NEO Gallery Hadirkan Pameran Seni Rupa ProGress
Pameran Bersama 10 Perupa dengan Berbagai Latar Belakang yang Berbeda.
Lahir dari sebuah ide pameran bersama, dari sekelompok anggota komunitas
penggemar seni rupa dengan latar belakang yang berbeda-beda, sungguh suguhan
pertunjukkan seni yang penuh warna. Seperti pameran yang digelar di Neo Gallery
berjudul Progress, yang dibuka pada 5 Juli 2025 dan akan berlangsung sampai 25
Juli 2025, terbuka secara gratis untuk umum.
Progress adalah sebuah pameran seni rupa yang menampilkan 67 karya dari
sepuluh perupa lintas generasi: Benny Raharjo, Chusin Setiadikara, Inda C.
Noerhadi, Iryanto Hadi, Joni Ramlan, P. Lanny Andriani, Siont Teja, Syakieb
Sungkar, Tommy F. Awuy, dan Widya Triyana.
Mengambil kata ‘ProGress’ yang artinya secara harfiah adalah ‘kemajuan’ atau
‘bergerak maju’. Maksud dari pameran ini adalah menyuarakan semangat untuk
mendukung gerak, perubahan, dan eksplorasi dalam praktik seni.
Bisa jadi progress juga menjadi langkah maju atau berkembang dari setiap seniman
yang berpartisipasi dalam pameran ini. Seperti Benny Oenardi Raharjo, seniman
kelahiran Solo yang menyajikan karya rupa maket dua setengah dimensi yang
menggambarkan rangkaian rumah kumuh yang oleh Benny, yang juga berlatar
belakang arsitek dan pengusaha property ini, disusun dari kepingan kardus, kayu
dan goni. Karyanya merefleksikan kepekaan sosial dan empati terhadap kehidupan
masyarakat kecil yang termarjinalkan.
Sementara itu, Chusin Setiadikara, pelukis kelahiran Bandung, 1949, menghadirkan
karya dari berbagai masa. Dari tahun 1990-an yang menampilkan gadis-gadis Bali
secara realis, dan anak-anak di desa hingga karya terbarunya yang bergaya abstrak
ekspresif dengan jajaran garis-garis kuas yang tegas dan spontan, membuat tatanan
garis dan lekukan dan harmonis.
Lain halnya dengan Inda C.Noerhadi, aktifis kebudayaan dengan dua gelar Doktor
Hukum dan Sejarah ini, yang juga mengelola Galeri Cemara 6 dan Museum Toety
Herati yang adalah ibundanya sendiri. Mengaku sudah lama tidak melukis, namun
dalam deretan karyanya menunjukkan kepiawaiannya melukis dengan ciri khas
goretan bentuk abstrak kubisme dengan warna-warna cerah menggambarkan
perenungannya yang mendalam.
Begitu pula dengan P. Lanny Andriani, pelukis senior lulusan ASRI ini memang
dikenal dengan ciri khasnya melukis obyek tanaman, perdu dan bunga tentunya.
Maka hadirlah kanvas-kanvas besar dengan berbagai bentuk bunga di dalamnya,
dengan kupu-kupu maupun gadis cantik. Agus Darmawan T. dalam tulisan
kuratorialnya menyatakan bahwa “Bunga tidak lagi direkam sebagai alam benda,
atau benda semesta, namun digunakan untuk menyampaikan isi hati. Bunga
baginya adalah medium ekspresi.”
Satu lagi yang menarik adalah karya-karya dari Joni Ramlan. Seniman asal
Surabaya mengangkat tema sepeda menjadi obyek sapuan kuasnya. Sepeda
sepertinya sangat lekat dalam hidupnya. Masa kecilnya yang tinggal dekat dengan
pabrik gula, sangat akrab dengan alur pesepeda keluar masuk pabrik. Hobinya pun
sering kali berkeliling ke sudut-sudut Kota Surabaya dengan sepedanya. Maka
sepeda menjadi fokus karyanya yang diabstraksi berbagai bentuk dan goresan cat
acrylic.
