saja terus-menerus berkembang pesat di Jawa. Hal itu menciptakan ketimpangan dalam berbagai aspek jika dibandingkan dengan kondisi daerah-daerah di Indonesia bagian timur.

Puisi-puisi ini bagaikan bentuk sindiran penulis akan adanya masalah-masalah sosial di wilayah Papua serta Maluku yang belum terselesaikan. Hal itu ditunjukkan dengan puisi berjudul Ada Neraka di Papua yang dijadikan sebagai puisi pembuka dalam buku ini. Salah satu gagasan penulis tentang ketidakadilan di Papua dalam puisi ini ditunjukkan melalui penyebutan surga dan neraka. Kedua tempat itu tak hanya dapat dirasakan manusia selepas kematian, tapi juga dalam kehidupan nyata. Ketidakadilan sosial menciptakan neraka dalam kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang baik dapat diumpamakan sebagai surga begitu pun sebaliknya. Salah satu ketidakadilan yang disorot adalah soal kesehatan yang mana sudah seharusnya menjadi hak seluruh warga negara dari ujung barat ke timur. Hal itu ditunjukkan dari puisi berjudul Parasetamol dan Ampicilin. Puisi itu mengutarakan masih ada sulitnya masyarakat di Papua untuk mendapatkan akses kesehatan yang memadai dan bertanggung jawab. Begitu pula ketidakadilan dalam aspek gender yang diserukan melalui puisi berjudul Episode Mariana: Perempuan yang mati beranak di Papua. Puisi itu menuangkan kisah yang cukup memilukan tentang ketidakadilan yang dialami oleh perempuan muda bernama Mariana, seorang buruh pabrik. Puisi itu ditulis dalam 6 episode. Dalam tiap episodenya penulis memberikan gambaran yang lugas mengenai kesulitan yang dihadapi oleh Mariana sebagai perempuan multiperan. Puisi-puisi itu menyampaikan bahwa ketidakadilan sosial kerap membungkam orang untuk diam terhadap nasib yang menimpanya, baik di lingkup keluarga maupun lingkup sosial yang lebih luas seperti lingkungan pekerjaan.

Hal yang juga menarik dalam buku ini adalah koneksi antara isu sosial dan religiusitas dalam kehidupan gereja Kristiani. Gereja kerap dianggap sebagai tempat yang sudah seharusnya memberikan rasa aman, nyaman, serta adil bagi jemaatnya. Namun ada kalanya lingkup gereja tak ada bedanya dengan kehidupan manusia yang masih sering diliputi hal-hal duniawi. Melalui puisi berjudul Hari Minggu Ramai Sekali ditunjukkan bahwa Tuhan selalu hadir dalam segala kebaikannya. Namun, manusia tak bisa lepas dari hasrat duniawi saat berhadapan dengan Tuhan. Hal itu dapat ditunjukkan melalui kutipan sajak berikut:

Hari minggu ramai sekali

Mereka membawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada

Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Puisi-puisi tentang religiusitas dalam buku ini juga menyiratkan bahwa gereja tak selalu bisa melihat persoalan sosial secara mendalam, bagaikan khotbah yang hanya menyinggung dosa-dosa yang biasa dilakukan oleh individu, tapi menutup mata pada persoalan yang struktural.

Gereja jadi kata yang dieja dengan mudah namun dilupakan dengan ludah.Tuhan disimpan dalam khotbah dan mantra-mantra disebut setan budaya. Saudara, bukan kita yang disalibkan, kita yang menyalibkan…Apa yang bisa kita sisakan pada anak-anak cucu di pintu gereja selain kotak sumbangan dan tata ibadah yang berbeda-beda merek kertasnya?… (Penggalan puisi Puisi Paksa Sebelum Paskah, h.22-23)

Penulis sendiri lahir dan besar di Maluku. Buku puisi ini terasa istimewa karena isinya mencerminkan perspektif dan keberanian penulis dalam mengungkapkan persoalan-persoalan sosial secara khusus di wilayah Papua dan Maluku. Sajak-sajak dalam buku kumpulan puisi ini lugas dan menyentuh akar persoalan yang hendak disampaikan. Isinya tidak meromantisasi hal-hal yang sebenarnya merupakan sebuah masalah. Justru penulis menggunakan puisi untuk menuangkan pemikiran kritisnya dalam melihat persoalan yang ada di sekitar tanah kelahirannya termasuk melalui sudut pandang religi. Eko Saputra Poceratu juga menulis puisi-puisi yang masuk dalam beberapa antologi, seperti Antologi Kita Dijajah Lagi (2018) dan Puisi Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2017-2018). Ia juga merupakan penulis Emerging di Makassar International Writer’s Festival (2018).

Penulis: Eko Saputra Poceratu
Penerbit: Penerbit Bentara Pustaka
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 78 halaman

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.