Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan

Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan

Cerita tentang manusia memiliki warnanya sendiri. Tidak hitam putih, tetapi ada
banyak warna dalam kisah-kisah tentang manusia dan segala persoalannya. Melalui
kumpulan cerpen ini pembaca akan semakin menyadari bahwa kompleksitas dalam
kehidupan manusia tidak bisa dinilai secara hitam-putih maupun benar-salah. Ada
beragam konteks yang menjadi latar belakang terjadinya suatu masalah. Dari kedua
belas cerita pendek dalam buku ini pembaca diajak untuk berempati, merefleksikan
nilai-nilai, dan mengkritisi ketidakadilan.

Perspektif kritis dan feminisme menjadi sudut pandang yang digunakan oleh penulis
dalam menuliskan cerita-cerita ini. Kumpulan cerpen ini dibuka oleh kisah tentang
tradisi kawin lari yang dilakukan oleh suku Sasak di Nusa Tenggara Barat. Beberapa
waktu setelah dilarikan oleh seorang pemuda, Sulin memutuskan untuk pulang. Sebab
pemuda itu ternyata telah beristri. Sulin memiliki prinsip bahwa perempuan tidak
menyakiti perempuan. Namun, kepulangannya itu malah menjadikannya sebagai
bahan gunjingan tetangga di desanya. Kepulangannya dianggap sebagai aib. Lewat
cerita ini ada kritik yang ingin disampaikan bahwa ketidakadilan dialami oleh
perempuan dalam tradisi yang berakar pada patriarki. Pemuda beristri melarikan
seorang gadis lain bukanlah sebuah masalah. Namun, saat seorang gadis memiliki
prinsip dan memegang kendali atas tubuhnya ia dianggap sebagai pembangkang
yang menyalahi aturan adat. Kondisi Sulin bagaikan orang yang sudah jatuh lalu
tertimpa tangga. Sulit menemukan ruang aman meskipun ia berada di komunitasnya
sendiri.

Sebagian cerita-cerita dalam buku ini memiliki latar belakang kehidupan masyarakat
Sasak di NTB yang juga merupakan provinsi asal dari penulis Riyani Rizki. Aturan
adat, cara hidup masyarakat, maupun kelas-kelas sosial yang ditampilkan melalui
penokohan dalam kumpulan cerita ini menambah konteks yang menghidupkan cerita.
Lewat buku ini pembaca juga akan memahami bahwa hal-hal mistis atau mitos masih
mewarnai kehidupan masyarakat khususnya di pedesaan. Hal itu pula yang sedikit
banyak memengaruhi pola pikir dan cara mengambil keputusan.

Dalam kehidupan masyarakat tradisional maupun modern masih ditemukan adanya
beberapa tokoh yang dihormati atau dijunjung oleh masyarakat. Namun, cukup
banyak di antara mereka merupakan seorang antagonis penyebab masalah. Misalnya
dalam cerpen Dendam yang Lapar, Tegining-Teganang, dan Suling Pemikat dan
Misteri Hilangnya Para Bocah. Cerpen-cerpen itu merupakan kritik terhadap
masyarakat di mana penghormatan terhadap seseorang dapat menciptakan bias.
Orang-orang cenderung tidak bisa melihat sisi buruk seorang tokoh karena terlalu
terpengaruh pada wibawa, rupa, dan hal-hal lain yang memanjakan mata.

Cerita lain yang juga menarik adalah May. Kisah tokoh May serupa dengan kisah
Medusa dalam mitologi Yunani. May seorang perempuan cantik yang menjadi korban
pelecehan seksual oleh atasannya di kantor. Alih-alih melindungi dan percaya pada
May, orang-orang di sekitarnya menyalahkan May. Dalam dunia nyata, korban
pelecehan seksual juga kerap mengalami kejadian seperti May apalagi jika pelaku
memiliki kekuasaan. Cerpen ini menegaskan bahwa relasi kuasa antara korban dan
pelaku menjadi faktor utama hukum sulit ditegakkan dalam kasus-kasus kekerasan
seksual.

Setelah dibuka dengan kisah tentang perempuan bernama Sulin, buku ini pun diakhiri
oleh cerpen tentang perempuan yang disebut Perawan. Perawan, Perawan, Turunkan
Rambutmu merupakan adaptasi dari dongeng barat Rapunzel, seorang gadis
berambut sangat panjang yang tinggal di atas menara tinggi. Dalam cerpen ini
Perawan adalah sosok perempuan yang memendam keinginan kuat untuk melihat
dunia luar. Cerpen ini menjadi salah satu cerpen yang menarik dalam buku ini.
Rambut Perawan dalam narasi ini dikonstruksikan sebagai alat untuk mencapai
kebebasan sekaligus melawan.

Secara keseluruhan buku yang berisi kumpulan cerpen ini memiliki perspektif segar
dalam memandang tradisionalitas masyarakat, relasi gender, dan kehidupan personal
seperti hubungan antar manusia keluarga maupun kematian. Beberapa ceritanya
terkesan menyimpan luka dan kisah-kisah tragis. Namun, dari situ buku ini
menyampaikan bahwa tidak ada yang tak mungkin dalam kehidupan ini. Banyak hal-hal yang tak kita ketahui bukan berarti tak pernah terjadi.

Penulis: Riyana Rizki
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: 2023 (cetakan ketiga)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.