Siont Teja adalah seniman selanjutnya yang juga menyajikan karyanya yang unik.
Gambar potret yang realistis ini yang sudah sempurna, malah diberi coretan yang
untuk sebagian penikmat karyanya malah mengganggu. Tetapi disitulah nilai lebih
untuknya. Satu karya protret yang sempurna menjadi sesuatu yang biasa saja
untuknya. Potret seorang wanita cantik malah dberi coretan LOVE, potret seorang
gadis yang wajah dan rambut yang basah dberi coretan bertuliskan SWIMMING,
wajah seorang JOKER diberi coretan biru dengan lekukan sembarang. Saat
‘diganggu’ oleh coretan, lukisannya menjadi berbeda dan bernilai lebih.
Syakieb Sungkar adalah perupa yang mulai aktif berkarya sejak tahun 2020. Pria
lulusan ITB dan STF Driyakarya ini memasukkan tema-tema filosofis dalam
karyanya, namun dengan gambar yang dekoratif dan warna warni yang ceria. Lihat
saja karyanya dengan kanvas ukuran besar, melihatnya menjadi terhibur dalam
perenungan.
Tommy F. Awuy, sudah tidak asing lagi, ia adalah tokoh dalam dunia seni budaya.
Aktif di dunia teater, film bahkan filsafat, kini ia menetap di Bali, dan karyanya juga
bertema tentang kehidupan di Pulau Dewata. Mengambil sudut pandang dari jauh
dan ketinggian. Orang-orang yang sedang mengkuti Upacara Melasti, digambarkan
titik-titik hitam dari ketinggian, menyusuri lekuk – lekuk perbukitan dan pegunungan,
serta pantai, dengan warna-warna cerah yang memukau mata.
Salah satu perupa wanita yang paling muda diantara seniman yang berpameran,
Widya Triyana adalah pekerja kantoran dan instruktur Pilates yang menggemari seni
rupa. Namun kejutan terjadi saat ia berkarya. Dari guratan ranting-ranting
pepohonan, yang kering dan bertahan hidup di musim dingin, baginya adalah
pengorbanan dan penantian dari sebuah harapan dan jadinya 7 bingkai lukisan.
Ditambah satu spesial, tumpukan cat putih tak beraturan, menggunung dan
bertumpuk, menjadi bukit-bukit perjuangan, diujungnya diberi gambar pohon
beranting emas, dan diantara guratan tumpukan cat ada gambaran pesepeda kecilkecil yang berjuang menuju tujuan. Dua buah alat lukis menggantung dibawahnya.
Terakhir adalah Iryanto Hadi, dimulai dengan seni rupa sebagai hobi di waktu
luangnya. Dari koleksi dan belajar dari para seniman senior, ia kini melanglang
buana dari pameran ke pameran, dari dalam negeri dan luar negeri. Dari
Artmoments Jakarta hingga Venice Biennale.
Karyanya lahir dari gaya yang tak biasa. Ekperimennya dari cairan resin
menghasilkan lukisan dan patung yang unik. Ada lukisan yang kemudian dilapisi
resin, ada juga cairan resin yang diolah berulang membuat warna warni meriah dan
bentuk obyek tertentu seperti di permukaan kaca. Bias warna di lapisan resin seperti
aurora, maka angkasa luar jadi imajinasinya. Bulan dan astronot menjadi obyek
langganannya.
Melalui ProGress, galeri yang dekat dengan kawasan Cideng–Tanah Abang ini
membuka ruang dialog antara seniman dan publik tentang bagaimana proses kreatif
adalah perjalanan yang dinamis—menelusuri kemungkinan baru, menantang batas
lama, dan memaknai ulang pengalaman visual. Pameran ini dapat dikunjungi SeninMinggu, 10.00 – 17.00 WIB.






